Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Sembilan


__ADS_3

Rafka membukakan pintu mobil untuk Gya dengan begitu manis. Ia bahkan membawakan tas, buku, bunga dan beberapa hadiah kelulusan Gya yang di simpan di dalam mobilnya, lantas meletakkannya di atas meja teras.


"Ini mau diletakkan di sini tau dibawakan langsung ke dalam?"


"Di situ aja, Mas," balas Gya tidak enak. Hari ini dia sudah banyak merepotkan Rafka. Bahkan General Manager Aston Kartika Hotel itu tadi sudah meneraktir teman-temannya dan mengantarkan mereka pulang.


"Ya, udah. Mas taro di sini, ya?"


Gya mengangguk sembari memeluk sebuah boneka panda yang lagi-lagi diberikan Rafka. Perhatian Gya teralihkan oleh suara berisik yang berasal dari rumah Rafish. Serombongan orang keluar dari sana. Ada Fergi dan dua laki-laki yang tidak Gya ketahui namanya.


Itu tidak mengejutkan untuk Gya, sebelum seorang gadis berambut dora ikut menyusul keluar rumah dengan menggandeng tangan Rafish.


Oh, jadi ini alasan bocah tengik itu hilang seharian? Gya mendengkus, lantas kembali menoleh pada Rafka.


"Mas mau masuk dulu? Aku bikinin kopi."


Senyum Rafka mengembang. Kemudian, dengan ringannya ia mengulurkan tangan untuk mengacak pelan rambut Gya, hingga membuat Gya membelalakkan matanya kaget.


"Lain kali aja, ya. Mas pulang dulu. Kamu pasti capek."


Gya jadi gelagapan. Ia menganggukkan kepalanya berkali-kali dan berakhir dengan cengiran canggung.


"Hati-hati, Mas."


"Iya. Salam ya buat Pak Bas dan Ibu."

__ADS_1


Gya mengangguk lagi, lalu melambaikan tangannya ketika Rafka sudah masuk ke dalam mobil. Namun, Rafka justru menurunkan kaca mobilnya.


"Istirahat, ya, Dek."


Rafka melemparkan senyum manis sekali, hingga membuat Gya mati kutu dan tidak tahu harus menjawab apa selain menganggukkan kepalanya lagi.


Kali ini Rafka benar-benar berlalu dengan mobil mewahnya. Meninggalkan Gya yang masih mematung di tempat yang sama.


"Hai, Kak!"


Gya membalikkan tubuhnya dan mendapati Fergi tengah nyengir padanya.


"Hai, Fer."


"Selamat, ya, udah selesai sidang skripsi."


"Ya, udah. Gue masuk, ya." Ekor mata Gya masih mencuri lihat Rafish yang justru terlihat asik mengutak-atik ponselnya. Mentang-mentang ada si dora, Rafish jadi sombong begini.


Gya akhirnya melangkah masuk dan mengambil semua barang-barangnya di atas meja teras. Terlalu banyak, hingga Gya harus dua kali mondar-mandir untuk bisa memindahkannya ke dalam.


"Zan, kita balik, ya."


Gya tidak mengerti kenapa Fergi selalu memanggil Rafish dengan "Zan". Entah itu panggilan kesayangan atau panggilan ejekan sesama teman.


"Kamu nggak mau ngantar aku pulang?" Si dora kambuh lagi menye-menyenya, hingga membuat Gya mencibir tanpa sengaja. Ia menarik tasnya cepat dan buku-buku referensi jatuh berserakan ke lantai. Hilih!

__ADS_1


"Nggak, deh. Gue capek."


"Syukur!" Gya yang sedang berjongkok untuk merapikan buku-bukunya berucap pelan. Pelan sekali karena niatnya hanya untuk bicara dengan dirinya sendiri. Namun, ia tersentak kaget ketika sebuah tangan ikut membantunya merapikan buku-buku tersebut. Kemudian, sosok itu berdiri hingga membuat Gya mendongakkan kepalanya.


Rafish?


Rafish menjinjing buku-buku literatur tersebut dan menatap Gya dari atas. Menunggu Gya bangkit.


"Awas lehernya kecengklak," ujar Rafish ketika Gya tidak juga bangkit dari posisinya.


Gya akhirnya berdiri. Ia menatap Rafish bingung. Ada apa dengan bocah ini? Kenapa sikapnya jadi mudah berubah-ubah sekarang?


"Ya, udah. Pada pulang, gih!" usir Rafish pada teman-temannya yang menatap pemandangan canggung di depan mereka.


Lagi-lagi dora mendelik pada Gya. Ia jalan duluan ke arah mobil Fergi dengan kaki terhentak kasar. Setiap ada Gya, dia pasti tidak diacuhkan Rafish.


Fergi yang melihat tingkah Silvia hanya mengangkat bahunya tak peduli. Kemudian, ia menoleh pada Rafish untuk pamit, lalu ikut masuk ke dalam mobil.


"Ngambek, tuh!" ucap Gya ketika mobil Fergi sudah menjauh. Ia menoleh pada Rafish yang tidak memberikan respons pada ucapannya.


"Aku juga ngambek."


"Hah?"


Rafish memberikan buku-buku yang ada di tangannya ke tangan Gya. Kemudian, berjalan kembali ke rumahnya tanpa sepatah kata pun lagi.

__ADS_1


Kenapa itu anak?


__ADS_2