
Agya tidak tahu bagaimana caranya melewati malam ini karena dari tadi ia kesulitan tidur akibat detak jantungnya yang belum juga stabil. Ia juga jadi susah bergerak, takut pergerakannya menarik perhatian Rafis.
Mau berbaring pun ia susah karena Rafis terus saja memeluknya dari belakang. Eh, tunggu!
"Fis?"
"Hm?"
Agya tampak berpikir, lantas mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ada hal yang harus ia sepakati dulu bersama sang suami.
Agya memutar tubuhnya, menghadap Rafis, hingga pelukan pemuda itu terlepas. Kemudian, bicara dengan wajah serius. "Aku manggil apa? Nggak mungkin kan aku manggil kamu, Mas?"
Rafis tidak ingin bertanya "kenapa nggak mungkin" karena ia tahu jawabannya pasti bikin sakit hati sendiri. Jadi, ia memilih jawaban aman saja. "Di luar negeri nggak ada panggilan Mas, Bang, Kak. Sebut nama aja kayak biasa."
"Mana sopan!" cetus Agya. Bisa kena ceramah papa dan mama kalau dia sampai memanggil nama pada suami.
"Terus manggil apa? Sayang?" goda Rafis sembari memainkan rambut Agya.
Kali ini Agya yang tampak berpikir. "Mas Rafka manggil aku sayang."
__ADS_1
Mendengar jawaban Agya, wajah Rafis langsung berubah masam. Ia menghentikan pergerakan tangannya, lalu tersungut-sungut. "Ngapain dia manggil-manggil sayang sama istri orang?"
"Dulu kan dia tunangan aku," balas Agya polos yang berhasil membuat rasa kantuk Rafis hilang seketika.
Rafis menarik tubuhnya agar duduk, lantas bersandar di kepala ranjang dengan wajah cemberut. Diikuti oleh Agya yang menatapnya sambil cekikikan.
"Kenapa ketawa?"
"Nggak apa-apa." Meski mengatakan tidak apa-apa, tapi nyatanya Agya terus saja tertawa. Membuat kesal di hati Rafis seketika memudar dan akhirnya ikut tersenyum.
"Ketawa kenapa kamu, ha?" Rafis menangkap tangan Agya, lantas kembali memeluknya gemas. Membuat Agya tiba-tiba teringat dengan pertanyaan di benaknya tadi.
Agya segera melepaskan pelukan Rafis, lantas menatap pemuda itu penuh selidik. "Perasaan aku aja atau kamu emang terbiasa main peluk-cium?"
"Aku aja masih malu-malu, tapi kamu kok agresif banget?" Mata Agya menyipit. "Udah berapa banyak cewek yang udah kamu peluk-cium?"
"Uhuk! Malu-malu. Jadi makin gemes." Rafis menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Agya, lalu mencium bibirnya, sekali, dua kali, tiga kali.
"Rafis!" Agya mencoba melarikan diri, tapi Rafis keburu menarik tangannya. Kemudian, mendorong tubuh ramping itu, hingga berbaring di atas kasur dan menindihnya.
__ADS_1
"Kamu yang mulai." Suara Rafis terdengar serak saat ia memainkan telunjuknya pelan menelusuri pipi Agya. Kemudian, beralih ke hidung, bibir dan ....
"Oke, aku minta maaf!"
Mata Rafis terlihat sudah berkabut saat menatap Agya yang berbaring di bawahnya. Ia hanya tersenyum lemah, lantas menurunkan wajahnya ke arah leher Agya dan berbisik. "Terlambat, Gya-ku."
Awalnya, Agya mencoba mendorong dada Rafis agar suaminya itu berhenti menjelajah. Namun, lama-kelamaan dorongan itu semakin tidak bertenaga. Hingga akhirnya, perlahan Agya mulai menurunkan tangannya dari dada Rafis, lalu memejamkan matanya.
***
Hoakakakak
Ada yang bilang, mending langsung nyebur ketimbang nanggung. Tapi aku lebih suka menepi kayak gini aja. Nyelupin kaki di air, nggak mau nyebur 😂
Ini benar-benar akan jadi bab terakhir, ya. Terima kasih sudah menemani selama ini. Akhirnya, setelah lebih satu tahun, Novel Terjerat Cinta Berondong tamat juga di 12 Februari 2022.
Jangan lupa kenalan sama Bang Nevan yang nggak kalah uwu di Rahasia Sang Mantan 😉
***
__ADS_1
Mampir juga ke novel temanku ya ... Jangan lupa tinggalkan jejak di sana.