
Oh! Suasana hati macam apa ini? Semalam Gya susah tidur dan pagi ini mood-nya masih saja buruk. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena adegan cium pipi. Hih!
"Kak!"
Astagfirullah! Gya terlonjak bukan main. Wajahnya bahkan basah oleh cipratan air yang muncrat dari dalam mug yang digenggamannya. Ia menoleh horor pada si pelaku, Gio. Siapa lagi?
"Apa?!"
"Dih! Sewot. Ada Mas Rafka, tuh."
Wajah horor Gya seketika berubah memelas. "Kamu bilang, Kakak ada di rumah."
"Iya, dong. Mana bisa aku bohong," balas Gio enteng, lantas langsung memutar tubuhnya dan ngeluyur begitu saja meninggalkan Gya di pantry.
Gya mengusap wajahnya yang basah dengan telapak tangan, lalu berjalan menuju ruang tamu dengan langkah terpaksa. Terserah, deh, dengan penampilannya saat ini.
"Hai, Dek!" Rafka menyapa Gya sumringah. Ia berdiri dari duduknya, lantas melanjutkan, "Kamu belum mandi?"
Gya tertegun. Ternyata penampilannya memang seberantakan itu. Cepat-cepat ia menyisir rambut dengan jemarinya sendiri. Kemudian, duduk dengan cengiran ala kadarnya.
"Hari ini kamu sibuk nggak, Dek?"
"Kenapa, Mas?"
"Temenin mas ke party relasi, yuk!"
Gya sudah membuka mulut siap menolak. Namun, kemudian ia pikir-pikir lagi jika kesempatan ini bisa jadi peluang baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Minimal, menambah pengalaman.
"Kapan, Mas?"
__ADS_1
"Nanti sore. Biar pulangnya nggak kemaleman."
***
Gya memakai long dress berwarna hitam dengan lengan terbuka. Rambutnya sengaja ia biarkan tergerai dan disampirkan ke pundak sebelah kanan.
Ada anting kecil berbentuk mutiara yang menambah kesan mewah pada diri Gya. Ditambah dengan high heels berwarna silver yang membuatnya begitu tampak sempurna. Setidaknya, begitulah bagi Rafka. Sampai-sampai pemuda itu seolah lupa caranya berkedip.
"Berlebihan nggak, Mas?"
"Enggak, kok." Rafka terdiam sejenak, lalu melanjutkan nyaris bergumam, "Cantik."
"Mama yang pilihin bajunya," tambah Gya, lalu melirik ke arah jendela. Ia yakin, ibu dan ayahnya pasti sedang mengintip di sana.
Setelah tidak lama berbasa-basi, akhirnya Rafka menjalankan perannya bak tokoh utama. Ia menyodorkan lengannya pada Gya. Kemudian, berjalan mendekati mobil dan membukakan pintu untuk gadisnya.
Meski merasa canggung, tapi Gya tetap menurutinya. Terlalu banyak hati yang harus ia jaga sampai ia lupa ada hati yang pasti terluka, Rafish. Pemuda itu tengah menyaksikan semuanya dari beranda lantai dua.
***
Gya mengedarkan pandangannya lagi. Jarang-jarang kan dia hadir pada acara seperti ini. Kadang, Sang Ayah memang mengajaknya, tapi tidak pernah pada pesta se-wah ini.
"Selamat sore, Pak Salman!" Gya melihat Rafka berjabat tangan dengan begitu akrab pada beberapa orang yang hadir lebih dulu. Jika Gya perhatikan, relasi Rafka banyak juga. Ia cukup mudah bergaul dan membaur.
"Ah! Iya. Perkenalkan, ini Gya."
Tibalah giliran Gya diperkenalkan dan Gya mencoba mengimbangi Rafka dengan cukup baik.
"Wah! Pak Rafka pandai memilih calon, ya," seloroh seorang dari mereka, hingga membuat Gya tersipu. Sedangkan, Rafka sudah lebih dulu tersenyum dan melirik pada Gya.
__ADS_1
Gya tidak begitu kesulitan membaur dengan mereka. Beberapa topik yang mereka bahas, cukup Gya pahami. Kemampuan berkomunikasi Gya juga cukup mumpuni, hingga membuat Rafka semakin menginginkannya.
Gya memilih menepi sebentar, sekadar untuk mencari minuman, tapi suara seseorang mengubah segalanya.
"Wah! Udah cocok banget kamu jadi Nyonya General Manager."
Gya menoleh cepat dan tampak sedikit terkejut ketika mendapati perempuan berambut dora ada di sana. Tatapan Gya tampak terganggu saat Silvia berjalan mendekati dengan dua gelas minuman di tangan. Kemudian, menyodorkan salah satu gelas itu padanya. Mau tidak mau Gya menerimanya.
"Kamu di sini juga?"
Silvia tersenyum miring, lalu meminum minumannya dengan gaya anggun. "Kenapa? Kamu ketangkap basah, ya?"
Kening Gya berkerut. Entah mengapa, sejak awal dia memang tidak begitu suka pada teman wanita Rafish itu.
"Jangan terlalu serakah, lah, jadi cewek," lanjut Silvia penuh cibiran.
Wajah Gya memerah. Ia menggenggam gelasnya dengan begitu kuat. Andai dia sedang tidak menjaga nama baik Rafka, mungkin isi gelas di tangannya sudah berpindah ke wajah Silvia.
"Sana-sini, oke," serang Silvia lagi.
Gya menghela napasnya pelan. Mencoba menjernihkan pikiran.
"Bukan salahku, kan, kalau aku begitu menarik di mata laki-laki?" Gya meminum minumannya sedikit, lalu melanjutkan setelah memberikan gelasnya kembali pada Silvia. "Kalau kamu mau tau triknya, mungkin akan aku ajari sedikit."
Ia menarik sebelah ujung bibirnya, lalu pergi dari sana. Kelihatannya saja Gya tenang, padahal dadanya sudah bergemuruh hebat. Air matanya perlahan menetes seiring dengan langkah kakinya yang kian cepat.
Hatinya begitu terluka dengan ucapan Silvia barusan. Apa benar ia serakah? Apa benar ia semurah itu?
Apa ... ini saatnya ia harus berhenti bermain dengan Rafish?
__ADS_1
***
Aku hadir di sini lagi 🤠Jangan lupa like dan komennya 😉 intip-intip "Rahasia Sang Mantan" juga kuy.