Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Sebelum Azan Subuh, Gya sudah mandi dan bersiap-siap. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan menyiapkan diri untuk merayakan wisuda dari rumah sakit.


Usai Salat Subuh, Gya sudah tampak sibuk merias sendiri wajahnya dengan make-up sederhana. Pakaian yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari masih tergantung di dekat lemari.


Papa yang terbaring di ranjang dari tadi hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Sang Putri. Sesekali air matanya menetes, tapi buru-buru susah payah ia hapus agar tidak melemahkan hati Gya.


Riasan sederhana di wajah akhirnya selesai Gya pulas berkat bantuan cermin kamar mandi. Sekarang tinggal berganti pakaian dan merapikan rambut saja.


Ia keluar kamar mandi untuk mengambil pakaiannya yang tergantung di samping lemari. Kemudian, melempar senyum saat pandangannya dan papa beradu. Senyum yang entah menyiratkan kekuatan atau justru keputus asaan.


Selagi Gya berganti pakaian di kamar mandi, rupanya mama telah tiba. Ia sudah duduk di samping ranjang papa dengan wajah sembab.


Gya melangkah keluar kamar mandi dengan enggan. Kejadian tadi malam masih melukai hatinya. Namun, hari baik tidak boleh dirusak oleh egonya. Maka, ia mendekati mama dan papa untuk meminta doa.


Mama tampak terdiam. Namun, kemudian bahunya bergetar pelan. Tangis kembali pecah saat wanita paruh baya itu menarik Gya dalam pelukannya.


"Maafin Mama, ya, Nak. Maaf."


Gya juga tidak bisa menahan tangisnya. Meski konsekuensinya, riasan di wajahnya akan berantakan, ia tidak peduli.


"Doain Gya, ya, Ma."


Mama melonggarkan pelukannya. Menghapus pelan air mata Gya dengan tisu. "Pasti, Sayang."


Gya beranjak menatap papa. Meraih tangannya, lantas mengecupnya khidmat. "Doain Gya, Pa."


Papa tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan bibir bergetar menahan tangis. Kemudian, mengusap puncak kepala Gya dengan sebelah tangannya yang masih bisa ia gerakkan.

__ADS_1


Gya menghela napasnya dalam, lantas mengulas senyum. Kemudian, berdiri dan meraih tasnya untuk beranjak pergi dari sana dengan perasaan tegar.


"Gya pamit, Pa, Ma."


Mama mengangguk, lalu ikut berdiri untuk mengantar kepergian Sang Putri, hingga ke depan pintu pagi ini. Harusnya, pagi ini mereka sekeluarga pergi bersama. Harusnya, pagi ini mereka merayakan hari kelulusan Gya dengan suka cita. Harusnya ....


"Semoga harimu berjalan lancar Agya Sofia." Mama mengusap pelan pipi Gya, lalu melanjutkan, "Rafka ada di depan. Dia yang akan mengantar kamu hari ini."


Percayalah, retakan semalam belum benar-benar utuh kembali dan saat ini sakitnya bertambah parah. Namun, Gya hanya meneguk ludahnya susah payah untuk berkata, "Iya, Ma."


***


Jakarta Convention Center sudah disesaki oleh 1.733 calon wisudawan dari D3 hingga S3 saat Gya datang. Ia keluar dari mobil sedan berwarna silver dengan toga yang sudah dipakai apik di kepalanya.


"Sampai jumpa nanti, ya," ucap Rafka saat Gya ingin menutup pintu yang dibalas gadis itu dengan senyum tipis dan sebuah anggukan.


Citra yang datang jauh lebih pagi, langsung melambaikan tangan saat menyadari kehadiran Gya. Wanita berpipi chubby itu tampak bersemangat sekali.


"Cantik, Cit."


Citra mengulum senyum malu-malu saat mendengar pujian Gya tersebut. Sebenarnya, ia tahu bagaimana suasana hati Gya saat ini. "Kuat, ya, Gie. Loe pasti bisa ngelewatin ini semua."


Gya hanya menatap sang sahabat lekat, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian, mereka mulai tampak serius saat Pewara mulai membuka acara dan Senat Universitas memasuki ruangan.


Suasana terasa khidmat dan haru saat Lagu kebangsaan digaungkan. Disusul oleh Mars dan hymne Universitas Gunadarma.


Sebagai salah satu lulusan terbaik, Gya tidak perlu menunggu lama saat namanya dipanggil. Namun, bedanya tidak ada yang mendampinginya saat ini. Ia hanya berdiri seorang diri saat yang lainnya didampingi oleh orang-orang tercinta mereka.

__ADS_1


Air mata Gya kembali menetes saat pemindahan tali toga. Kemudian, dengan susah payah mengulas senyum untuk membalas ucapan selamat dari Rektor.


Semua prosesi berhasil dilalui dengan lancar, hingga sore hari. Teman-teman yang melaksanakan perayaan wisuda hari ini saling memberi selamat. Wajah mereka tampak sembringah, meski lelah juga sudah mulai menghinggapi.


Rafka juga bergegas menghampiri Gya dengan sebuket bunga besar saat gadis itu keluar gedung. Mudah membaur adalah salah satu keahliannya.


"Selamat, Agya Sofia." Rafka menyerahkan buket bunga mawar pink pada Gya yang langsung disambut sorakan menggoda dari teman lainnya.


"Langsung lamar aja, Pak," goda mereka.


"Nanti keburu diambil orang."


"Nggak enak jadi pengangguran, Gie. Lebih enak jadi istri."


Kemudian, sorakan kedua kembali diteriakan, membuat semua orang tertawa bahagia. Sedangkan, yang digoda hanya mengulas senyum canggung.


Citra yang tahu perasaan Gya, kali ini tidak ikut menggoda. Ia melangkah mendekati Gya dan diam-diam menggenggam tangan sang sahabat.


"Terserah Gya saja. Kalau saya tentu maunya begitu." Rafka menyahuti godaan teman-teman Gya, hingga semuanya kembali bersorak.


"Terima, dong, Gie. Terima!"


Gya menarik napasnya dalam-dalam. Dadanya kembali terasa sesak dan kepalanya mulai pening. Ia harus segera keluar dari situasi ini.


"Balik aja, yuk, Gie." Citra berbisik saat Gya tampak mengalihkan pandangannya, mencoba menulikan telinga demi mencari ketenangan. Namun, bukannya ketenangan yang ia dapatkan, Gya justru beradu pandang dengan seorang pemuda beralis tebal. Anak tetangga yang belakangan membuatnya bingung sendiri.


Rafish tengah menatapnya tanpa berkedip dari jauh. Jauh dari keramaian dan jauh dari dirinya.

__ADS_1


Cukup lama Gya memaku pandang pada Rafish. Terlalu nyaman, hingga seseorang menyenggol pelan lengannya. Tanpa mengalihkan pandang, Gya berkata, "Aku ... menerimamu ... Mas Rafka."


__ADS_2