Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

"Aku takut, Fis."


Rafka menatap sepasang manusia di hadapannya dengan rahang mengeras. Ia melangkah cepat mendekati mereka dan meninggalkan mama yang menatapnya was-was. Namun, langkah penuh emosional itu terhenti saat Rafis mengangkat wajah dan menatapnya tajam.


Tatapan itu ... tatapan mengintimidasi khas Bayu Nugroho. Tanpa sadar Rafka menghentikan langkah kakinya dan membeku.


Bahkan, saat Rafis merangkul Agya dan membimbingnya memasuki rumah, Rafka tetap diam mematung. Ia menundukkan pandangannya, lantas membalikkan tubuhnya dengan kasar. Kemudian, pergi dari sana, mengabaikan panggilan mama yang khawatir.


***


Rafis tahu, bukan istirahat yang diinginkan Agya. Namun, ia tetap harus berhasil membuat Agya beristirahat senejak agar gadis tercintanya itu tidak ikut tumbang.


"Tidur setengah jam. Aku janji akan ngantar kamu lagi ke rumah sakit." Rafis menuntun Agya agar berbaring di tempat tidur. Kemudian, duduk di samping gadis itu dan mengusap pelan rambutnya.


"Papa begitu gara-gara aku, Fis." Cairan hangat lagi-lagi mengalir dari matanya. Tidak sekali ia menyalahkan dirinya sendiri. "Aku ngelawan papa. Aku nyalahin papa."


Mau tidak mau Rafis ikut merebahkan dirinya, lalu kembali memeluk Agya. Ia tidak bicara apapun, selain menepuk pelan punggung Agya dan menunggu gadis itu selesai dengan tangisnya.


Saat tangis itu kian pecah, saat itu pula Agya semakin menenggelamkan wajahnya ke dada Rafis. Menumpahkan segala ketakutan dan kerisauannya hingga lelah.


Benar saja, akhirnya Agya tertidur dalam pelukan Rafis setelah hampir satu jam menangis. Rafis menarik tangannya pelan, lantas keluar kamar dengan hati-hati.


Rupanya, mama sudah menunggu di ruang tengah dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tampak sinis saat melihat Rafis berjalan mendekatinya.


"Nggak punya etika!" hardik mama. Namun, Rafis tetap memasang tampang hormat.


"Saya pamit dulu Tante." Meski tahu tidak akan diterima, tapi Rafis tetap mengulurkan tangannya, hendak salaman.


"Kamu tau, kan? Gya itu udah punya tunangan! Pelukan, berduaan di kamar. Kemana etika kamu?"


Rafis menarik tangannya lagi, lalu tersenyum. Ia sudah hendak pergi, tapi mama kembali bicara.

__ADS_1


"Emang kamu mikir apa, sih? Mikir buat nikahin Gya? Mikir bisa ngalahin Rafka? Kamu itu anak kecil, Rafis." Mama tertawa mengejek, lalu melanjutkan, "Gya cuma nganggap kamu kayak Gio. Nggak lebih!"


Kali ini raut wajah Rafis tampak terganggu. Namun, sebisa mungkin ia tidak kehilangan sikap hormatnya. "Saya pamit dulu, Tante."


Setelah berpamitan, Rafis langsung pergi meninggalkan mama yang masih saja terdengar menggerutu. Tepat di depan pintu rumah Agya, ia memeriksa ponselnya, lantas pergi meluncur membelah jalanan dengan sepeda motornya.


***


Tidak disangka, Agya tertidur hingga sore hari. Tampaknya gadis itu benar-benar kelelahan secara fisik dan mental. Ia menarik tubuhnya agar duduk dan memilih bersandar sejenak di kepala ranjang saat kepalanya terasa pening.


Saat hendak meraih ponsel di atas nakas untuk memeriksa jam, pandangannya menangkap secarik kertas yang dihimpit ponselnya. Ia berubah pikiran dan beralih meraih kertas bergaris tersebut. Kemudian, membaca tulisannya.


Maaf nggak menepati janji. Kamu butuh tidur. Makan dulu, ya, baru balik ke rumah sakit.


Agya baru ingat, jika tadi ia di kamar ini bersama Rafis dan ... menangis di pelukan berondong itu. Agya langsung menutup mulutnya sendiri yang ternganga, lantas melompat turun dari tempat tidur.


"Baru bangun?"


Saat Agya menuruni tangga, ia dikejutkan oleh suara mama yang rupanya sedang duduk di meja makan. Wanita dewasa itu berdiri dan menatap Agya dengan pandangan lemah. "Cepat makan. Habis itu kita ke rumah sakit. Kasian Nak Rafka kelamaan nungguin papa kamu. Mama siap-siap dulu."


Akhirnya, kedua wanita kesayangan Bastian itu kembali lagi ke rumah sakit. Keduanya, sama-sama tampak dirundung sedih, hingga tidak ada percakapan apapun yang terjadi selama di perjalanan.


"Assalamualaikum."


Bola mata Agya tampak melebar saat mendapati sosok Rafis sedang duduk bersama Gio di sofa. Tubuhnya membatu di ambang pintu, hingga mama menatapnya bingung. Kemudian, ikut terkejut saat melihat sosok yang sama.


"Walaikumsalam." Rafis berdiri. Ia meraih jaket kulit yang tersampir di sandaran sofa, lantas berjalan mendekati Gya dengan sebuah plastik putih di tangannya.


"Pasti belum makan." Rafis menyodorkan plastik berisi dua box makanan tersebut pada Agya dan saat Agya menerimanya, ia kembali melanjutkan, "Makan bareng Tante."


Agya masih tergugu. Ia masih bingung dengan situasi ini. Terlebih setelah insiden memalukan pagi tadi.

__ADS_1


"Pamit dulu, Tante."


Kali ini mama menerima uluran tangan Rafis dan membiarkan anak tetangganya itu mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah kepergian Rafis, belum ada yang berbicara. Agya memilih meletakkan plastik tadi ke atas meja, sedangkan mama memilih mendekati papa.


"Nak Rafka mana?" Tiba-tiba mama bicara. Ia menolehkan kepalanya pada Gio yang masih duduk di sofa dengan mata pandanya.


"Lah? Nggak ada balik ke sini lagi habis nganterin mama sama Kak Gya pulang."


"Pasti gara-gara anak itu." Mama mendekat, lalu duduk di samping Gio. Sedangkan, Gya hanya diam mendengarkan.


"Lagian kok bisa sih dia ke rumah tadi pagi?" Mama tampak masih begitu kesal. "Pasti gara-gara dia ada di sini juga, makanya Nak Rafka nggak balik."


"Gio yang ngasih tau, Ma! Gio juga yang nyuruh Rafis tadi pagi ke rumah," balas Gio sedikit kesal.


Mama menatap Gio marah. "Ngapain kamu nyuruh bocah itu ke rumah? Jelas-jelas ada Nak Rafka."


Kali ini Gio tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia berdiri dan menatap mama kecewa. "Mama nggak liat Kak Gya?! Mama nggak liat dari tadi malam anak mama itu udah kayak mayat hidup?"


Napas Gio tampak memburu. Namun, kali ini ia berusaha mengendalikan emosinya.


"Nggak cuma papa yang butuh dikhawatirin, tapi Kak Gya juga!" tutup Gio dengan setetes air mata yang lolos jatuh ke pipinya. Kemudian, beranjak pergi dari sana. Ia benar-benar merasa tidak berguna.


***


Yeay! Bab kali ini panjang, kan?


*yang pada nanya kabar, alhamdulillah aku sehat dan baik-baik saja. Maaf nggak bisa balas satu persatu soalnya yang komen ada ribuan *ditampol online 😂😂*

__ADS_1


makasih buat perhatiannya ❤


*stel lagu Judika - judulnya rahasia


__ADS_2