
Gya yang sudah cantik dengan baju tidurnya, terpaksa harus berganti kostum demi menemani Rafish ke Rumah Sakit. Entah sakit apa berondong tetangga itu.
Langkah kaki Gya terhenti ketika melihat Rafish menunggunya di dalam sebuah mobil Toyota Agya berwarna hitam. Kening Gya sontak berkerut.
"Mobil siapa? Motor kamu mana?"
"Kebiasaan, deh, kalau nanya keroyokan," sahut Rafish tanpa menjawab pertanyaan Gya. Ia keluar dari mobil, lalu menarik tangan Gya. Kemudian, mengelilingi mobil dan membukakan pintu di samping kemudi khusus untuk Gya.
"Mobil siapa, Fish?" ulang Gya. Kali ini pertanyaannya dicicil.
Tapi lagi-lagi Rafish tidak menjawab. Pemuda itu justru mencondongkan tubuhnya ke arah Gya, lantas memakainya sabuk pengaman. Rafish kira drama Korea kali, ya?
Mobil mulai melaju dan Rafish memutar lagu Andmesh sepanjang jalan. Diam-diam Gya menikmatinya juga.
"Ngomong-ngomong, kamu udah cukup umur buat nyetir, kan?"
Rafish mendelik kesal. Jadi, Gya benar-benar mengira dirinya bocah?
"Udah, dong. Buat nikah juga udah cukup umur," sungut Rafish tak terima yang disambut anggukan masa bodoh Gya.
Setibanya di Rumah Sakit, Rafish memarkirkan mobilnya dan tidak langsung masuk ke dalam. Ia justru berdiri di halaman Rumah Sakit sembari mengutak-atik ponselnya.
Gya mendongakkan kepalanya untuk membaca nama rumah sakit yang terpampang di atas sana. Rumah Sakit Dharmais? Rumah Sakit khusus kanker!
"Fish, kamu jangan bercanda, deh!" Gya menghampiri Rafish buru-buru. Wajahnya mendadak panik.
"Serius," jawab Rafish, tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel di tangannya. Kelihatan sibuk sekali.
Tak lama, sebuah mobil layanan catering datang dan Gya sedikit menggeser tubuhnya karena mobil itu justru berhenti tidak jauh dari mereka berdiri. Padahal dia belum selesai mengintrogasi Rafish.
"Sori telat, Zan."
Zan?
Rafish menyambut pemuda berkumis itu dengan senyuman sumringah, lantas menyambut uluran tangan pria berseragam biru tersebut.
"Santai. Gue juga baru nyampe, kok."
Oh, kenal?
Tiga orang petugas catering lainnya ikut keluar dari mobil. Berarti ada empat orang termasuk pria berkumis.
"Keluarin sekarang, deh!" titah si pria berkumis pada ketiga rekannya.
"Sam, gue masuk duluan, ya."
Pria berkumis yang rupanya bernama Sam itu mengangguk. Kemana basa-basi Rafish? Secara etika harusnya Rafish memperkenalkan dirinya pada si pria berkumis, eh, Sam.
Lamunan Gya tersentak karena Rafish menarik tangannya. Kemudian, dengan nada menyindir berkata, "Pria dewasa emang menarik, ya, di mata kamu?"
"Hooh."
Rafish mendelik lagi ketika Gya sama sekali tidak menyangkal ucapannya. Sedangkan, yang dilirik tampak cuci mata melihat pemandangan dokter-dokter muda berjas putih. Mereka bening sekali.
"Hai, Zan!"
__ADS_1
Langkah terhenti dan Gya langsung menoleh. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan panggilan Zan.
"Hai, Dok!"
"Sekarang?"
"Iya. Bisa, kan?"
Dokter bening bergigi putih itu tersenyum manis. "Bisa, dong. Udah pada nungguin tuh kayaknya."
Rafish mengangguk. "Ya, udah. Saya masuk dulu, ya."
Lagi-lagi Rafish menarik tangan Gya. Padahal dia belum puas cuci mata. Rafish terus melangkah melewati banyak bangsal, hingga tibalah di sebuah ruangan dengan keterangan "Ruang Rawat Khusus Remaja Penderita Kanker."
Bulu kuduk Gya meremang. Sebenarnya apa yang terjadi pada Rafish?
Gya menolehkan kepalanya ke arah Rafish. Menatap pemuda itu khawatir. "Fis, kamu nggak sakit, kan?"
Rafish ikut menoleh lengkap dengan alisnya yang terangkat sebelah. "Alhamdulillah masih dikasih sehat sama Allah."
Gya mengembuskan napasnya lega. Terus kenapa mereka nyasar ke sini?
Petugas catering tadi mulai berdatangan dengan mendorong troli berisi box-box makan, hingga membuat Gya mengalihkan perhatiannya. Ia menyikut Rafish tanpa menoleh, lantas berbisik. "Kamu udah izin bagi-bagi makanan belum? Nanti dokter marah."
"Udah. Tenang aja." Rafish berjalan mendekati mereka dan beberapa remaja mulai berdatangan menyambut kedatangan Rafish.
"Kak Zan! Kak Zan!"
Rafish sontak benjongkok dan menyejajarkan tubuhnya dengan si remaja tadi. Kemudian, tersenyum hangat. Manis sekali, eh?
"Selamat ulang tahun, Kak Zan. Mudah-mudahan kakak selalu sehat."
"Aamiin." Rafish memeluk remaja itu, lantas berkata, "Doa yang sama untukmu. Mudah-mudahan selalu jadi anak yang baik, tampan, dan sehat."
"Doa kakak lebih banyak," protes si remaja ketika pelukan dikendurkan.
"Jelas, dong. Usia Kak Zan lebih banyak, tentu doanya juga lebih banyak," gurau Rafish. "Lagi pula doa baik akan kembali pada yang mendoakan."
Hati Gya menghangat. Ia baru tahu sisi Rafish yang satu ini. Ngomong-ngomong, Rafish ulang tahun?
Gya ikut bergabung dan membantu petugas catering membagikan kotak makanan. Sesekali ia berbincang dengan para remaja itu. Tidak ada yang berbeda dari mereka, mereka tampak ceria.
Seorang remaja lainnya datang menghampiri. Kali ini remaja perempuan. "Kakak pacarnya Kak Zan, ya?"
"Hah?"
"Iya, cantik nggak, Ra?" Rafish mendekat. Kemudian, merangkul pundak Gya.
"Biasa aja." Gadis yang memakai hoodie dan menutupi bagian kepalanya itu melengos pergi, membuat Rafish tertawa.
"Dih! Jangan buat aku banyak musuh, dong."
"Musuh apa? Mereka baik-baik. Saudara kita."
Gya takjub lagi. Ia menatap Rafish terlalu lama, hingga membuat Rafish menyadarinya.
__ADS_1
"Dulu, setiap ulang tahunku, papa selalu mengajakku merayakannya di sini."
Gya masih menatap Rafish tanpa berkedip. Ia siap mendengarkan semuanya.
"Doa mereka tulus, begitu kata papa." Rafish tersenyum, lalu melanjutkan, "Tapi yang papa minta selalu doa untukku. Dia sampai lupa minta doa untuk dirinya sendiri."
Rafish membalikkan tubuhnya, sekedar untuk menghapus air matanya yang menetes tanpa izin. Namun, Gya bergerak dan berdiri lagi di depannya.
"Ngapain malu? Aku suka kalau kamu berbagi padaku."
Rafish tertawa renyah, meski matanya masih berair. "Aku juga suka, tahun ini bisa mengajakmu ke sini. Semoga di tahun-tahun berikutnya juga begitu."
***
Rafish dan Gya pulang ke rumah hampir tengah malam, setelah selesai memberikan kotak makan pada pasien penderita kanker dan untuk para dokter beserta perawat juga tentunya. Tadi Gya sudah menelpon sang ibu dan minta izin pulang malam.
Di dalam mobil terasa canggung sekali karena Rafish memilih diam saja. Padahal biasanya dia paling berisik. Mungkin masih terpengaruh dengan suasan haru di rumah sakit tadi.
"Selamat ulang tahun, ya, Rafish."
Rafish memutar volume radio agar lebih pelan. Kemudian, menoleh pada Gya.
"Astaga! Ngucapinnya nggak keren amat, Gi."
"Terus gimana, dong?"
"Cium, kek!"
"Dih!"
Rafish tertawa renyah. Tentu saja Rafish hanya bercanda karena meski petakilan plus bucin begitu, Rafish merupakan pemuda yang sopan.
"Becanda, Gi. Kamu ada malam ini aja, aku udah seneng."
Uhuk! Sweet beud dah.
Akhirnya mereka tiba di rumah. Rafish langsung memasukkan mobilnya ke halaman rumah beserta Gya di dalamnya. Mereka kan tetangga, jadi tidak perlu ada adegan mengantar di depan rumah segala, kan?
"Makasih, ya, Gi, buat malam ini."
Gya yang sedang melepaskan sabuk pengamannya tersenyum. Padahal dia tidak memberikan apa-apa pada Rafish. "Sama-sama."
Mereka keluar mobil bersamaan dan tiba-tiba suara teriakan menyeruak hingga membuat Gya terperanjat kaget.
"Selamat ulang tahun Arzan!"
Gya menoleh dan melihat Fergian dan kawan-kawannya muncul dengan sebuah kue yang dihiasi beberapa lilin menyala. Kue yang dibawa oleh ... Silvia.
Gya tersenyum kecut ketika melihat Silvia sempat-sempatnya mendelik padanya. Kemudian, kembali tersenyum manis ketika melihat Rafish berjalan mendekat ke arahnya.
Rafish sumringah. Ia mendekati teman-temannya yang bernyanyi untuknya, lalu satu persatu mulai menyampaikan doa. Tibalah giliran si gadis menye-menye, ups, maksudnya Silvia. Dia menitipkan kue di tangannya pada Fergian, lantas memegang pundak Rafish. Kemudian, berjinjit dan mencium kilat pipi Rafish.
Gya memutar bola matanya muak. Permintaan Rafish tadi akhirnya terwujud juga, meski bukan oleh dirinya. Gya memutar tubuhnya dan beranjak pergi dari sana tanpa repot-repot pamit.
"Gya! Mau kemana?"
__ADS_1
"Tidur!" jawab Gya tanpa menoleh.