Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Tiga


__ADS_3

Pagi-pagi, Gya sudah nongkrong saja di parkiran kampus. Tenang, dia bukan sedang tebar pesona sama para mahasiswa atau dosen-dosen muda, tapi mau mengejar dosen pembimbing killer.


"Selamat pagi, Bu!" Gya muncul dan langsung membuat Erni, dosen pembimbing kesayangan, yang baru saja membuka pintu mobil terlonjak kaget.


"Apa-apaan kamu?" sentaknya garang.


"Mau bimbingan, Bu," jawab Gya polos.


Erni mendelik tajam. Lipstik merahnya begitu menyala, membuat Gya kadang salah fokus.


"Jaga sopan santun kamu, ya! Saya bahkan belum sempat napas."


"Ya, udah, Bu. Napas dulu, saya tungguin."


Gila! Gya cari mati! Mungkin karena sudah kepalang lelah dan nyaris putus asa, membuat urat waras Gya putus juga.


Bimbingan skripsi hampir dua semester rasanya cukup menjadi alasan Gya muak. Apalagi penyebabnya bukan karena data yang salah atau kurang, tapi karena Sang Dosen yang sulit sekali ditemui. Terkadang keluar kota, terkadang sibuk, terkadang bodo amat.


Argh!


Saking sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, Gya sampai tidak sadar jika Erni sedang melotot tak suka padanya. Beruntung seseorang datang dan mengalihkan perhatian wanita nyentrik itu.


"Selamat pagi, Bu!" Dan, seseorang itu adalah ... Muhammad Rafish, si berondong penuh pesona.


Rafish melangkah mendekat, lantas mencium tangan Erni dan sukses membuat Erni tersenyum manis sekali. Gya yang melihat pemandangan itu langsung bergidik ngeri.


"Kenalin, Bu. Saya Muhammad Rafish. Mahasiswa baru."


Lagi-lagi Erni tersenyum dan membuat Gya kembali kaget bukan main.

__ADS_1


"Jurusan apa?"


"Manajemen keuangan, kelas A, Bu."


"Wah! Kelas saya pagi ini."


Gya memasang ekspresi datar memperhatikan percakapan basa-basi di depannya. Padahal dia yang sudah menunggu sejak subuh, tapi kenapa masih saja harus menunggu obrolan ini berakhir?


"Nah! Mahasiswa itu kayak gini. Bukan main slonong boy aja. Semua ada aturannya."


Astaga. Itu barusan dia disindir?


Gya menunduk. Dia memang salah. "Maaf, Bu. Itu karena saya terlalu senang bisa ngeliat ibu."


"Emangnya saya barang langka!"


Gya menunduk lagi. Namun, tidak lama karena suara kikikan Rafish membuatnya mengangkat kembali wajahnya.


Hah?


Erni ikut menoleh. Keningnya berkerut karena ia juga bingung.


"Jarang-jarang, loh, Kak, Dosen ngajarin etitut private begini."


Dih! Apaan nih anak?


Erni mengangguk. Sekarang dia paham. "Iya, anak muda itu nggak cuma harus pintar, tapi juga cerdas dan beretika. Saya itu nggak marah loh sama kamu, cuma supaya kamu ngerti aja membaca waktu."


Gya melongo.

__ADS_1


"Masih ada waktu setengah jam lagi, Bu. Ibu bimbing aja dulu kakak ini, biar tasnya saya bawakan ke kelas."


Rafish dengan sopan meraih tas dan beberapa buku yang dibawa Erni dan ajaibnya Dosen super sibuk itu menoleh pada Gya dan meyuruhnya untuk datang ke ruangannya.


Gya menganggukkan kepalanya berkali-kali, meski pandangannya masih linglung. Gila banget ya pesona si brondong.


...****************...


"Gimana?"


Astaga! Gya melompat mundur sembari memegang dadanya. Jadi, begini rasanya dikejutkan.


"Apanya?"


"Bimbingannya."


"Oh." Gya mengulum senyum, lantas ikut duduk di samping Rafish. Rupanya pemuda itu menunggunya di depan ruangan dosen. "Katanya bimbingan sekali lagi ACC."


Senyum sumringah tidak henti-hentinya terulas di bibir Gya. Maski belum ACC, tapi baginya itu sudah menjadi angin super segar.


"Bisa dong?"


"Bisa kayaknya."


"Apanya?"


Gya menoleh. "Wisuda tahun ini."


Rafish menggeleng, lalu berdiri dan mengusap lembut puncak kepala Gya. "Bisa dong kita nikah tahun ini."

__ADS_1


Gya melotot, lalu hendak memukul Rafish dengan skripsinya mentahnya. Namun, si berondong sudah kabur duluan sambil cekikikan.


"IKAN GILA!"


__ADS_2