Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Adik ipar? Adik ipar sial*n!


Gya masih saja sering mengumpat, jika mengingat pertemuannya dengan Rafish di cafe tadi. Pemuda itu tampak santai sekali. Tidak terkejut, tidak juga terlihat merasa tertekan. Malah, sekarang Gya yang tertekan dan kehilangan selera makan.


"Bagus nggak, Gie?" Mama mendekat, lalu duduk di samping Gya dengan menunjukkan sebuah foto cincin bertahta sebuah permata.


"Bagus," balas Gya tak acuh. Pikirannya masih melayang kemana-mana.


Semua persiapan pertunangan Gya dan Rafka, memang mama yang menangani. Gya bahkan tidak tahu besok harus mengenakan gaun warna apa karena proses fitting ia lewatkan begitu saja.


"Udah mama kirim sama Rafka. Besok dia yang bawa ke sini sama keluarganya."


"Oh, gitu." Gya masih menjawab ucapan mama sewajarnya, hingga sebuah kesimpulan mampir di otak dan membuatnya tersentak kaget sendiri. "Keluarganya?"


Mama yang ikut terkejut dengan reaksi Gya, langsung menatap sang putri bingung. "Iyalah, sama keluarganya."


"Semuanya?"


Mama semakin memasang raut bingung. "I-iya. Emang kenapa?"


Gya menggelengkan kepalanya cepat, lantas bangkit dan beranjak dari duduknya. Kemudian, berjalan menaiki tangga sambil menggumamkan hal-hal tidak jelas.


"Nggak mungkin, nggak mungkin! Nggak mungkin si ikan datang, kan?"


***

__ADS_1


Kediaman Gya sudah terlihat sibuk sejak pagi. Dekorasi juga sudah dipasang sedemikian indah karena acara akan dilangsungkan malam harinya.


Gya masih bermalas-malasan di kamar. Ia enggan bergerak, meski mama sudah mondar-mandir memanggilnya untuk perawatan.


Menjelang siang harinya, Gya baru beranjak dari tempat tidur, lantas menyingkap tirai dan mengintip keadaan di luar sana. Harusnya, ia masih sempat ke kantor dan bekerja. Ketimbang, rebahan dan mengurung diri di kamar seperti sekarang.


Gya menolehkan kepalanya saat mendengar ponselnya berdenting. Namun, ia masih enggan beranjak dari sisi jendela, hingga dentingan kedua kembali terdengar.


Akhirnya Gya melangkahkan kakinya mendekati nakas, lalu meraih ponsel yang tergeletak di sana. Ada pesan dari Citra.


Citra Rahma


Gue otw ke rumah loe habis Zuhur, ya. Mau nikung Fergie dalam doa yang khusyuk dulu.


12.10 WIB


Saat akan meletakkan ponselnya kembali, ia melihat ada pemberitahuan pesan dari nomor yang berbeda.


Muhammad Rafishqy Arzan


Hari ini aku nggak datang. Nggak perlu khawatir. Tetap jadi Agya Sofia, ya.


12.12 WIB


Gya termenung cukup lama saat membaca pesan dari Rafish. Ia sendiri saja ragu, apakah Agya Sofia itu masih ada?

__ADS_1


***


Rombongan keluarga Rafka datang usai salat Isya. Cukup banyak anggota keluarga yang hadir, tapi tetap membuat suasana begitu khidmat.


Gya keluar dengan mengunakan kebaya modern berwarna wardah. Rambutnya digulung dengan hiasan mutiara yang membuatnya tampak begitu anggun. Gadis itu melangkah pelan dengan kepala tertunduk, didampingi Citra di sebelahnya.


Bulu matanya yang lentik berkedip pelan, saat menangkap beberapa wajah tetangga yang ia kenali. Termasuk keluarga Rudi, ayah sambung Rafish. Beliau datang bersama Diana, Sang Istri yang selalu tampak pendiam.


"Itu calon istri baru Rafka? Cantik, ya."


Deg! Langkah kaki Gya sontak terhenti. Ia mengangkat wajahnya, lalu menoleh cepat pada suara bisik-bisik yang berhasil di dengarnya. Si sumber suara tampak terkejut, lantas membungkam cepat mulutnya sendiri dengan gerakan canggung.


Rafka yang sedang menunggu kedatangan Gya bersama rombongan pria lainnya, tampak waspada saat melihat pergerakan Gya terhenti. Senyum yang sedari tadi terpatri di bibir pemuda itu perlahan memudar.


"Sabar, Rafka."


Seseorang membuyarkan fokus perhatian Rafka, hingga ia menolehkan kepalanya. Kemudian, tersenyum canggung. Perasaannya mendadak tidak enak.


Di kejauhan, Gya terus saja mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mama. Sedangkan, Citra yang juga mendengar ucapan wanita tadi ikut terlihat panik.


"Cit?" Wajah Gya terlihat gusar. Namun, Citra mencoba bersikap tenang dengan mengelus pelan lengan Gya.


"Gue cari nyokap loe."


Rupanya, mama berdiri tidak jauh dari mereka. Ibu kandung Gya itu hanya bungkam dan terus memperhatikan Gya dalam diam.

__ADS_1


***


Ikan, ikan apa yang suka berhenti?


__ADS_2