
"Halo. Nyonya Muhammad Rafisqy Arzan di sini."
Rafis yang sedang menyetir langsung menoleh pada Agya. Kemudian, terbatuk dan tertawa geli.
Agya yang fokus pada panggilan di ponselnya hanya mendelik sebentar. Namun, sayangnya ia tetap tidak mendengar jawaban apapun dari si penelpon. Hingga akhirnya, Agya menatap layar ponsel yang rupanya sudah memamerkan wallpaper gambar gitar.
"Putus," gumam Agya. Kemudian, mengangkat wajahnya, menatap Rafis. "Poni dora sering nelpon kamu?"
"Ha?"
Buaya kalau ngeles memang begitu. Ha hi hu kayak nggak punya telinga. Agya yang sudah hafal betul, memilih menarik napasnya panjang dan melemparkan pelan ponsel Rafis ke dashboard.
"Dengar, ya, Suami." Agya meletakkan tangannya ke pundak Rafis, lalu memainkan jemarinya di sana, hingga membuat Rafis berjenggit geli. Tidak sampai di situ, ia bahkan mencodongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Rafis dengan penuh penekanan, "Aku itu posesif. Jadi ... hati-hati."
Rafis yang masih membagi fokus antara Agya dan jalanan, nyatanya masih memiliki respons yang bagus. Ia dengan santai menahan pinggang ramping Agya dengan sebelah tangan agar wanita itu tetap menempel padanya, hingga membuat Agya gelagapan. Sedangkan, sebelah tangan yang masih lihai mengendalikan kemudi tampak dengan cekatan berbelok, hingga mobil menepi dengan sempurna.
Sepertinya, Agya menyadari kesalahannya. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, waspada.
"Dengar, ya, Istri." Rafis membuka sabuk pengamannya dengan santai, lantas mendekatkan tubuhnya ke arah Agya. Kemudian, melanjutkan ucapannya saat Agya kembali menatapnya. Wajah mereka dekat sekali.
"Aku itu mudah kepancing. Jadi ... " Rafis seperti sengaja menjeda ucapannya. Ia justru memilih mendekatkan bibirnya ke telinga Agya dan berbisik, "Ayo kita pulang."
Sebuah balas dendam yang berhasil membuat bulu kuduk Agya meremang. Hingga, ia meneguk ludahnya pelan.
"Hehe. Aku bercanda." Agya mendorong dada Rafis, mencoba menjauhkan dirinya, hingga terpojok ke jendela. Kemudian, menggelengkan kepalanya saat Rafis tersenyum miring.
__ADS_1
"Atau ... di mobil saja?" tanya Rafis masih dengan tersenyum miring.
***
Ada rencana yang harus ditunda akibat keisengannya dan Agya belajar banyak tentang itu. Kini mereka ada di sebuah kamar besar dengan sedikit funiture. Sebuah kamar tanpa foto dan hiasan dinding. Sederhana sekali.
"Sudah bangun?" Ranjang bergerak pelan saat Rafis menggeser tubuhnya dan memeluk Agya dari belakang. Suara pemuda itu terdengar serak saat mengucapkan pertanyaan tersebut tepat di telinga Agya. Agya sampai heran, kenapa Rafis suka sekali berbisik di telinga.
"Aku nggak tidur," balas Agya. Kemudian, memainkan jemari Rafis yang memeluk pinggangnya. Jemari yang belum disematkan sebuah cincin pun.
"Fis?"
"Hm?"
Agya memutar tubuhnya, menghadap Rafis. Kemudian, memainkan rambut pemuda yang masih memejamkan mata itu. "Kamu bisa nyiapin baju pernikahan kita, tapi kenapa nggak nyiapin cincin?"
"Bukannya emang harus?"
"Nggak wajib."
Agya menghentikan permainan jarinya di rambut Rafis. Kemudian, mendecak. "Bilang aja biar cewek-cewek nggak tau kalau kamu udah nikah!"
Ucapan Agya tersebut membuat Rafis terkekeh. "Kalau kamu mau, ayo kita buat."
"Bukan itu masalahnya!" Agya menarik tubuhnya untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. "Aku cuma mau tau alasannya."
__ADS_1
Rafis ikut menarik tubuhnya dan duduk di samping Agya. Ia menarik tangan wanita itu, lantas menggenggamnya. "Kamu mau tau, kenapa aku bisa menyiapkan baju pernikahan kita, tapi nggak untuk cincin?"
Agya menganggukkan kepalanya.
"Jawabannya ... karena aku nggak mau." Saat menjawab pertanyaan itu tatapan Rafis terlihat menerawang, hingga membuat Agya menatapnya hati-hati.
"Kenapa?"
Untuk menjawab pertanyaan ini, Rafis terdiam cukup lama. Ia memandang lurus ke depan, lalu perlahan mulai tersenyum tipis.
"Aku pernah melihat seseorang melepaskan cincin pernikahannya dan berkata 'setelah ini hubungan kita selesai'." Rafis tertawa hambar, lalu melanjutkan. "Apa hubungan hanya sebatas cincin saja? Setelah cincin terlepas dari jarinya, lalu semuanya selesai?"
Rafis mengangkat jari telunjuknya. Menunjuk tepat ke arah lemari. "Cincin itu masih tersimpan di sana." Kemudian, ia menolehkan kepalanya, menatap Agya. "Aku nggak begitu suka kenangan."
Agya sudah tahu kemana muaranya. Jadi, ia menghentikan Rafis agar tidak melanjutkan ceritanya dan memeluk pemuda itu erat.
"Ada aku di sini."
***
Jika Laudia bikin novel baru, loh. Mampir juga di SUPERBIA, ya. Jangan lupa di subcribe dulu ❤
Kepoin ini yukkk~
__ADS_1