
Perayaan wisuda periode ketiga tahun ini di Gunadarma akan dilangsungkan dua hari lagi. Citra bahkan sudah berkali-kali meneror Gya untuk melakukan persiapan. Namun, sang teman tampak ogah-ogahan.
"Ini momen yang selama ini kita nanti-nanti, kan, Gie?"
Citra benar. Ini adalah saat-saat yang ia tunggu selama ini, tapi kenapa sekarang rasanya biasa saja.
"Loe kenapa? Gara-gara jawaban itu?"
Gya menolehkan kepalanya pelan, menatap sang sahabat yang duduk di sampingnya. Kali ini Citra benar lagi, wisuda sama dengan jawaban lamaran.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Seperti keinginan Gya, dua minggu ini ia tidak berhubungan dengan Rafka maupun Rafish. Tapi, tetap saja ia tidak menemukan jawabannya.
Ia tidak tahu mana yang ia butuhkan. Ia tidak tahu, siapa yang bisa ia percaya untuk melangkah bersama.
Citra hanya mendengkus saat sang teman lagi-lagi tidak menggubris setiap kali ia ajak bicara. Kadang menjadi "biasa saja" begini ia syukuri. Setidaknya ia tidak perlu mengalami fase memusingkan yang harus dilalui Gya. Ia bebas mencintai siapa saja. Ia bebas memutuskan kapan serius dan kapan tetap bermain-main.
"Fer!" Dari pada Citra bosan bicara satu arah dengan Gya, lebih baik dia menggangu adik tingkatnya yang kebetulan lewat di depan mereka. "Masih ada kuliah?"
"Udah habis, Kak. Baru aja," balas Fergi si mahasiswa polos.
"Makan, yuk!"
Ajakan Citra tersebut langsung membuat Gya menoleh dan menatap sang teman dengan pandangan ngeri. "Loe kira-kira aja, ah, Cit!"
"Kenapa? Makan, doang," balas Citra cuek. Sedangkan, Fergi hanya terkekeh saja.
__ADS_1
"Sori, Kak. Tapi gue udah ada janji."
"Yah, sayang banget." Citra pura-pura sedih. "Tapi, hari wisuda ntar loe udah nyiapin waktu buat kita, kan?"
Gya mendelik lagi. Temannya itu kadang-kadang suka kebablasan.
"Aman, Kak. Khusus hari itu jadwal udah dikosongin."
Citra langsung bersorak gembira. "Jangan lupa ajak Rafish juga."
Kali ini Gya tidak hanya mendelik, tapi melotot. Matanya nyaris copot menatap Citra penuh ancaman. Belum sempat ia memperingatkan Citra, ucapan Fergi mengusiknya.
"Kalau itu gue nggak janji, Kak."
Ada nyeri yang tiba-tiba menyayat tepat di hati Gya. Tidak hanya Gya karena Citra juga sama kagetnya.
Sebagai gantinya, Gya yang mengajukan pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang membuat kedua manusia di hadapannya bingung.
"Rafish ... punya saudara perempuan?"
Fergi tampak menoleh pada Citra, seolah berbagi kebingungan. Namun, kemudian ia menjawab dengan hati-hati. "Setahu gue, Rafish anak tunggal."
Tidak ada respons yang diberikan Gya. Ia hanya beranjak dari duduknya, lantas melangkah pergi meninggalkan Citra dan Fergi yang masih kebingungan.
***
__ADS_1
Setelah menyelesaikan beberapa urusan yang berhubungan dengan wisuda, Gya baru sampai ke rumah nyaris Maghrib. Sebenarnya bukan urusan kampus yang membuatnya lama pulang, tapi urusan ini dan itu bersama Citra.
Langkahnya tampak gontai saat memasuki perkarangan rumah. Namun, kehadiran Rafka di teras rumahnya membuat Gya memasang tampang terganggu.
"Mas, ngapain di sini?"
Belum sempat Rafka menjawab, Yulia keluar rumah dengan langkah tergesa. Di tangannya terjinjing sebuah tas travel yang langsung diambil alih Rafka dengan sopan.
"Kamu kemana aja, Gie? Mama telpon nggak nyambung-nyambung." Yulia menatap Gya sedikit emosi. Ada raut panik dan lelah di wajahnya.
"Hp Gya ...."
"Papa kamu masuk rumah sakit," potong Yulia. "Mama bingung mau minta tolong siapa. Gio belum punya SIM, jadi mama minta tolong Nak Rafka."
Jantung Gya berdebar tidak karuan. Ia tidak lagi peduli dengan alasan kedatangan Rafka. Pikirannya hanya tertuju pada kabar papa yang dirawat di Rumah Sakit.
"Sekarang papa gimana, Ma?"
"Nggak apa-apa, Dek. Sudah lebih baik."
"Ayo, langsung kesana aja. Mama nggak tenang ninggalin papa kamu sama Gio."
Gya mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam mobil Rafka, menuju Rumah Sakit tempat Sang Papa dirawat.
***
__ADS_1
Mending balik ke Bab Satu lagi deh ... terus like semua bab dari pada aku ngambek 🙄🙄