
Minggu-minggu awal, Gya selalu membawa pekerjaannya ke rumah. Ia butuh banyak waktu untuk mempelajari semuanya. Ternyata, materi yang dipelajarinya di masa perkuliahan tidak sepenuhnya bisa diandalkan saat ini. Benar kata orang, guru terbaik adalah pengalaman.
"Kamu malu minta tolong Rafka? Biar Mama yang ngomong, deh." Lagi-lagi mama meragukan usahanya, hingga membuat Gya semakin tertekan dan memilih membawa pekerjaannya ke ruang kerja papa.
Malam ini, ia mengumpulkan semua laporan dari masing-masing divisi. Kemudian, menganalisisnya dengan kening berkerut.
Ternyata perusahaan mereka selama ini hanya sekadar berjalan saja. Sama sekali tidak ada progres yang signifikan. Seolah- olah hanya "yang penting hidup" saja.
Gya memijat pelipisnya berkali-kali. Keningnya tampak berkerut setiap kali ia membuat tanda pada bagian-bagian laporan yang baginya tidak beres. Hingga, beberapa kali ketukan pintu terdengar dan membuatnya menolehkan kepala.
"Ya?" Gya beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
Sama seperti yang Gya duga, pelaku pengetuk pintu itu adalah Gio. Sosok yang terlihat aneh beberapa minggu ini.
"Kenapa?" Saat Gya bertanya, ia baru menyadari
Gio tidak datang sendiri. Adiknya itu datang bersama papa yang duduk di kursi roda.
"Kenapa, Pa?" Gya sontak merendahkan tubuhnya, lantas menumpukan lututnya ke lantai.
"Papa mau liat Kakak kerja, katanya," jawab Gio.
__ADS_1
Ada lapisan air tipis yang langsung melapisi bola mata Gya. Saat-saat begini, dia memang sangat butuh dukungan.
"Gya bisa, Pa." Entah sudah berapa kali Gya mengucapkan kalimat itu selama seminggu terakhir. Namun, kali ini respons yang didapatnya berbeda dari biasanya. Papa mengangguk dengan sebuah senyuman yang berhasil membuat Gya meneteskan air mata.
Tidak ingin terhanyut dalam suasana sendu, Gio mendorong kursi roda papa untuk masuk ke dalam ruang kerja. Sebenarnya, ia juga tahu beban yang dipikul sang kakak akhir-akhir ini tidaklah mudah.
"Aku ambilin minuman, ya." Gio sudah akan beranjak saat Gya menahan lengannya.
"Makasih," ucap Gya tulus.
Gio juga sama mellow-nya. Ia menghapus cepat air tipis di matanya, lalu segera beranjak dari sana.
Meski Papa kesulitan bicara, tapi Gya cukup terbantu dengan kehadirannya. Sosok cinta pertamanya itu menunjukkan masalah-masalah yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
Papa mengangguk. Bibirnya yang miring cukup membuatnya kesulitan untuk menjelaskan. "Yakin ... kan.".
Gya paham. Itu berarti dia harus bisa mendapatkan kembali kepercayaan para investor lama.
Benar kata papa, menarik investor lama peluangnya lebih besar ketimbang mencari investor baru. Meski tetap saja itu tidak akan mudah.
"Inovasi ... ide baru."
__ADS_1
Wajah kusut Gya langsung sembringah saat mendengar kalimat terbata papa. Ia beranjak dari duduknya, lantas memeluk papa di kursi roda. "Makasih, Pa. Makasih udah percaya sama Gya."
Setelah ini Gya akan memikirkan ide baru yang bisa ia tawarkan untuk dapat merebut kembali kepercayaan para investor. Diskusi antara senior dan junior itu masih berlangsung lama. Gio bahkan sudah terlelap di sofa.
Diam-diam papa tersenyum. Melihat anak perempuannya menanggung beban, sungguh membuatnya tidak tenang.
"Gio!" Gya membangunkan Gio yang tertidur di sofa. Remaja jangkung itu dari tadi memang memilih diam, tidak menganggu. Namun, berakhir tidur dengan nyenyak. "Antar papa istirahat."
Nyawa Gio yang sepertinya belum sepenuhnya kembali, membuatnya terduduk dengan pandangan bingung. Hingga, Gya mengusap wajahnya jengkel.
"Sana cuci muka!"
***
Gya menarik kedua tangannya ke atas, mencoba meregangkan ototnya yang kaku. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 malam, pantas saja matanya tidak bisa diajak kompromi lagi.
Setelah membersihkan wajah, Gya langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasanya nyaman sekali untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk.
Matanya nyaris terlelap, tapi kemudian ia membalikkan tubuhnya dan meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Rafka dan rentetan pesan dari orang yang sama.
Bukannya membaca dan membalas pesan dari sang calon suami, Gya justru membuka email yang pernah Rafish kirimkan. Kemudian, menonton video tersebut untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Hai, Agya Sofia ...