Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Gya tidak menyangka, hanya masalah pesan tidak dibalas saja bisa membuat Rafka marah besar. Sepanjang perjalanan menuju kantor, Gya merasa seperti sedang diintrogasi.


"Aku kan udah jelasin, Mas."


"Setelah itu harusnya kamu masih bisa ngecek hp, kan?"


Gya memilih bungkam. Ia tidak ingin memperburuk suasana hatinya sepagi ini.


"Biasain kalau berbuat salah itu minta maaf, bukan banyak alasan."


Gya menolehkan kepalanya cepat, menatap Rafka tidak percaya. Ini kah sosok dewasa yang selama ini ia kagumi? Atau sebenarnya, ini sifat asli Rafka?


"Mas kayak gini karena sayang sama kamu, Dek." Rafka yang menyadari Gya memasang raut kesal, langsung memberi pembelaan. Ia menarik tangan Gya, lantas menggenggamnya. "Kalau Mas nggak sayang, nggak mungkin Mas peduli."


Gya menundukkan kepalanya. Benar kata Rafka, memang dia yang egois. "Maaf, Mas. Mungkin aku belum terbiasa aja."


Rafka tersenyum lembut, lalu mengangguk. "Kita mulai pelan-pelan, ya?"


Kali ini ia yang mengangguk. Selama ini, ia memang hanya fokus pada pekerjaannya. Fokus pada dirinya sendiri dan tanpa sadar mengabaikan Rafka. Padahal tidak ada yang memaksanya. Hubungan yang terjalin antara dirinya dan Rafka murni keputusannya sendiri.


"Oh, iya. Mas nggak suka liat cewek pake lipstik warna merah." Rafka menarik tisu dari dasbor mobil, lalu memberikannya pada Gya. "Kamu bawa warna lipstik lain? Atau mau mampir dulu buat beli?"


Sejenak Gya tampak terperangah. Namun, ia raih juga tisu tersebut. Kemudian, menghapus lipstik merah cabe dari bibirnya. "Nggak usah, Mas. Aku bawa, kok."

__ADS_1


***


"Bu Niken." Gya keluar dari ruangan, lalu berjalan menghampiri sekretarisnya. "Laporan yang saya minta sudah selesai?"


"Maaf Bu, belum siap. Saya lagi repot, anak saya sakit."


Gya tampak merapatkan bibirnya. Laporan yang ia maksud, sudah dua hari yang lalu ia minta. Namun begitu, ia tetap mencoba sabar.


"Tolong selesaikan sore ini ya, Bu. Saya tunggu." Setelah mengintruksikan hal itu, Gya langsung kembali ke ruangannya. Meski, begitu sayup-sayup protes masih bisa ia dengar.


"Nggak ada toleransinya banget, sih. Udah dibilang anak gue lagi sakit."


"Beda banget sama Pak Bas, ya, Mbak."


"Banget!"


Kemudian, terdengar suara map yang dibanting ke meja. Gya menutup pintu ruangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Ia menutup rapat kedua matanya, mencoba mengatur napas.


Bisa saja ia berbalik dan memaki karyawan-karyawan yang menggunjing dirinya. Bahkan, ia punya hak untuk membuat mereka kehilangan pekerjaan. Tapi, kata papa lebih baik mencoba memperbaiki yang ada karena yang baru belum tentu lebih berguna.


Lagi pula selama ini mereka bisa baik-baik saja bekerja dengan papa. Mungkin, Gya memang butuh waktu untuk bisa diterima dan dipercaya.


***

__ADS_1


Seperti biasa, pulang kantor, Gya selalu dijemput Rafka. Sesibuk-sibuknya pria itu, tapi ia selalu menyempatkan waktu untuk mengantarkan Gya pulang.


Kadang, Gya merasa tidak enak karena ia tahu, Rafka tidak memiliki banyak waktu luang. Apalagi hanya untuk menjadi sopir pribadinya.


"Lain kali, aku berangkat kerja sendiri aja, Mas."


"Kenapa?" Rafka menolehkan kepalanya menatap Gya yang duduk di sampingnya.


"Nggak enak, ngerepotin Mas terus. Lagian sayang mobil papa nggak ada yang make."


Rafka mengulum senyum, lalu menarik tangan Gya dan menggenggamnya. "Mas nggak ngerasa repot, kok. Lagian cuma kayak gini kita bisa barduaan."


Ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Gya saat mendengar ucapan Rafka tersebut. Selama ini mereka memang belum pernah menghabiskan waktu berdua.


"Weekend kita jalan, yuk, Mas."


Rafka yang sudah terlihat fokus pada jalan, kembali menatap Gya dengan sorot mata cerah. "Kamu serius?"


Gya mengulum senyum, lantas menganggukkan kepalanya. Membuat Rafka melebarkan senyumnya. Kemudian, menggenggam tangan Gya lagi.


Laju mobil semakin melambat karena kendaraan mulai padat. Mereka tidak lagi mengobrol karena Rafka fokus dengan kemudinya, sedangkan Gya mulai menyandarkan kepalanya ke sandaran jok, mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Ia sedang menikmati lagu Runtuh milik Feby Putri yang berkolaborasi dengan Fiersa Besari saat kaca spion menangkap sosok yang sangat familiar untuknya. Sosok yang juga terjebak macet sore ini sedang mengendarai sepeda motor sport.

__ADS_1


Kaca helm yang terbuka membuat wajah pengemudi sepeda motor sport itu terlihat jelas. Jantung Gya berdetak aneh saat sosok itu tersenyum manis. Bukan untuknya ... tapi untuk wanita berkulit eksotis yang duduk di belakangnya sambil bercanda.


Ternyata, Rafish baik-baik saja. Syukurlah!


__ADS_2