
Setelah ucapan Rafish tadi, Gya menjadi tidak tenang. Entah sejak kapan ia peduli dengan pandangan dan ucapan Rafish, tapi kali ini hatinya benar-benar jadi tidak karuan.
Sepertinya ... Silvia benar. Ia memang serakah.
"Kak?" Mama melongokkan kepalanya setelah pintu kamar terbuka, membuat Gya yang berdiri di dekat jendela, menoleh.
"Ayo! Papa sama Mama mau ngomong sebentar," lanjut mama. Entah kenapa perasaan Gya jadi makin tidak karuan.
"Mama tunggu di luar, ya." Mama menarik daun pintu, lantas pergi dari sana. Meninggalkan Gya yang masih saja terjebak dalam keresahannya.
Lama Gya terdiam, menatap daun pintu yang kini telah tertutup rapat. Ia menghela napasnya dalam, lalu mengikuti langkah mama ke luar kamar.
***
Benar kata mama, di ruang tengah sudah ada Papa dan Mama yang duduk di sofa. Jelas sekali, jika mereka memang sedang sengaja menunggu Gya. Nampaknya, akan ada pembicaraan serius. Membuat Gya menghentikan langkah kakinya menuruni anak tangga sejenak, lantas tersenyum pahit.
"Nah! Ini anaknya." Papa tersenyum lebar, menyambut kedatangan Gya yang langsung memilih duduk di sofa tunggal di hadapan mereka. Membuat Gya semakin merasa sendiri dan dihakimi.
"Nggak kerasa, ya, anak gadis Papa udah dewasa aja," celetuk papa. Senyum manis masih belum hengkang dari bibirnya.
Mama ikut tersenyum. "Udah diminta orang aja, ya, Pa."
Papa menoleh pada mama, lalu mengangguk. Sedangkan, Gya memilih diam dengan kepala tertunduk.
"Jadi, gimana jawaban kamu, Gie?"
Kali ini Gya pelan-pelan mengangkat wajahnya. Menatap wajah mama dan papa hati-hati. "Gya boleh memutuskan sendiri, kan?"
"Ya, boleh," balas Papa semangat. "Papa yakin, putri Papa tau yang terbaik."
Ada sebersit harap dibinar mata Gya. Ia merasa sedikit lebih tenang sekarang. "Gya ... masih belum siap, Pa."
Ruangan mendadak hening. Belum ada respons yang diberikan orang tua Gya, hingga membuat Gya kembali menundukkan kepala.
"Kamu tau, kan? Kesempatan nggak datang dua kali." Suara papa kembali terdengar.
Hilang sudah rasa tenang tadi. Gya kembali merasa tercekik.
"Papa nggak akan maksa kamu, tapi kamu juga harus ingat ... Papa dan mama udah tua." Papa menjeda ucapannya sejenak, lalu melanjutkan, " Belum tentu kami bisa menunggu kamu."
Air mata Gya menetes. Meluncur begitu saja dari pelupuk matanya dan jatuh membasahi punggung tangan yang tergenggam di atas pangkuan.
"Apa kurangnya Rafka bagi kamu, Gie?" Mama ikut menimpali. "Jangan sampai kamu menyesal setelah melepas dia."
Papa menatap mama, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian, menatap Gya lagi.
"Rafka meminta kepastian dua Minggu lagi." Papa menghela napasnya pelan, lalu melanjutkan, "Sekali lagi Papa bilang, semua keputusan ada padamu. Gya sudah dewasa, pasti tau yang terbaik."
Selama pembicaraan itu Gya tidak lagi bersuara karena ya ... percuma.
__ADS_1
***
Gya memasuki kamarnya dengan langkah gontai, lantas membiarkan tubuhnya ambruk di atas tempat tidur. Ia membungkukkan tubuhnya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Kemudian, memejamkan mata.
Benar kata mama, apa kurangnya Rafka?
Benar kata mama, bagaimana kalau nanti ia ditinggalkan dan menyesal?
Benar juga kata papa, kesempatan nggak datang dua kali.
Lalu ... Bagaimana kata Gya? Apa ada yang pernah bertanya?
***
Harusnya ini tidak terlalu sulit untuk Gya. Rafish bahkan sudah meminta Gya untuk menolaknya. Harusnya ini mudah, karena Rafka dan Rafish jelas sekali perbedaannya. Harusnya ini mudah ... harusnya.
"Kak?" Lagi-lagi Gio datang tiba-tiba. Namun, kali ini intonasi suaranya tidak terlalu mengejutkan. "Ada Mas Rafka. Mau dibilang, kakak nggak ada di rumah?"
Gya mengerutkan keningnya, lalu bangkit dan mengusap puncak kepala Gio susah payah. "Nggak usah," jawabnya sambil lalu.
Gio hanya memandang sang kakak dengan pandangan prihatin. Bukannya ia tidak tahu dengan kecamuk hati Gya.
"Dari tadi, Mas?" Gya meletakkan secangkir teh manis yang baru dibuatnya di atas meja. Kemudian, memilih duduk di seberang Rafka.
"Baru, Dek." Rafka mengulas senyum. Senyum yang dulu bisa membuat hati Gya kebat-kebit. "Ganggu, ya?"
"Pengangguran kayak aku gimana ceritanya bisa ganggu?" balas Gya mencoba tersenyum.
Gya sempat terperangah. Namun, kemudian ia menundukkan kepala. Ia masih tidak mengerti dengan perasaannya.
"Mas?"
"Iya?"
Gya kembali mengangkat wajahnya, menatap sosok Rafka yang masih menatapnya dengan hangat. "Aku udah dengar dari papa."
"Oh, masalah jawaban kamu?" Rafka tertawa kecil. "Mas terkesan buru-buru banget, ya?"
Gya menggeleng. "Semua emang butuh kepastian kan, Mas?"
Rafka mengangguk. "Hubungan tanpa kepastian ujung-ujungnya sakit hati." Ia menjeda ucapannya, lalu melanjutkan, "Lagian Mas takut kehilangan kamu."
Jantung Gya terasa sedikit menghangat. Ia merasa begitu diperlakukan berharga.
"Mas juga minta maaf karena langsung meminta kamu pada orang tuamu."
Gya menggelengkan kepalanya pelan. "Emang begitu seharusnya."
"Nggak usah merasa terbebani, ya, Dek. Mas akan nerima jawaban kamu dengan ikhlas, tapi tolong kasih Mas kesempatan."
__ADS_1
Gya tertegun. Ia merasa begitu malu dan ragu. Lama mereka sama-sama terdiam, hingga akhirnya Gya memberanikan diri untuk bicara.
"Mas?"
"Hm?"
Tampak ragu sejenak, Gya akhirnya melanjutkan, "Menunggu dua minggu itu datang, boleh nggak kita jangan ketemu dulu."
Rafka mengerutkan keningnya, tampak bingung. "Kenapa?"
"Aku cuma butuh waktu sendiri."
Rafka masih menatap Gya. "Kamu ragu?"
"Aku nggak meragukan Mas Rafka. Aku cuma sedang meragukan diriku sendiri."
Lagi-lagi mereka terdiam. Dua minggu tidak bertemu Gya tentu membuat Rafka tidak rela.
"Tapi Mas justru ingin semakin meyakinkan kamu dua Minggu ini. Terus gimana caranya kalau kita nggak ketemu?"
"Bukankah sesuatu yang ditakdirkan untukmu tidak akan melewatkanmu?" Gya mengangkat wajahnya, lalu tersenyum. "Kasih aku kesempatan untuk bertanya langsung pada Agya Sofia."
Meski masih tampak ragu, tapi Rafka tetap mengangguk menyanggupi. "Boleh Mas, minta sesuatu juga?"
"Apa?"
"Jangan temui anak tetangga itu juga."
Kedua alis Gya bertaut. "Rafish?"
Rafka menganggukkan kepalanya. "Mas cuma nggak mau kamu semakin goyah karena dia."
Mata Gya tampak sedikit melebar. Laki-laki di depannya ini bisa baca pikiran?
"Ya, sudah. Mas pamit dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Gya ikut bangkit untuk mengantar kepergian Rafka.
"Sampai jumpa dua minggu lagi." Rafka memutar tubuhnya, menghadap Gya. Tatapannya masih saja hangat, meski mungkin saja Gya telah melukai hatinya. "Semoga jawabanmu adalah aamiinku."
Kali ini Gya tidak menjawab. Tidak pula mengangguk. Ia hanya sedang mempertanyakan dirinya sendiri. Sebenarnya Agya Sofia itu siapa? Sampai-sampai berani meragukan seorang Arkana Rafka Sang General Manager hotel bintang lima yang wibawanya tidak diragukan lagi.
Kalau hanya untuk membahagiakan dirinya, rasanya itu tidak akan terlalu sulit untuk seorang Rafka.
"Mas pamit. Assalamualaikum," ulang Rafka untuk kedua kalinya, setelah tahu Gya tidak akan menjawab ucapannya.
"Wa'alaikumsalam."
Mobil Rafka sudah berlalu, tapi Gya masih memandang kepergiannya dari teras. Hingga, tatapannya berhasil menangkap sosok Rafish yang sedang berdiri di beranda lantai dua rumahnya. Tetangganya itu sedang berdiri menatap dirinya dari atas.
__ADS_1
***
Masih ingat Jika Laudia? Harus ingat, pokoknya 🙄🙄