Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Enam Belas


__ADS_3

Setelah kepergian Rafka, Gya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu tampak mengetikkan sesuatu. Tidak lama, Rafish melakukan hal yang sama. Ia memeriksa ponselnya dan rupanya Gya mengirim pesan padanya.


Agya Sofia


Bisa bicara sebentar?


10.11 Wib


Rafish tidak mengetikkan pesan balasan. Ia hanya memutar tubuhnya pelan, lantas menghilang dari beranda lantai dua. Tidak lama, pintu depan kediaman Rafish terbuka dan pemuda berwajah rupawan itu muncul dari sana dengan langkah santai. Kedua tangannya menyusup ke dalam saku celana dengan sorot mata yang menatap Gya dengan pandangan tidak terbaca.


Perlahan ia melangkahkan kaki mendekati Gya yang masih berdiri di dekat pagar pembatas rumah mereka. "Bicara di sini?"


"Di sini saja," balas Gya pelan. Ia tampak ragu sejenak, tapi semua memang harus segera diputuskan.


Ia tidak ingin serakah seperti yang Silvia tuduhkan padanya. Ia tidak ingin melukai hati siapapun. Meski ia tahu, Rafish hampir tidak pernah serius. Namun, Gya tahu pasti jika Rafish tidak pernah main-main dengan hatinya.


"Mas Rafka ... berniat melamarku."


Rafish tidak tampak terkejut. Tatapannya masih terlihat tidak terbaca. Namun, perlahan ia menundukkan pandangannya. Sesekali kakinya bergoyang untuk menendang pelan ujung-ujung rumput hias di bawah sana.


"Jawabannya dua minggu lagi," lanjut Gya hati-hati.


Rafish masih tidak bereaksi. Pemuda beralis tebal itu hanya tampak menggaruk alisnya dengan telunjuk. "Lalu?"

__ADS_1


"Ada yang ingin aku pastikan."


Kali ini Rafish mengangkat pandangannya, menatap Gya yang mendadak tercekat. "Apa?"


"Kamu ... serius dengan perasaanmu padaku?"


Pemuda yang hari ini hemat bicara itu tidak langsung menjawab. Namun, tatapannya berubah tajam dan dingin saat berkata, "Aku nggak pernah bercanda untuk masalah itu."


Ada sisi lain yang baru Gya ketahui dari seorang Rafish. Sisi yang selama ini belum pernah ia tunjukkan.


"Wajar kalau kamu ragu. Hidupku memang tidak meyakinkan."


"Rafish?"


Kening Gya berkerut.


"Aku udah mencoba menceritakan semuanya."


Gya semakin tidak mengerti. Kapan? Ia sudah ingin bertanya, tapi Rafish keburu menyela.


"Ada lagi yang mau kamu sampaikan?" Nada suara Rafish terdengar kurang menyenangkan, hingga membuat Gya mengurungkan niatnya.


Perhatian Gya tiba-tiba teralihkan pada penampilan Rafish. Ia baru menyadari jika pemuda yang bersikap dingin padanya itu berpenampilan sangat rapi.

__ADS_1


Kemeja lengan panjang berwarna navy yang dipadukan dengan celana chino berwarna beige membuat Rafish terlihat lebih dewasa. Bahkan, jaket kulit rupanya sudah tersampir di atas sepeda motor yang terparkir di halaman.


"Kamu mau pergi?" tanya Gya setelah melirik sepeda motor sport tersebut.


"Kalau nggak ada yang mau kamu bicarakan lagi, aku pergi." Tanpa menunggu jawaban Gya, Rafish memutar tubuhnya. Kemudian, melangkah mendekati sepeda motor, lantas meraih jaket kulit berwarna hitam tersebut dan memakainya.


Entah kenapa melihat perlakuan dingin Rafish tersebut membuat Gya merasa tidak senang. Ia menatap punggung Rafish tajam, lalu dengan sedikit kesal berkata, "Aku cuma mau bilang, mulai sekarang kita nggak usah ketemu lagi!"


Napas Gya tampak memburu setelah mengucapkan kalimat tersebut. Matanya masih setia menatap punggung Rafish. Ia penasaran dengan respons berondongnya tersebut.


Meski Rafish belum membalikkan tubuhnya, tapi pergerakan pemuda itu saat memakai jaket terlihat melambat. Jelas sekali jika ucapan Gya mengganggunya.


"Oke," jawab Rafish singkat setelah menarik resleting jaket. Tanpa menoleh, Rafish menyanggupi permintaan Gya, hingga membuat gadis di balik pagar tersebut membelalakkan matanya.


Belum usai dengan rasa terkejutnya, Gya semakin dibuat tidak habis pikir saat melihat Rafish memakai helm dan menaiki sepeda motornya. Kemudian, meluncur ke luar perkarangan rumah dengan kecepatan tidak sopan. Ia bahkan tidak menoleh pada Gya sekali pun.


Pemuda cengengesan itu sekarang sudah tidak lagi terlihat, menghilang di tikungan jalan kompleks. Hanya tersisa suara raungan sepeda motornya yang terdengar semakin menjauh.


Gya masih terpaku di balik pagar. Bibirnya terkatup rapat dengan mata yang masih memandang sisa-sisa kepergian Rafish, hingga ke ujung jalan. Ada sudut hatinya yang terasa perih. Ada protes hebat yang tercipta di benaknya, "Kenapa Rafish tidak menolak permintaannya?"


***


Update tipis-tipis aja, yaw 🤭

__ADS_1


__ADS_2