
Sebaiknya kita tidak perlu tahu, apakah semalam Agya dan Rafis tidur atau tidak. Cukup Gio saja yang merecoki pagi pengantin baru itu.
"Acieeeee. Harus gitu pamer keramas?"
Agya langsung melempar handuk yang melilit di kepalanya. Sedangkan, Rafis yang baru keluar dari kamar langsung berjalan dan merangkul dengan santai pundak Agya menuju meja makan.
"Loe nggak tau gunanya hair dryer, ya, Kak?" Gio terus saja mengganggu Agya. Kemudian, ikut duduk di samping Rafis yang justru tampak menahan senyum.
Sebenarnya, Agya ingin protes karena dialah yang seharusnya duduk di samping Rafis. Namun, kedatangan papa yang dibantu mama berjalan menggunakan tongkat mengalihkan perhatiannya.
"Loh, papa sama mama dari mana?" Agya ikut membantu papa duduk di kursi meja makan dengan hati-hati.
"Jalan-jalan di halaman. Kata dokter terapi nginjak kerikil pagi sama sore." Pertanyaan Agya tersebut dijawab oleh mama. Inilah salah satu hal yang Agya hormati dari mama. Beliau sangat tulus pada papa.
Agya tersenyum, lantas meletakkan piring di hadapan papa dan mama. Kemudian, menuangkan air ke dalam gelas.
"Kamu layanin suami kamu aja, Gie. Biar papa, mama yang urus," ujar mama sembari mengambil alih gelas yang akan diisi Agya.
Rencananya, Agya ingin mengangguk malu-malu, tapi Gio keburu merusak suasana dengan terbatuk keras.
"Melayani suami?" Gio menandaskan jus jeruk di gelasnya, lalu melanjutkan, "Kayaknya gue mesti cabut dari sini. Takut dewasa mendadak."
Benar saja, siswa Sekolah Menengah Atas itu memang benar-benar pergi setelah berpamitan pada papa dan mama. Pagi ini, dia sudah cukup puas menggoda Agya, hingga kakak semata wayangnya kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
Eum, bukan kehabisan kata-kata, sih, tapi sejak kejadian tengah malam, entah kenapa Agya merasa harus menjaga sikap dan tingkah lakunya di depan Sang Suami. Uhuk!
***
Saat sarapan tadi, Rafis menyampaikan niatnya untuk memboyong Agya ke rumahnya. Bukannya tidak ingin tinggal bersama orang tua, tapi mereka telah sepakat untuk membangun rumah tangga ini secara mandiri.
__ADS_1
"Papa dan Mama tidak perlu khawatir, Agya tetap akan jadi putri kalian."
Sebuah kalimat yang berhasil meluluhkan hati mama dan papa, hingga menyetujui keputusan itu. Mereka sadar, tidak akan selamanya mereka bisa menahan Agya untuk tinggal bersama.
Tidak hanya mama dan papa yang dibuat luluh karena nyatanya Agya sejak tadi juga selalu mengulum senyum sembari menatap Rafis yang menyetir mobil. Pagi ini mereka akan pergi ke makam Bayu Nugroho, ayah Rafis.
"Kenapa senyum-senyum?" Rafis meraih tangan Agya, lalu menggenggamnya. Meski bukan kali pertama, tapi tetap saja Agya masih sering terkejut dan merasa malu.
"Gapapa," jawab Agya cepat, lantas membuang pandang ke luar jendela. Agya merasa wajahnya memanas hanya karena sentuhan ringan tersebut. Padahal semalam, ia sudah merasakan sentuhan yang jauh dasyat.
Menyentuh hatinya, maksudnya.
Rafis tertawa kecil melihat tingkah malu-malu Agya, lantas mencubit pelan pipinya. "Kamu nggak penasaran kenapa semalam persiapanku sematang itu?"
Agya kembali menolehkan cepat kepalanya ke arah Rafis. Gara-gara sentuhan dasyat, ia sampai lupa menanyakan hal janggal tersebut.
Rafis kembali tertawa. Kali ini lebih keras. "Agya-ku memang suka nanya keroyokan." Ia mencubit kembali pipi Agya gemas. Kemudian, beralih dengan menggenggam tangannya lagi.
"Aku tau dari Alika dua hari yang lalu." Rafis memulai ceritanya. "Awalnya Alika cuma mau tau kabar dua keponakannya, Raffa dan Raisa. Tapi justru dia dikejutkan dengan kehadiran calon keponakan barunya."
"Wanita itu hamil," gumam Agya dengan sorot mata tertunduk.
Rafis mengangguk. Sorot matanya juga tampak kecewa. "Kami nggak nyangka Mas Rafka bisa berbuat sejauh itu."
"Mas?"
Sebelah alis Rafis naik sejenak. Kemudian, ia sadar telah memanggil Rafka dengan sapaan Mas. "Kami cukup akrab," ucap Rafis pelan.
Kali ini Agya yang menautkan alisnya. Namun, Rafis memilih tidak menjelaskan. "Lain kali aku ceritakan pelan-pelan."
__ADS_1
Mendengar kata "pelan-pelan" membuat otak Agya kembali tenoda. Ia melepaskan genggaman tangan Rafis, lalu pura-pura menaikkan volume musik. Namun, dering di ponsel Rafis menarik perhatiannya.
"Siapa?"
Rafis melihat ponselnya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke dashboard. "Nggak penting."
"Siapa?" desak Agya.
Rafis melirik takut-takut pada Agya, lalu menjawab pelan, "Silvia."
"Hooo, cewek yang udah nyuri ciuman di pipi kamu?" Agya mengambil ponsel Rafis, lalu menggeser icon hijau dengan mata berapi-api. Kemudian, dengan tenang menjawab,
"Halo. Nyonya Muhammad Rafisqy Arzan di sini."
UHUK!
***
Reader: Loh, Jika kok update lagi?
Jika : Iya, nih. Biar genepin 40k kata
Reader: Emang ngapain harus 40k kata?
Jika : Nggak usah kepo, nanti ... repot 😂😂
Baca novel teman aku, yaa
__ADS_1