
Tepat usai Magrib, Haris, Rafka dan Rafis bertemu. Padahal hanya dalam hitungan jam saja salah seorang dari mereka akan melangsungkan akad pernikahan.
Keluarga Rafka merasa khawatir karena Rafka justu memilih pergi disaat waktu acara kian dekat. Mereka sudah mencoba menahan pemuda itu, tapi Rafka justru berkata akan menyusul sendiri saja. Ini gila!
"Silakan tanda tangan di sini." Haris menyodorkan beberapa lembar kertas untuk Rafka tanda tangani. Di sampingnya, juga telah duduk seorang pewaris yang sebenarnya. Kalau semuanya berjalan lancar, maka malam ini Rafis sah menjadi pemimpin di Aston Hotel.
Rafka bergeming. Ia hanya duduk tegap, dengan pandangan lurus ke arah kertas. Sebentar lagi, ia harus merelaka segala usaha dan upayanya selama ini. Sebentar lagi, ia akan lengser sebagai pemimpin RFs Grup sekaligun General Manager Aston Hotel dan menjadi karyawan biasa.
Haris mengetuk pelan jemarinya ke atas permukaan meja. Ada kekhawatiran di raut wajahnya, Rafka akan menolak penandatanganan penyerahan aset perusahan.
Sebenarnya, tidak masalah karena mereka masih bisa menuntut ke pengadilan, andai Rafka bersikeras menolak. Namun, akan lebih baik lagi, jika semuanya berjalan lancar.
Tanpa sadar Haris mengembuskan napas lega, saat Rafka akhirnya meraih pulpen dan menggoreskan tanda tangannya ke kertas-kertas berharga tersebut tanpa rasa ragu lagi. Sedangkan, Rafis tampak menatapnya waspada.
"Sudah, kan?" Rafka mengangkat wajahnya. Mengalihkan pandang dari lembaran kertas ke arah Rafis. Kemudian, beralih menatap Haris. "Ada lagi?"
Haris mengulum senyum. "Ada beberapa aset dan investasi yang Anda rahasiakan. Kami sudah mengkonfirmasi jika pembelian semua itu menggunakan uang perusahaan."
Raut wajah Rafka berubah. Ia menatap Haris tajam.
"Jangan khawatir. Mas Arzan sudah merelakannya. Anggap saja itu kompensasi untuk Anda, asal Anda benar-benar angkat kaki dari Aston Hotel."
__ADS_1
Bukannya senang, Rafka justru merasa tersinggung dan itulah tujuan Rafis. Rahangnya tampak mengeras dengan tatapan tajam yang menghujam. Namun, tidak lama ia tampak mencoba mengendalikan diri. Kemudian, berdiri dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah, saatnya saya harus pergi. Calon istri saya pasti sudah menunggu," ucap Rafka memanas-manasi. Ia sudah berjalan melewati mereka. Namun kemudian, memutar tubuhnya lagi.
"Oh, iya." Rafka sengaja menjeda ucapannya, sampai Rafis membalas tatapannya. "Kau tidak ingin mengucapkan selamat padaku, Arzan?"
Rafis tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum miring. "Sebenarnya aku tidak ingin berbuat terlalu jauh. Tapi apa boleh buat, kau yang minta," balas Rafis tajam.
Keduanya sama-sama diam. Hanya saling menghujamkan tatapan dingin. Hingga akhirnya, Rafka memilih kembali melanjutkan langkah. Ia tidak boleh terpancing karena sebentar lagi permainan akan selesai.
"Silakan, Mas." Haris memasukkan kertas-kertas tadi ke dalam map, lantas memberikannya pada Rafis. Membuat Rafis mengalihkan pandangnya dari pergerakan Rafka yang kian menjauh.
***
Keluarga Rafka dibuat cemas karena tidak berhasil menemukan Rafka di kediaman Agya. Nomor ponsel calon mempelai pria itu pun tidak aktif, hingga membuat perasaan kerabat ketar-ketir.
Mama melihat ada yang tidak beres, memilih mengampiri mereka lebih dulu. Ia juga dibuat bingung dan khawatir saat pihak keluarga Rafka menyampaikan permohonan maaf padanya.
Semua wajah yang terlibat dalam rombongan terlihat panik. Ada yang masih mencoba menelpon, ada juga yang berniat mencari Rafka entah kemana.
Beruntung, sebuah sedan berwarna silver segera memarkirkan mobilnya di carport. Tidak lama kemudian, seorang pemuda rupawan dengan kemeja batik, melangkah keluar dari sana.
__ADS_1
Sontak saja, semuanya mengembuskan napas lega. Mereka bergegas menghampiri Rafka dan menanyakan keadaanya.
"Alika mana?" Merupakan pertanyaan pertama yang Rafka lontarnya. Meski tahu adiknya itu sudah lama memutus komunikasi dengannya, tapi ia tetap mengirim kabar hari bahagia ini padanya. Ia bahkan sangat yakin, jika Alika akan datang.
Rafka tidak bisa menyembunyikan raut kecewanya saat sang paman menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka, Alika akan benar-benar melupakannya.
"Ayo! Udah jam 8." Tante mendekat, lalu mengamit lengan Rafka. Di depan rumah sudah ada rombongan yang siap menyambut.
Suasana hari ini tetap saja ramai, meski rencananya acara hanya dirayakan secara sederhana saja. Para tetangga, sanak saudara, sahabat, dan petinggi wilayah tampak datang menyemerakkan acara.
Agya diboyong ke luar kamar saat Rafka telah duduk di depan penghulu. Ia tampil cantik dengan kebaya berwarna soft pink yang diladupadankan dengan rok batik. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan mutiara yang senada dengan anting di telinganya. Cantik dan anggun sekali.
Saat Agya dipersilakan duduk di samping Rafka, papa yang duduk di samping Gio tampak melempar senyum hangat padanya. Malam ini, tugas papa untuk menjadi wali nikah Agya akan diwakilkan oleh Gio. Sejujurnya, hal itu cukup membuat Agya sedih. Namun, karena kondisi papa yang tidak memungkinkan, mau tidak mau Agya harus rela.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucapan pembuka telah dilantunkan dan para tamu mulai memfokuskan perhatian. Namun, Agya justru tampak mengedarkan pandang. Ada sosok yang sedang ia cari.
Melihat hal tersebut, mama menepuk pundak Agya pelan, lantas meminta Agya untuk memperhatikan penghulu yang sedang memberi sedikit wejangan.
"Aku ada di sini." Sebuah suara pelan yang berhasil membuat Agya menoleh dan seketika matanya berembun saat melihat Rafis duduk di barisan saksi.
Ia menggigit bibirnya yang bergetar dengan kuat. Mencoba sekuat tenaga meredam tangisnya agar tidak pecah.
__ADS_1