Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

Jika kalian beranggapan Bayu Nugroho meninggal karena sakit, maka kalian salah. Bayu Nugroho tewas ditembak mati polisi tepat sehari setelah ia dibebaskan dari dakwaan penyelewengan dana. Bayu menyerang rekan bisnis yang pernah mengkhianati dan menjebaknya dengan 23 kali t*sukan di dada.


Rafka nyaris terjatuh saat Rafis melepaskan cengkraman di dasinya, lantas ke luar ruangan dengan santai. Tubuhnya bergetar saat kenangan penusukan sepuluh tahun silam terbersit lagi diingatannya. Saat Bayu Nugroho dengan membabi buta menik*m pengkhianat tersebut tepat di depan matanya.


Aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku.


Sebuah kalimat yang berulang-ulang Bayu katakan pada Rafka dengan mulut berlumur*n dar*h. Tepat sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya di tempat yang sama.


Rafka mencoba berdiri tegak. Namun, kakinya masih gemetar, hingga ia terduduk di sofa dengan sekujur tubuh terasa lemah.


***


Makin hari kondisi keuangan perusahaan Agya semakin mengkhawatirkan. Bahkan, bulan ini pembayaran gaji karyawan terpaksa ditunda. Ada sebagian karyawan yang memaklumi, tapi ada juga yang mengadakan mogok kerja. Kacau sekali.


Agya memijit pelipisnya karena lagi-lagi gagal menjalin relasi. Ia sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu Rafka yang bersikeras menjemput. Saat sebuah mobil sedan berwarna silver menepi, seorang pemuda gagah berjambang tipis keluar dan membukakan pintu untuk Agya.


Calon relasi yang akhirnya memilih menolak tawaran bisnis pihak Agya, menatap mereka dari kejauhan. "Apa hubungan mereka?"


"Oh! Itu calon menantu Pak Bastian."

__ADS_1


Kening sang calon relasi itu berkerut. "Calon menantu? Aneh sekali."


***


Sesampainya di rumah, Agya langsung dicecar pertanyaan dari Gio yang seperti memang sengaja menunggunya pulang.


"Tadi siang wedding organizer datang." Gio memulai. Sedangkan, Agya tampak tidak peduli. "Apa lagi sekarang? Kenapa tiba-tiba penikahan dipercepat? Kenapa nggak ada yang bilang sama gue?!" teriak Gio murka.


Agya menatap Gio dengan pandangan lemah, lalu mengusap pipi adik semata wayang itu. Kemudian, melangkahkan kakinya memasuki kamar.


"Kak Gya!" Gio menggedor pintu kamar Agya berkali-kali, tapi pintu itu tetap tertutup rapat. Hingga, mama memanggil pada malam harinya.


Tidak lama kemudian, Agya benar-benar keluar kamar, hingga menbuat Gio menatapnya tidak percaya.


Mama dan Agya malam ini tentu saja diantar oleh Rafka. Selama perjalanan, tidak banyak obrolan yang terjadi, selain mama yang menanyakan kelancaran usaha Rafka dan terus memujinya.


"Keren banget, kan, calon suami kamu Gie?" Mama berucap bangga dengan senyum lebar. Ia duduk di kursi belakang seorang diri. Sedangkan, Agya duduk di depan, samping Rafka.


"Ma?" Agya tiba-tiba bersuara tanpa menatap mama karena pandangannya masih tertuju ke luar jendela di samping kepalanya.

__ADS_1


"Iya, sayang?"


"Mama tau kalau Mas Rafka punya anak?"


Deg! Mama tampak melebarkan matanya, sedangkan Rafka sudah menginjak rem karena terkejut. Ia menatap Agya yang masih menatap ke luar jendela.


"Anak kamu ada berapa, Mas?" tanya Agya lemah. Kemudian, ia menoleh dan menatap Rafka sebelum melanjutkan, "Cewek apa cowok? Atau dua-duanya?"


"Kamu ngomong apa, sih, Gie?" Mama menyela tidak suka. "Mana mungkin Nak Rafka punya anak. Ngawur kamu!"


Rafka memajukan mobilnya lagi karena suara klakson berkali-kali dibunyikan mobil di belakang sana. Wajahnya tampak menegang.


"Iya, kan, Nak Rafka?"


"Nggak ... nggak punya Tante."


Agya diam saja. Ia hanya tersenyum lemah, menatap Rafka yang enggan menatapnya.


***

__ADS_1


__ADS_2