
Menjadi mahasiswa rupanya tidak semudah yang Rafish bayangkan. Ia kira tugas akan lebih sedikit ketimbang masa SMA, nyatanya malah lebih menumpuk.
"Santai, Bro. Dosen lagi semangat-semangatnya ngasih tugas karena awal semester aja. Ntar juga bosan sendiri."
Rafish menoleh pada Fergi yang selalu sok asik merangkul pundaknya ketika bicara. Ngomong-ngomong soal semangat, Rafish baru ingat dengan semangat hidupnya. Kemana dia hari ini?
"Gue duluan, ya." Rafish pamit, lalu berlari kecil meninggalkan Fergi. Namun, belum jauh ia berlari seseorang mencegatnya, hingga Rafish terpaksa berhenti.
Silvia.
Gadis yang kalau bicara selalu seperti orang merengek minta uang saku tambahan itu langsung merangkul lengan Rafish manja.
"Rafish mau kemana?"
Entah kenapa setiap Silvia mulai bicara dan menyebut namanya, bulu kuduk Rafish pasti berdiri. Sembari tersenyum canggung, Rafish melepaskan tangan Silvia dari lengannya, lalu menggeser tubuh untuk memberi jarak.
"Ayo, dong Rafish ikut HMJ. Biar Vie ada temennya."
Rafish tersenyum kikuk lagi. Lama-lama pipinya bisa kaku kalau begini.
"Enggak, deh. Gue nggak bakat ikut organisasi-organisasian."
Silvia memajukan bibir bawahnya, lalu menghentakkan kakinya kelantai. Membuat Rafish tidak bisa menyembunyikan kerutan di dahinya.
"Vie kan pengen ditemenin Rafish."
__ADS_1
"Sori, ya, tapi gue emang nggak niat. Gue duluan!" Rafish langsung melangkahkan kakinya cepat, lalu kembali berlari kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Emang cuma Agya gue yang normal di dunia ini.
Ciiitttt!
Langkah kaki Rafish berhenti lagi, tapi kali ini bukan karena dicegat Silvia. Melainkan karena ia melihat Gya sedang cekikikan di pojok lorong dengan seorang laki-laki berambut klimis.
"Skripsi kerjain!" Rafish seenaknya saja nimbrung dan membuat dua orang yang sedang asik ngobrol itu sontak menoleh.
"Gue baru keluar Perpus, Pis. Bukunya nggak ketemu-ketemu," sungut Gya. Sejak pagi dia memang sudah nongkrong di perpustakaan kampus, makanya tampangnya kusut begitu.
"Udah tau belum ketemu, malah cekikikan di sini. Ayo, aku bantuin!" Rafish langsung menarik tangan Gya dan itu membuat Gya langsung menjitak kepalanya dari belakang.
"Sakit, Sayang!"
"Dih! berhenti manggil aku sayang! Ntar orang pada salah paham." Gya tersungut-sungut lagi, lalu melepaskan tangan Rafish dari tangannya.
"Emang Sayang, kan?"
"Itu kamu, aku enggak!"
"Bentar lagi juga sayang."
"Dih!"
__ADS_1
...****************...
Seperti yang sudah Rafish bilang, ia memang benar-benar membantu Gya mencari buku di Perpustakaan Universitas. Bahkan, ia terlihat jauh lebih bersemangat mencari, ketimbang Gya yang sedikit-sedikit mengeluh.
"Sekarang tinggal cari mana yang relevan." Rafish meletakkan setumpuk buku di atas meja baca, lalu ikut duduk di seberang Gya, hingga membuat Gya melongo. Kemudian, mengintip buku-buku yang dibawa Rafish.
"Kamu tau banyak juga, ya."
Rafish mengambil satu buah buku dan ternyata itu sebuah novel. Kemudian, membukanya dan mulai terlihat membaca.
"Jangan sepele, ya. Gini-gini aku sering riset," balas Rafish tanpa mengalihkan pandangan dari novel yang dibacanya.
"Riset apa?"
"Riset mencintai kamu tanpa lelah," jawab Rafish santai.
Gya hampir melempar buku di tangan ke wajah Rafish, tapi tidak jadi. Akhirnya, ia hanya memilih melotot saja sambil komat-kamit.
"Buruan cari! Katanya kurang referensi."
Gya menghela napasnya dalam. Seolah-olah beban hidupnya begitu berat. "Udah sebanyak itu, Bu Erni masih aja belum puas. Mau sumber sebanyak apa, sih?"
Gya menjatuhkan wajahnya ke atas tumpukan buku agar penderitaan terlihat semakin dramatis. Namun, cepat-cepat ia angkat lagi ketika merasakan sebuah usapan lembut di kepalanya.
"Makin ngelunjak, ya, ini berondong!" geram Gya dengan gigi rapat, biar suaranya tidak terdengar terlalu nyaring. Emosi-emosi begitu, Gya masih sadar diri jika mereka sedang ada di perpustakaan.
__ADS_1
Rafish mengintip Gya dari novel yang sedang dibacanya, lalu menjawab dengan ringan, "Aku kira itu kode minta di elus."
Berondong, gila!