Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Tujuh Belas


__ADS_3

Sebagai seorang wanita, memang salah jika Gya memilih pendamping hidup yang terbaik dari berbagai sisi? Siapapun tahu, jika Rafka jauh lebih baik dibanding Rafish. Namun, ada satu hal yang belum dimiliki Rafka yaitu hatinya.


Jika Rafka belum memiliki hatinya, lantas apa itu berarti permilik hatinya adalah Rafish? Belum tentu.


"Arghhhhh!" Gya menendang selimutnya seperti orang kesetanan. Sepagi ini batinnya sudah berperang, mengganggu kedamaiannya. Lingkaran hitam bahkan tampak di bawah mata Gya, menandakan jika tidurnya tidak nyenyak semalam.


"Kenapa, sih, Kak?" Gio yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya muncul dengan tampang panik plus kesal.


"Nggak apa-apa," balas Gya ketus. Kemudian, ia menggeser tubuhnya, turun dari tempat tidur untuk beranjak ke kamar mandi. Namun, niatnya itu terusik oleh celetukan Gio.


"Ngerasa laris banget sampai pusing sendiri."


Gya membalik kasar tubuhnya, lalu mendelik tajam pada adik semata wayang. Kemudian, dengan kecepatan super melempar bantal ke arah pintu. Namun, Gya belum beruntung karena sang adik dengan cekatan menutup pintu sambil terbahak kencang.


Napas Gya tampak tersengal. Kurang tidur membuat emosinya gampang terpancing.


Merasa situasi sudah aman, Gya akan melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Namun, pintu kamar kembali terbuka.


"Tanya hati kamu. Nggak usah pusing-pusing. Bye!"


Gya mendelik lagi. Ia menggigit kuat bibir bawahnya menatap Gio yang menyebalkannya minta ampun pagi ini.

__ADS_1


"Apa? Omonganku bener, kan?"


"Nggak usah ngasih pendapat, Bocil!"


Kali ini Gio yang melebarkan matanya tidak terima. Sepertinya pemuda pecinta warna hitam itu punya banyak waktu senggang untuk meladeni Gya pagi ini.


"Tinggian gue ya dari pada Kakak!" semburnya tidak terima.


Gya yang sedang malas meladeni saingan bebuyutannya itu hanya mendengkus. Lagi-lagi ia ingin beranjak menuju kamar mandi saat Gio kembali bersuara.


"Ngomong-ngomong soal bocil. Bocil kesayangan Kakak lagi ngamuk-ngamuk tuh di luar."


***


Ucapan Gio tersebut berhasil membuat Gya berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan tergesa. Ia bergegas menuju pintu depan, lantas membukanya dan ... tidak ada apa-apa.


Gya mengatur napasnya saat sadar telah dibodohi Gio. Kali ini ia tidak akan sungkan-sungkan membuat Gio babak belur. Namun, niatnya terlupakan saat mendengar suara Rafish sedikit meninggi di seberang sana.


"Anda tidak paham-paham juga? Saya tidak bersedia menerimanya!"


Gya memajukan kakinya selangkah ke luar rumah dan mengintip ke rumah sebelah. Di sana ada Rafish yang sudah memakai jaket kulit berwarna hitam dengan menenteng helm di tangannya. Pemuda itu tampak sedang menatap dingin seorang pria berkacama dengan setelan pakaian rapi yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Pria asing yang belum pernah Gya lihat sebelumnya itu tampak mengatakan sesuatu pada Rafish. Namun, Gya tidak bisa mendengar ucapannya. Sedangkan, Rafish yang memilih tidak peduli, justru memutar tubuhnya. Kemudian, melangkah mendekati sepeda motor yang terparkir di depan garasi.


Laki-laki berkacamata itu tidak tinggal diam. Ia masih mencoba menghalangi kepergian Rafish dengan memegang pundak pemuda jangkung tersebut. Sepertinya ada hal yang masih ingin ia sampaikan.


Kali ini nada suara pria berkacamata itu terdengar cukup tinggi saat berkata, "Tapi sudah jadi kewajiban saya untuk memastikan semuanya kembali pada Anda. Sesuai dengan ...."


Rafish menyingkirkan tangan pria itu dari pundaknya dengan kasar. Kemudian, berbalik dan mencengkram kuat kerah baju pria tersebut dengan mata berkilat marah, sebelum pria itu berhasil menyelesaikan ucapannya.


"Berapa kali aku harus bilang padamu?!"


Gya yang terkejut melihat kejadian itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Seorang Rafish yang ia kenal selama ini tidak akan pernah bersikap sekasar itu.


Gya menggelengkan kepalanya cepat, lalu melangkahkan kakinya mendekat. Rafish yang menyadari kehadiran Gya langsung melepaskan cengkeramannya, hingga membuat pria tadi terhuyung. Kemudian, tanpa menunggu kedatangan Gya ia sudah memakai helm dan memacu sepeda motornya pergi dari sana.


"Rafish!" Gya mencoba mengampiri Rafish, tapi terlambat. "Rafish!"


Sepeda motor yang dikendarai Rafish sudah berhasil melaju kencang membelah jalanan kompleks. Untuk pertama kalinya, Rafish mengabaikan panggilan seorang Agya Sofia.


***


Tipis-tipis muncul lagi 🤣

__ADS_1


__ADS_2