
Saat mama kembali ke rumah sakit, ia mendapati Agya sudah duduk di samping papa. Sejenak, mama menghentikan langkah kakinya, menatap sang putri sulung dari belakang.
"Kenapa datang?" Mama berjalan mendekat, lalu merangkul pundak Agya. "Harusnya calon pengantin banyak istirahat."
Jangankan tersenyum malu-malu, menoleh saja Agya enggan. Ia memilih terus membersihkan tubuh sang papa dengan handuk basah tanpa bicara. Namun, tiba-tiba matanya dibuat melebar saat melihat beberapa jemari tangan kiri papa bergerak pelan.
"Papa?" Agya berdiri, lantas menggenggam tangan papa dengan air mata yang entah sejak kapan menetes. "Ini Gya, Pa!"
Mama yang tidak menyadari pergerakan jemari sang suami dibuat bingung. "Ada apa, Gie?"
Belum sempat mama mendapatkan jawaban, papa telah membuka mata. Hingga, membuat kedua wanita itu menatapnya tidak percaya, lantas memeluknya dengan tangis pecah.
Tidak lama, karena Agya segera menegakkan tubuhnya lagi, lantas menekan tombol nurse call. Sehingga, beberapa perawat datang ke ruangan dengan cepat.
***
Betapa bersyukurnya mereka, saat papa dinyatakan telah melewati masa koma. Meski, kondisinya masih lemah.
Mama tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari papa. Sejak tadi, tidak terhitung berapa kali ia mengucapkan kata syukur.
"Alhamdulillah, Pa. Ternyata papa memang ingin melihat Agya menikah." Senyuman begitu hangat, mama ulas di bibirnya. Kemudian, melanjutkan, "Nak Rafka memang sebuah keberuntungan buat keluarga kita."
Ya, pada akhirnya mama memang memilih mempercayai Rafka. Ia dapat memaklumi alasan Rafka yang berjuang demi cinta. Meski, caranya kurang tepat.
__ADS_1
Agya tidak banyak bicara. Ia hanya duduk di samping sang papa dan menggenggam tangan sisi lainnya. Sedangkan, Gio berdiri di samping Agya. Adik semata wayang Agya itu hanya merangkul pundak Agya, mencoba menyalurkan semangat.
"Oh, iya!" Mama beranjak dari duduknya, lantas menyambar ponsel di atas meja. "Nak Rafka belum dikabarin," lanjutnya. Kemudian, melangkah keluar ruangan dengan menggenggam sebuah ponsel di tangannya.
Papa menoleh pada Agya, lalu menatap putrinya itu lama. Laki-laki berusia 50 tahunan itu, tampak ingin bicara. Namun, lidahnya terlalu kelu untuk digerakkan.
Cekatan, Gio mengeluarkan ponselnya, lantas mencari aplikasi note. Kemudian, mendekatkan benda persegi panjang tersebut ke arah papa, membuat Agya menoleh bingung.
Papa tersenyum tipis, lalu menggerakkan tangan kirinya ke arah layar ponsel karena bagian tubuhnya sebelah kanan masih sulit digerakkan. Pelan sekali, papa menggerakkan jemarinya untuk menyentuh huruf-huruf tertentu di keyboard ponsel Gio. Hingga, terciptalah sebuah kata "Jangan."
Papa kembali menatap Agya, lantas menggelengkan kepalanya lemah. "Jangan," ulang papa dengan gerak bibir tanpa suara.
Gio menatap cepat ke arah Agya, lalu dengan sok tahu berkata, "Kata papa jangan nikah sama Rafka, Kak!"
***
Malam harinya, Rafka datang berkunjung. Sebagai calon menantu yang baik, tentu ia tidak akan membuang-buang waktu untuk menujukkan perhatian. Ia tampak profesional memamerkan kebahagiaannya, hingga membuat Gio tidak tahan untuk tidak mendecih, lantas memilih keluar ruangan.
"Saya memang sangat yakin kalau Pak Bas pasti sadar dan menyaksikan langsung pernikahan kami besok," ujar Rafka yang langsung disambut mama dengan anggukkan dan senyum sumringah. Sedangkan, papa justru memilih memejamkan mata. Membuat mama merasa tidak enak hati pada Rafka.
"Kayaknya Papa masih capek, Nak Rafka," jelas mama cepat. Ia khawatir calon menantu tersayangnya itu tersinggung.
"Saya mengerti sekali, Bu. Pak Bas memang butuh istirahat yang banyak." Rafka beranjak dari duduknya. "Kalau begitu saya pamit dulu. Mudah-mudahan Pak Bas bisa menjadi wali nikah untuk Agya besok."
__ADS_1
"Semoga," balas mama senang. Kemudian, memandang papa yang tertidur dengan tatapan hangat.
***
Papa tidak tidur. Saat Rafka pulang, papa memanggil Gio agar mendekat. Sedangkan, mama dan Agya sedang makan di kantin.
Mereka kembali berkomunikasi dengan gerak bibir tanpa suara. Saat Gio tidak mengerti ucapan papa, ia akan mengeluarkan ponselnya lagi. Kemudian, meminta papa mengetik maksud ucapannya.
"Kak Gya nikah malam besok, Pa. Habis Isya," beritahu Gio.
Wajah papa tampak gusar. Entah kenapa ia tidak bahagia mendengar kabar ini.
"Pa?" Gio membuyarkan lamunan papa, lalu melanjutkan saat papa menatapnya. "Ada yang mau ketemu sama papa besok pagi."
***
Sabar, ya, sabaaaarrrr
Paling tinggal 5 bab lagi kok ini 😢
Yang ngeselin emaknya, kenapa aku yang dimarahin 😠*ndusel di pelukan Rafish
Oh, iya. Mulai hari ini, Berondong update setiap hari jam 9.30 WIB, ya. Dengan catatan, Jika tidak lupa.
__ADS_1
Wkwkwk