
Bagaimana ceritanya, seorang anak kecil mampu membuat Gya menangis semalaman? Bukannya tidur dan istirahat, Gya justru menghabiskan sepanjang malam dengan air mata.
Hatinya terasa perih. Seolah ada bagian dari hatinya yang tertanam cukup lama dan kini dicabut paksa.
Rafish benar, dia belum cukup dewasa dan mungkin itu juga yang membuat Gya ragu. Atau ...
Gya menatap ponselnya sambil berbaring. Air matanya masih menetes saat ia membuka kembali email yang Rafish kirimkan sebagai hadiah keberhasilan sidang skripsinya.
***
"Kamu yakin mau gantiin papa?" Mama meletakkan sepiring nasi goreng di depan Gya, lantas ikut duduk di sampingnya. "Kenapa nggak kerja di tempat Rafka aja? Biar usaha papa, dia yang handle."
Gya mengulurkan tangannya meraih sendok. Kemudian, memaksa mulutnya untuk mengunyah nasi goreng. Ia butuh makan. Ia butuh tenaga.
"Itu Rafka udah datang. Cepat makannya." Lagi-lagi mama bicara. Kemudian, beranjak untuk menyambut calon menantu kebanggaan.
Terdengar mereka mengobrol cukup asik sembari menunggu Gya keluar. Di halaman, papa sedang berjemur di atas kursi roda. Katanya, sinar matahari pagi baik untuk peredaran darah.
"Sudah, Dek?" Rafka berdiri menyambut Gya. Meski sudah melarang, tapi Rafka bersikeras untuk tetap mengantar. Idaman! Harusnya.
Setelah pamit pada papa dan mama, mereka langsung bergegas ke tempat kerja masing-masing. Terlebih dahulu, Rafka akan mengantar Gya.
Ini hari pertama Gya menggantikan posisi papa. Sadar dirinya tidak punya pengalaman, pasti hari-hari yang akan dilaluinya setelah ini tidaklah mudah.
Ia sudah mencoba mengawalinya sebaik mungkin. Mulai dari cara berpenampilan, hingga mencari tahu identitas para karyawan.
"Dek?"
__ADS_1
Lamunan Gya terganggu. Ia menolehkan kepalanya pada Rafka yang memanggil namanya.
"Mas lebih suka ngeliat rambut kamu diurai." Rafka tersenyum lembut, lalu melanjutkan, "Lepas ikatannya, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Rafka sudah menarik ikat rambut Gya dengan tangan yang bebas dari kemudi.
"Nah! Mas lebih suka kamu yang begini."
***
Benar saja, Gya belum berbuat apapun, tapi komentar-komentar remeh sudah ia dengar sejak pagi.
"Itu yang gantiin Pak Bas?"
"Baru lulus katanya."
"Universitas mana? Luar negeri?"
"Nggak tau deh perusahaan ini bisa bertahan berapa lama kalau dipimpin dia."
"Kita ngegantungin hidup di sini. Aku nggak akan sanggup kalau usaha ini sampai hancur."
Gya mencoba menulikan telinganya sepanjang hari. Mencoba mengumbar senyum, meski hatinya terasa sakit. Mencoba bersikap seolah semuanya baik-baik saja. "Kamu udah dewasa, Gie. Kamu pasti bisa."
"Permisi, Bu." Seorang karyawan laki-laki bertubuh gempal masuk kedalam ruangan dengan membawa beberapa map. Dari informasi yang telah Gya cari, sosok laki-laki itu adalah manajer keuangan.
"Ini laporan keuangan terakhir, Bu." Laki-laki itu menyodorkan salah satu map, setelah Gya mempersilakannya duduk. "Harusnya Ibu yang minta, tapi karena ibu nggak minta, saya yang kasih deh. Hehe."
__ADS_1
Ucapannya sarat unsur meremehkan, tapi Gya pura-pura tidak menyadarinya. Ia meraih map tersebut dan menelaahnya.
"Gawat, kan, Bu? Profit perusahaan menurun dan beberapa investor menarik investasi mereka. Nggak bisa terus dibiarin kalau begini."
Gya mengangkat wajahnya, menatap Manajer Keuangan bernama Roni itu dengan tajam.
"Anda boleh keluar. Akan saya pelajari dulu."
Wajah Roni langsung berubah masam. Meski mengikuti perintah Gya, tapi gerutuan masih terdengar keluar dari bibirnya.
***
"Mas nelpon kamu dari tadi, loh, Dek."
Itu adalah kalimat pertama yang Rafka semburkan saat Gya mengangkat teleponnya.
"Lagi repot, Mas. Maklum hari pertama."
"Kan Mas udah bilang, bakalan repot. Kamu nggak akan bisa ngehandle."
Kening Gya langsung berkerut. Ada raut tidak suka di wajahnya mendengar pernyataan Rafka tersebut.
"Biar Mas kirim orang buat gantiin Pak Bas. Kamu nggak usah khawatir."
"Aku bisa, Mas."
Terdengar Rafka menghela napasnya. Tampaknya pria itu sedang mengontrol emosinya. Namun, kemudian ia mengalah. "Ya, sudah. Kalau kamu nggak sanggup, kabarin Mas, ya."
__ADS_1
Gya memutuskan sambungan tanpa salam. Ia melempar ponselnya ke atas meja. Tiba-tiba, ia merasa tidak percaya diri. Tiba-tiba, ia merasa tidak berguna. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu ...
Dulu ... selalu ada Rafish yang menguatkannya.