Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Rombongan keluarga besar Arkana Rafka baru saja tiba di kediaman Gya. Pemuda yang malam ini mengenakan kemeja batik yang dipadu padankan dengan celana chino berwarna hitam itu terlihat tegang.


Beberapa kerabat hadir menemani sebagai pengganti orang tua Rafka yang telah tiada. Alika juga hadir di sana. Saudara kembar Rafka itu keluar dari mobil dengan pandangan bingung.


"Mas," panggilnya pelan.


Rafka menoleh pada Alika yang sedang menatapnya heran. Jelas-jelas wanita itu menuntut penjelasan.


"Nanti Mas jelasin." Rafka merapikan kemeja batiknya, lantas melangkah bersama rombongan ke dalam rumah Gya. Meninggalkan Alika yang diam terpaku di halaman rumah. Ia melayangkan pandangannya pelan ke arah rumah Rafish yang berada tepat di sebelah rumah calon tunangan saudara kembarnya itu.


***


Setelah melewati serangkaian sambutan, sang bintang utama akhirnya muncul juga. Gya keluar dengan mengunakan kebaya modern berwarna wardah. Rambut panjangnya malam ini digulung indah dengan menyematkan hiasan mutiara yang membuatnya tampak semakin anggun.


Gya melangkahkan kakinya pelan dengan pandangan tertunduk malu-malu melewati para tamu. Di sampingnya ada Citra yang setia mendampingi sejak tadi.


Dari kejauhan, Rafka tampak terpukau. Sejak kehadiran Gya, belum sedetik pun ia mengalihkan pandangannya. Rasanya ia sudah tak sabar ingin menyematkan cincin di jemari gadis cantik itu. Menjadikan Agya Sofia miliknya selamanya.


"Cit?"


Raut wajah Rafka tampak tegang saat melihat Gya menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba. Calon tunangannya itu bahkan tampak mengedarkan pandangan, seolah sedang mencari-cari sesuatu.


Terlebih saat melihat Citra pergi dari sisi Gya dengan langkah panik. Membuat Rafka semakin tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

__ADS_1


"Sabar, Rafka."


Seseorang membuyarkan fokus perhatiannya, hingga membuat Rafka menolehkan kepala, lantas tersenyum canggung. Perasaannya semakin tidak enak saja.


Alika yang berdiri tidak jauh dari Rafka, tidak menyadari perubahan raut wajah sang kakak. Ia terlalu sibuk dengan ponselnya dan sesekali tampak menghela napas gusar.


"Ada apa?"


Mendengar nada suara yang terdengar khawatir, membuat Alika akhirnya mengalihkan perhatian dari ponsel. Ia mendapati pamannya sedang berbisik-bisik dengan sang istri.


"Calon tunangan Rafka minta waktu sebentar."


"Kenapa?"


***


"Jelasin! Apa maksudnya istri baru?" Gya tampak tersengal. Dadanya bergerak naik-turun dengan cepat akibat emosnya yang sulit dikendalikan. "Mas!"


Rafka hanya menundukkan kepalanya. Terlihat tidak berniat menjawab. Pemuda berjambang tipis itu memilih tetap bungkam, meski Gya berkali-kali mendorong dadanya meminta penjelasan.


"Kamu bohongin aku, Mas?" Gya mulai memukul dada Rafka sambil berteriak. Meluapkan segala rasa kecewa dan terluka. "Kamu bohongin keluarga aku?!"


"Mama yang ngelarang Rafka buat cerita masalah ini sama kamu, sampai kalian resmi tunangan." Mama yang dari tadi diam membisu, akhirnya angkat bicara. Ia berjalan mendekat, lalu menurunkan tangan Gya dari dada Rafka. Kemudian, menggenggamnya. "Kami nggak bermaksud membohongi kamu, Gya. Cuma ... waktunya saja yang belum tepat."

__ADS_1


Setetes air mata meluncur begitu saja dari pelupuk mata Gya. Ia menatap Sang Ibu tidak percaya. Hatinya semakin hancur saat melihat papa yang diam dengan kepala tertunduk di atas kursi roda.


Gya menepis kasar tangan mama. Kemudian, melangkahkan kakinya mundur. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Gya menggelengkan kepalanya pelan, lantas membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak pecah. "Jadi ... kalian semua sudah tau?"


"Rafka sudah resmi bercerai. Itu bukan sebuah kesalahan, kan?" balas mama, tenang.


Tangis Gya seketika raib. Tertelan oleh rasa pahit dan kecewa. Ternyata, selama ini dia salah paham. Cinta dan kepercayaan memang sama sekali tidak penting, yang terpenting hanya kesepakatan dan keuntungan.


"Tolong ... jangan bikin aku malu, Dek."


Gya melempar pandangannya pada Rafka. Air mata tidak lagi menetes membasahi pipinya. Ia sudah kepalang hancur dan kecewa.


"Tenang saja. Aku nggak akan membuat kalian rugi," desis Gya tajam. Kemudian, melangkah keluar dari ruangan.


***


Seperti yang seharusnya terjadi, pertunangan tetap berlangsung malam ini. Rafka akhirnya berhasil menyematkan cincin di jari manis Gya dengan diiringi gemuruh tepuk tangan dan banyak ucapan selamat serta doa yang diterimanya.


Rafka tampak mengumbar senyum sepanjang acara. Pemuda itu tidak sendiri, karena Gya juga mengumbar senyum yang sama. Mulai sekarang ia harus terbiasa bersandiwara.


Benar, kan? Akhirnya Agya Sofia benar-benar hilang dari dirinya.

__ADS_1


__ADS_2