Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, mama sudah dibuat terkejut oleh kehadiran Rafis yang mengetuk pintu ruang inap papa. Beruntung Agya telah pamit bekerja beberapa saat yang lalu.


"Ngapain kamu?"


"Ma!" Gio yang sudah memakai seragam sekolah, menghampiri mereka. "Papa mau ketemu sama Bang Rafis."


Ekspresi mama tampak tidak setuju. Ia menoleh, menatap papa yang pagi ini sudah duduk di kursi roda. Kemudian, menatap Rafis lagi. "Jangan lama-lama, ya! Suami saya butuh istirahat."


Rafis tersenyum, lalu mengangguk. Kemudian, dengan sopan izin memasuki kamar dan melewati mama. Tatapan mama mengikuti pergerakan Rafis dengan tajam. Ia tidak akan membiarkan bocah pecicilan itu merusak detik-detik terakhir rencana sempurna mereka.


"Ma, Papa nyuruh kita keluar," bisik Gio yang langsung disambut raut tidak terima mama. Namun, papa menoleh padanya dan mengangguk, hingga membuat mama dengan tidak rela meninggalkan mereka berdua.


Saat di luar ruangan, tidak sekali mama mengintip ke dalam lewat jendela. Ia melihat Rafis duduk menekuk lutut di depan papa. Entah apa yang mereka bicakan, tampaknya serius sekali.


Sesekali mama melihat papa mengangguk dan tersenyum. Bahkan, saat Rafis pamit dan mencium punggung tangan papa, papa tampak mengusap puncak kepala Rafis dengan tangan kirinya sembari tersenyum.


Tidak sampai setengah jam, Rafis melangkah keluar ruangan yang langsung disambut lirikan tajam mama. "Ngomong apa aja kamu?"


"Dih! Mama kepo," cetus Gio. Kemudian, remaja jangkung itu merangkul pundak Rafis. "Bang, anterin gue ke sekolah, ya. Males bawa motor, takut beku."


Rafis tertawa, lalu mengangguk setuju. Kemudian, dengan sopan pamit pada mama.

__ADS_1


"Sampai jumpa nanti malam, Tante."


"Lebih baik kamu nggak datang, kalau niatnya mau bikin onar," hardik mama.


Rafis hanya tersenyum, lantas berjalan menelusuri lorong bersama Gio.


"Bang, tadi loe ngomong apa sama Papa?"


Lah?


***


Beliau duduk dengan tegap di atas kursi roda. Wajahnya tampak ceria sekali saat Agya mendorongnya dari belakang. Setelah, menolak tawaran Rafka untuk membantunya.


"Kasian calon pengantin harus wara-wiri ke rumah sakit. Padahal tinggal beberapa jam lagi mau akad," goda mama. Mereka berjalan bersisian. Sedangkan, Agya berjalan di depan dengan mendorong kursi roda papa.


"Nggak apa-apa, Bu. Orang tua Gya, orang tua saja juga."


Mama tersenyum senang. "Kalau gitu, panggil Mama aja, dong. Kan sebentar lagi Nak Rafka jadi anak Mama juga."


"Iya, Ma," balas Rafka malu-malu.

__ADS_1


Rupanya kediaman Bastian telah didekorasi dengan begitu cantik. Hiasan-hiasan yang didominasi warna soft pink, telah terpasang dengan apik di penjuru rumah. Bunga-bunga segar nan bermekaran juga tampak siap menjadi penyemarak malam ini.


Beberapa petugas wedding organizer tampak lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing saat Agya memasuki rumah dengan mendorong kursi roda. Ia tampak fokus mendorong kursi roda papa dan membawanya langsung ke kamar untuk istirahat tanpa menoleh ke sana kemari. Tampak sekali gadis itu tidak peduli dengan dekorasi akad pernikahannya malam ini.


Papa memegang punggung tangan Agya, lantas menariknya agar putrinya itu berdiri di hadapannya. "Ja-ngan," ucap papa susah payah.


Agya menekuk lututnya, lantas berjongkok di depan papa. Kemudian, tersenyum hangat. "Papa khawatir, ya? Gya nggak apa-apa. Gya bisa."


Bibir papa tampak bergetar, susah payah ia menggerakkan tangannya, lantas menarik Agya ke dalam pelukannya. Gadis kecilnya telah tumbuh dewasa.


"Kamu ... harus bahagia. Papa janji." Sebuah kalimat yang papa ucapkan dengan terbata. Sebuah kalimat terpanjang yang berhasil ia selesaikan semenjak kesadarannya. Sebuah kalimat yang berhasil merobohkan ketegaran seorang Agya Sofia.


Akhirnya, gadis itu menangis juga. Menangis sampai sesegukan di pelukan papa. Di dalam dekapan hangat seorang pria yang mencintainya tanpa syarat.


Terima kasih, Pa.


***


Sambil nunggu Berondong, lanjut baca novel teman aku ya 😆


__ADS_1


__ADS_2