Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Empat Puluh Satu


__ADS_3

"Papa ...." Mama meremas tangan Agya pelan, lalu melanjutkan, "Ingin melihat kamu menikah."


Agya tidak bisa menyembungikan keterkejutannya. Ia sudah menyentak tangannya, hingga terlepas dari genggaman mama. Namun, akhirnya ia memilih menutup rapat bibirnya sebelum kalimat protes terlontar saat menyadari ada papa yang terbaring di dekatnya.


"Kita udah pernah sepakat masalah ini kan, Ma?" balas Agya tertahan.


"Memang. Tapi, kamu lihat kondisi papa sekarang, dong. Gie. Kamu mau menyesal dua kali?"


Agya kembali menatap sang papa yang selalu tampak seperti orang tertidur lebih dari seminggu ini. Memang tidak ada perkembangan signifikan yang ditujukkan dan itu semua ... salahnya.


Agya menoleh, mencoba meminta bantuan Rafka. Namun, tunangannya itu justru memilih bungkam. Seolah setuju dengan permintaan mama.


"Sekarang kamu pulang diantar Nak Rafka. Mama anggap kamu setuju dengan keputusan ini."


***


Sepanjang perjalanan pulang, Agya memilih diam saja. Pikiran dan perasaannya terasa benar-benar kacau dan berantakan.


Sekarang, Agya tidak mengenali dirinya lagi. Agya sekarang begitu lemah dan menyedihkan.


Kerongkongan Agya terasa tercekat. Rasanya ia ingin menangis sambil teriak sampai suaranya habis. Rasanya ia ingin melarikan diri dan pergi sejauh mungkin. Rasanya ... ia tidak ingin hidup lagi.


"Ini keputusan terbaik, Dik." Rafkaa tiba-tiba memulai. Namun, Agya masih enggan menoleh padanya. "Selama ini, kita cekcok dan salah paham terus. Mungkin, setelah menikah kita bisa saling memahami."


Kali ini akhirnya Agya menoleh. Ia menatap Rafka dalam. Ada yang berbeda dari laki-laki di hadapannya ini. Rafka seperti punya dua kepribadian yang berbeda dan itu menakutkan.


"Mas ... punya anak?"


Dari raut wajahnya, jelas sekali Rafka terlihat terkejut dengan pertanyaan Agya tersebut. Ia bahkan mengalihkan pandanganya ke depan, memindahkan persneling, baru kemudian menjawab, "Kita bicarakan itu lain kali."


***


Jam menujukkan pukul 10 malam saat Agya tiba di rumah. Namun, hingga satu jam berlalu, Agya belum juga berhasil terlelap. Ia memainkan ponselnya dan berhenti pada aplikasi WhatsApp. Lama terdiam, akhirnya ia mulai mengetikkan sesuatu di sana dengan nama kontak penerima Rafisqy Arzan.


Agya Sofia


Sudah tidur?


23.07 WIB


Rafisqy Arzan


Belum. Kamu nggak bisa tidur?


23.07 WIB


Agya Sofia


Nggak


23.08 WIB


Rafisqy Arzan

__ADS_1


Mau aku bawakan makanan?


23.08 WIB


Agya Sofia


Nanti aku gendut


23.09 WIB


Rafisqy Arzan


Hahaha. Terus maunya apa?


23.09 WIB


Agya Sofia


Kamu


23.10 WIB


Berulang kali Agya memeriksa ponselnya, tapi tetap tidak ia temukan balasan dari Rafis, meski centang dua telah berubah menjadi biru. Agya mengutuki dirinya sendiri yang tidak tahu malu dan berniat menarik pesan saja. Namun, ponselnya kembali berdenting dan nama Rafis muncul di sana.


Rafisqy Arzan


Keluar




Agya menatap pesan tersebut dengan mata terbelalak tidak percaya. Ia berlari ke arah jendela dan menyingkap tirainya. Benar saja, berondong kesayangannya sudah menyambutnya dengan senyuman hangat.


Tanpa menunggu lagi, Agya langsung berlari ke pintu utama. Saat ia membuka pintu Rafis kembalo tersenyum padanya dengan merentangkan tangan.


"Pesanan datang!" ucap Rafis sumringah. Namun, ia dibuat terkejut saat Agya berlari, mengambur ke dalam pelukannya. "Kamu baik-baik aja?"


"Ayo kita pergi, Fis."


Biarlah, Rafka menjadi benar. Ia ingin menjadi wanita mur*han yang keluar malam dengan laki-laki lain. Kali ini saja.


***


Meski belum mengerti dengan apa yang telah terjadi, tapi Rafis tetap menuruti permintaan Agya. Mereka kembali mengelilingi kota dengan sepeda motor tanpa bicara. Agya selalu menolak untuk singgah makan atau duduk di taman. Ia hanya ingin terus melaju di atas sepeda motor sambil memeluk Rafis dari belakang.


Jam sudah menujukkan pukul 01.00 dini hari dan Rafis yakin angin malam tidak terlalu baik untuk Agya. Rafis menepikan sepeda motornya, lalu turun dan berdiri di depan Agya yang masih duduk di jok belakang.


"Udah larut malam. Kita pulang, ya?"


Untuk kesekian kalinya Agya menggeleng dengan kepala tertunduk.


"Aku janji besok kita jalan lagi."

__ADS_1


Dan jawabannya tetap sama. Agya masih menggelengkan kepalanya. Namun, kali ini ia mencengkram ujung jaket yang dikenakan Rafis. Rafis benar-benar yakin, jika sesuatu yang buruk memang telah terjadi.


"Mau ke rumahku?" tanya Rafis hati-hati.


Agya mulai mengangkat wajahnya, menatap Rafis yang kini berdiri di depannya dengan pandangan tidak terbaca. Baiklah, Rafis anggap itu sebuah persetujuan.


Mereka kembali meluncur membelah jalanan kota yang mulai tidak terlalu padat. Kemudian, memasuki sebuah kawasan perumahan elit di wilayah jakarta selatan.


Agya sedang mengamati sekitarnya, saat tanpa sadar Rafis telah membelokkan sepeda motornya dan berhenti tepat di depan rumah bernuansa klasik. Kemudian, menurunkan standar motornya dan turun dari sana.


Agya masih mematung. Ia masih terlihat bingung, hingga Rafis membantu membuka pengait helmnya. Kemudian, menggenggam tangan gadis itu untuk masuk bersama ke dalam rumahnya.


Rumah berukuran luas itu benar-benar terasa sepi karena hanya ditempati Rafis seorang diri. Mungkin, itu sebabnya beberapa tahun yang lalu, Rafis memilih pindah dan tinggal bersama ibu kandungnya di sebelah rumah Agya.


Tidak ada foto apapun di sana, sehingga Agya tidak bisa tahu siapa saja orang yang dulu pernah tinggal di sini. Hanya ada lampu-lampu gantung yang menambah kesan klasik.


Kali ini Agya dibawa ke sebuah ruangan yang yang kontras dengan ruangan lainnya. Ruangan ini terkesan modern dengan beberapa personal computer dan berbagai alat musik di dalamnya, terutama gitar.


"Studio musik?" Agya mengalihkan pandangannya pada Rafis yang disambut pemuda itu dengan anggukan kecil. Kemudian, kembali melangkah masuk dengan tangan yang masih saling terpaut.


"Kalau susah tidur, aku ke sini," terang Rafis.


Agya ingat dengan kenangan di rumah sakit kanker saat Rafis berulang tahun. Waktu itu ia memang sempat takjub saat melihat Rafis memainkan gitar untuk anak-anak penderita kanker.


Mata Agya dibuat terbelalak saat melihat banyak plakat penghargaan yang terpajang di dinding dengan nama lengkap Rafis terukir di dalamnya. "Fis, kamu ...." ucapan Agya terjeda saat ia membaca tulisan yang ada di plakat itu dengan saksama, "Pencipta lagu?!"


Agya memutar tubuhnya cepat ke arah Rafis, lalu menatap pemuda itu menuntut penjelasan, "Pencipta lagu soundtrack film-film sebanyak ini?"


Rafis hanya tertawa kecil, lalu memeluk Agya dengan gemas. Inilah yang ia suka dari Agya. Gadis itu hanya mengenalnya sebagai bocah tetangga jahil bernama Rafis.


Agya segera melepas pelukan dan masih saja menatap Rafis meminta penjelas. Hingga, Rafis meencubit pipinya gemas. "Besok introgasinya, ya. Sekarang kamu tidur dulu. Udah pagi!"


Tanpa menunggu persetujuaan, Rafis langsung menarik Agya ke ruangan lain. Sebuah ruangan dengan satu buah tempat tidur besar dan sebuah sofa serta rak buku di dekatnya. Hanya sedikit barang yang ada di ruangan tersebut, sehingga terkesan lapang dan rapi.


"Kamu tidur di sini, ya." Rafis mendorong tubuh Agya, masuk ke dalam kamar miliknya. Sedangkan, ia sendiri memilih tetap berdiri di luar kamar. "Kalau ada apa-apa, panggil aja. Aku tidur di kamar samping."


Rafis sudah akan menutup pintu, saat Agya menahannya dengan tangan, hingga membuat Rafis menaikkan sebelah alisnya. "Takut?"


Agya tidak langsung menjawab. Ia hanya terus menatap Rafis dan menarik tangan pemuda itu agar ikut masuk ke kamar.


Keduanya sama-sama diam. Saling menatap jauh ke dalam manik mata masing-masing. Hingga, akhirnya Rafis mengerjapkan matanya pelan saat sebuah kecupan yang terasa manis dan dingin mengampiri bibirnya.


"Gya?" suara Rafis terdengar serak saat menyebut nama itu. Namun, sekali lagi ia dibuat terkejut saat Agya melingkarkan tangan ke lehernya dan dengan cepat kembali mengecup bibirnya. Kali ini lebih lama dan menuntut.


Rafis mulai melingkarkan tangannya ke pinggul ramping Agya. Kemudian, memejamkan mata, menikmati segala rasa yang membuncah di dada. Begitu lembut dan penuh dengan kehati-hatian.


Rafis merebahkan pelan tubuh Agya ke ranjang tanpa melepaskan ciuman. Kepalanya mulai terasa pening kekurangan oksigen, tapi ia masih enggan melepaskan.


Napas keduanya terdengar memburu. Udara di sekitar mereka mendadak terasa panas. Saat Agya mulai ingin merelakan segalanya, saat itu pula ia membuka mata karena tiba-tiba Rafis melepaskan pagutan mereka.


Rafis tersenyum lembut dan mengusap pelan rambut Agya yang berbaring di bawahnya. Tatapan wanita itu tampak kecewa.


"Kamu berharga Gya dan aku akan memperlakukanmu secara berharga juga." Rafis mengecup lama kening Agya, lantas kembali tersenyum. "Sekarang tidur! Aku temani sampai kamu benar-benar tidur. Mimpi indah, Sayang."

__ADS_1


***


Masih waras, Jika? 😭


__ADS_2