
"Aku ada di sini." Sebuah suara pelan yang berhasil membuat Agya menoleh dan seketika matanya berembun saat melihat Rafis duduk di barisan saksi. Bahkan, bisa-bisa pemuda itu tersenyum padanya.
Apa Rafis tidak tahu, senyumannya membuat hati Agya terluka? Agya menggigit bibirnya yang bergetar dengan kuat. Mencoba sekuat tenaga meredam tangisnya agar tidak pecah.
"Arkana Rafka bin Bima Prasetya?"
"Ya, saya."
" .... "
Ada jeda cukup lama yang dilakukan Gio, hingga penghulu meminta mengulanginya lagi. Gio menarik napasnya dalam, lantas menjabat tangan Rafka lagi.
"Arkana Rafka bin Bima Prasetya?"
"Ya, saya."
"Saya nikahkan engkau dengan kakak kandungku, Agya Sofia binti Bastian Permana dengan mas kawin uang tunai senilai 100 juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Agya Sofia binti Bastian ...."
"Mas!" Seorang wanita berteriak histeris, hingga prosesi sakral tersebut kembali terjeda. Semua perhatian kini tertuju pada sosok wanita yang sedang hamil besar dengan menggendong seorang batita laki-laki yang tertidur. Sedangkan, tangannya menggandeng seorang anak balita perempuan.
"Kamu ngapain, Mas?" Air mata wanita berparas ayu itu meleleh, hingga seorang wanita berkulit eksotis muncul dan merangkul pundaknya.
Rafka mengatup kuat bibirnya. Ia menatap kedua wanita yang tengah berdiri menjadi sorotan tersebut tanpa berkedip. Sedangkan, mama sudah berdiri dan tampak emosional mendapat kejutan seperti ini.
"Mau apa kalian?!" Suara mama terdengar gemetar. Ia merasa malu pada tamu undangan yang menjadikan kekacauan ini sebagai tontonan.
"Saya, istri Mas Rafka, Bu," ujar wanita ayu tersebut. "Dan ini anak-anak Mas Rafka."
Mama tampak tidak terima. Ia percaya pada Rafka. Ia terlanjur mempercayai calon menantunya itu.
"Jangan bohong kamu! Nak Rafka sudah bercerai." Mama mendekat, lantas mencengkram lengan wanita tadi. "Kalau kamu jandanya saya percaya, tapi bukan begini caranya. Dasar wanita licik!" geram mama.
"Saya istrinya, Bu," kekeh wanita itu. "Kami memang pernah bercerai, tapi rujuk lagi, meski baru secara agama."
"Mbak Lisna benar, Tante," timpal Alika. "Saya juga baru tau kalau mereka sudah rujuk lagi."
Mama tampak terkejut. Ia melebarkan matanya, lantas melangkahkan kakinya mundur.
__ADS_1
"Rafka, jelaskan pada saya!" Kali ini tidak hanya suara mama saja yang gemetar, tapi sekujur tubuhnya juga.
"Kamu bilang kita rujuk buat anak-anak, Mas? Terus sekarang apa yang kamu lakuin?" Wanita itu kembali menangis. Perutnya yang buncit membuat napasnya cepat terengah.
"Jawab, Mas! Aku istrimu, bukan?!" Wanita itu berteriak. "Ingat, Mas. Sekali lagi kamu menalakku, itu akan jadi talak ketiga kita."
"Jawab, brengs*k!" Gio maju, lantas mencengkram erat kerah kemeja Rafka. Namun, Rafka tidak juga kunjung menjawab karena sekali saja ia mengingkarinya, maka talak akan jatuh untuk istrinya.
Bug! Gio melayangkan bogem mentah ke wajah Rafka secara bertubi-tubi. Semua orang berteriak panik, sedangkan mama sudah jatuh pinsan.
Alika menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya mengalir deras. "Maafin Alika, Mas. Maaf."
Para tamu mulai mencoba menghentikan kebrutalan Gio. Kondisi mendadak kacau sekali. Sedangkan, Agya tampak mematung seperti mayat hidup. Ia tahu dari Alika kalau Rafka telah memiliki sepasang anak, tapi ia tidak tahu jika Rafka masih terikat pernikahan dengan wanita lain.
Ingatan Agya kembali terlempar pada ucapan Alika beberapa hari yang lalu.
Aku nggak tau, perlu memberi tahumu atau tidak, tapi Mas Rafka sudah punya dua orang anak dari istrinya terdahulu. Laki-laki dan perempuan.
"Gie?" Citra datang dan memeluknya. Tangisnya turut pecah. "Nggak apa-apa, Gie. Ada gue."
Agya melepaskan pelukan Citra, lalu mendorong tubuh Gio menjauhi Rafka. Kemudian, menarik kerah kemeja calon suaminya itu, hingga berdiri sempoyongan.
Lama Agya menatap Rafka, hingga akhirnya ia melompat dan menyundulkan kuat kepalanya ke arah dagu pemuda jangkung itu. Sontak saja hal itu membuat Rafka mundur kesakitan, lalu jatuh ke lantai.
***
Entah apa yang terjadi di luar sana karena sejak adegan kekerasan tadi, Agya ditarik Citra ke kamar. Agya sudah membuka kebayanya dan hendak berganti pakaian, tapi Citra segera melarang.
"Ganti pake ini!" Citra menyodorkan sebuah plastik besar pada Agya. Pada saat sahabatnya itu ingin mengintip isinya, Citra sudah lebih dulu bergerak dengan cekatan untuk membantu Agya berganti pakaian. Kelamaan!
"Apaan sih, Cit? Ini punya siapa?"
Bukannya menjawab, Citra justru terus saja memakaikan Agya sebuah pakaian pengganti. Kemudian, memanggil penata rias untuk segera membantunya.
"Cantik bener, sahabat gue," ucap Citra sambil tersenyum lebar saat riasan dan sanggulnya berhasil dirapikan. Kemudian, merangkul Agya dan membawanya ke luar kamar, meski Agya terus saja bertanya tidak mengerti.
Agya berjalan pelan melewati beberapa tamu yang tetap bertahan di sana dengan di dampingi Citra. Kebaya putih tulang yang ia kenakan menjuntai dengan begitu anggun, hingga menutupi sebagian rok batiknya.
Agya mengedarkan pandangannya dengan kikuk. Masih ada beberapa orang yang hadir di sana, meski tidak seramai tadi. Sepertinya, kekacauan telah berlalu.
__ADS_1
Papa menatap Agya dari jauh dengan senyum sumringah. Ada mama juga di sana yang sedang dirangkul Tante Diana, Ibu Rafis. Wajah keduanya tampak sembab seperti habis menangis.
Gio yang duduk di samping papa ikut mengulas senyum. Sedangkan, di hadapan Gio telah duduk seorang laki-laki yang mengenakan stelan jas berwarna putih.
Saat laki-laki itu menoleh, Agya sontak menghentikan langkah kakinya. Ia menatap tidak percaya pada laki-laki tersebut.
"Ayo, duduk di sini," ucap laki-laki tersebut sembari tersenyum manis.
"Rafis?"
Rafis tersenyum lebar, hingga membuat degup jantung Agya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.
Tepat pukul 22.00 WIB, akad nikah kembali diikrarkan. Namun, dengan mempelai pria yang berbeda.
"Muhammad Rafisqy Arzan bin Bayu Nugroho?"
"Ya, saya."
"Saya nikahkan engkau dengan kakak kandungku Agya Sofia binti Bastian Permana dengan mas kawin seperangkat alat solat dan uang sebesar 2 ratus 22 juta rupiah dibayar tunai." Gio menggerakkan jabat tangannya yang langsung dibalas Rafis dengan lantang.
"Saya terima nikahnya Agya Sofia binti Bastian Permana dengan mas kawin seperangkat alat solat dan uang sebesar 2 ratus 22 juta rupiah dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Agya yang sedari tadi menunduk, langsung menitikkan air matanya. Hingga, Rafis menggenggam tangannya, lantas menghapus jejak air mata di pipi sang istri.
Uhuk!
Salam sayang, 12 Februari 2022.
Jika Laudia
***
Nb. karena banyak yang protes cuma 50 bab, maka aku putuskan TAMAT di bab 49. Kapan lagi ketemu author sepengertian Jika Laudia wkwkwk.
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca budiman, rupawan, dan idaman ❤
Sampai jumpa dilain kesempatan.