Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Sebelas


__ADS_3

Rafka memang tidak bercanda. Ia bahkan sudah menyampaikan keseriusannya pada Bastian dan Yulia, orang tua Gya.


"Gimana, Gi?" Bastian memulai. Selepas Magrib, ia memanggil Gya untuk membicarakan hal tersebut.


"Gimana apanya, Pa?" tanya Gya pura-pura bodoh.


"Papa yakin, Rafka udah ngomong sama kamu. Dia minta kepastian."


Gya merasa ditekan. Baru saja ia lolos dari tekanan menyelesaikan kuliah dan sekarang dapat tekanan baru lagi. Apa menjadi anak perempuan memang seberat itu?


"Tapi itu terserah kamu karena semua kamu yang menjalani," lanjut Bastian ketika Gya masih belum juga memberi jawaban.


"Tapi ... Gya kan belum kerja, Pa."


"Rafka bilang, dia nggak ngelarang kamu kerja habis nikah." Kali ini sang ibu ikut menimpali. Yulia bahkan menggeser duduknya agar tidak lagi bersandar di punggung kursi. "Nggak mudah dapat laki-laki kayak Rafka, Gi."


Oh, ada apa ini? Kalau memang semua terserah Gya, tapi kenapa harus ada embel-embel ini dan itu.


"Mama cuma mau yang terbaik buat kamu. Kamu itu perempuan, nggak selamanya bisa kerja dan hidup sendiri."


"Tapi, Gya masih muda, Ma."


"Perempuan cepat tuanya."


Skak mat! "Semua terserah padamu" itu cuma bulshit, kan?


Gya kembali ke kamar setelah akhirnya ia tidak membantah sepatah kata pun lagi karena ya ... percuma.


"Kalau nggak mau, nggak usah, Kak."


Gya yang sedang berjalan dengan kepala tertunduk menuju kamar, sontak menoleh dan mendapati Gio sedang bersender di pintu kamarnya. Ia menatap sang adik dengan tatapan hampir menangis. Entah mengapa dia jadi sedih begini.


"Ini hidup Kakak. Papa, mama yang mengarahkan, Kak Gya yang ambil keputusan."


Hati Gya menghangat. Bocah Kelas Sepuluh SMA ini benar-benar berhasil membuatnya merasa ada yang berpihak padanya. Gya berjalan mendekati Gio, lantas menyadarkan kepalanya di dada remaja jangkung itu. Kemudian, Gya memejamkan mata ketika Gio mengusap pelan rambutnya.


***


Lulus kuliah, bekerja, menikahi CEO dan keliling dunia, bukankah memang itu harapan Gya selama ini? Lantas kenapa disaat harapan itu hampir menjadi nyata, ia malah ragu?


"Gya!" Rafish berlari kecil, lalu berjalan mengimbangi langkah kaki Gya yang gontai. "Udah lulus, masih betah ngampus aja."


Gya mendelik tak suka. Suasa hatinya sedang tidak baik. "Kenapa? Emang aku nggak boleh datang ke kampus lagi?"


Rafish melongo. Ada yang tidak beres dengan Gya-nya. "Kamu kenapa?"


Gya tidak lagi menjawab. Ia berjalan cepat, meninggalkan Rafish yang tertinggal di belakang. Kenapa, sih, semua orang mengatur hidupnya?

__ADS_1


Rafish tidak mengerti. Ia hanya menatap Gya dari belakang sambil menggaruk kepalanya bingung. Namun, kemudian dikejarnya lagi gadis itu.


"Kamu ... mau cokelat?"


Langkah kaki Gya sontak terhenti, lalu ia mendelik tajam lagi ke arah Rafish. Persis ekspresi peran antagonis di sinetron-sinetron televisi.


"Nggak mau!"


Rafish mengangguk maklum. Ia memang tidak tahu caranya menghibur seorang wanita.


"Maunya es krim!" lanjut Gya ketus.


"Oke! Es krim." Rafish mengangkat jempolnya, lantas mengangguk tegas. Kemudian, ia meraih tangan Gya dan menggenggamnya menuju parkiran dengan senyum mengembang.


Sebenarnya, apa yang membuat Gya ragu? Benarkah karena usia muda, keinginannya untuk bekerja dulu atau ... karena Rafish?


"Emang uang jajan kamu masih ada?"


"Astaga! Kamu masih bahas uang jajan aja."


"Iyalah! Bisa diomelin Tante Diana aku kalau ngabisin uang jajan anaknya."


Tidak ada jawaban yang diberikan Rafish. Ia hanya terus melangkah menuju parkiran dengan tangan yang masih menggenggam tangan Gya. Dari kantin, seorang wanita berambut dora memperhatikan mereka dengan tatapan tak suka.


***


Arkana Rafka


Besok ke kampus, Dek?


Read


Gya mendengkus. Sebenarnya dia suka-suka saja dengan Rafka, tapi kenapa sekarang jadi hilang rasa?


Agya Sofia


19.23 PM


Nggak, Mas. Hari ini urusan kampus udah beres.


Read


Arkana Rafka


19.23


Hari ini kamu ke kampus? Kok nggak bilang-bilang sama Mas?

__ADS_1


Read


Astaga! Gya membenturkan pelan kepalanya ke meja rias. Kenapa di novel-novel cowok posesif itu uwu? Tapi di kehidupan nyata malah jadi menjengkelkan begini.


Agya Sofia


19.25 PM


Minggu depan ke kampus lagi, Mas. Gladi.


Read


Gya mengutuki dirinya sendiri yang keceplosan memberi laporan, lantas melempar ponselnya ke atas ranjang. Kemudian, ia memilih ikut mengubur dirinya ke dalam selimut. Tidur lebih baik.


Belum sempat niat mulia Gya terealisasi, terdengar suara ketukan di jendela, hingga membuat sang gadis menajamkan telinganya.


Tok! Tok! Tok!


Gya duduk dari pembaringannya dengan menahan napas. Apa ada hantu nyasar jam segini?


Gya jadi ingat dia belum Salat Isya. Mungkin itu sebabnya dia jadi diganggu hantu.


"Gya!" Terdengar suara mirip desisan yang menyebut namanya. Lutut Gya gemetar. Hantu itu bahkan tahu namanya.


"Gya! Buka jendelanya."


Kening Gya kali ini mengernyit. Ketimbang hantu, suara ini lebih mirip suara si ikan. Gya bangkit dan berjalan pelan menuju jendela. Kemudian, menempelkan telinganya di sana.


"Gya, buruan! Banyak nyamuk."


"Gilakkk!" Gya membuka jendela dengan emosi. Sepertinya, Rafish ini memang punya bakat membuatnya darah tinggi.


"Apa?!"


"Dih! Galak amat." Rafish menyembulkan kepalanya di jendela sambil nyengir. "Keluar, yuk!"


"Ogah!"


"Ayo, dong."


"Lagian kenapa nggak lewat depan aja, sih, Fis? Atau nelpon. Malah main hantu-hantuan gini." Gya tersungut-sungut.


"Sebentar aja, temenin aku."


Gya mengangkat dagunya. "Emang mau kemana? Emang aku mau dibeliin apa?"


Rafish terkekeh. Pujaan hatinya ini imut sekali.

__ADS_1


"Ke Rumah Sakit. Aku beliin apapun yag kamu mau."


Mata Gya melebar. Ia mendekatkan wajahnya ke jendela dengan khawatir. "Kamu sakit?"


__ADS_2