
Rafka kembali ke kamar dengan wajah merah padam. Kemudian, membanting salah satu tropi yang terpajang di rak yang menempel di dinding ke lantai, hingga pecah berderai. Tidak ada lagi raut hangat dan ramah seperti biasa. Rafka benar-benar sedang terbakar emosi.
Deru sepeda motor samar-samar terdengar semakin menjauh dengan kecepakan tinggi. Tanpa melihat pun, Rafka dapat memastikan jika Alika benar-benar telah pergi dari rumah mereka.
Rafka mendudukkan dirinya di tepi ranjang, mencoba mengendalikan emosinya yang terlanjur tersulut. Ia tampak mengatur napas dan mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
Tatapannya teralih pada ponsel yang tergeletak di atas nakas. Rafka mengulurkan tangannya untuk meraih benda itu. Sempat tampak fokus sejenak, nyatanya ia kembali terbakar amarah saat pesannya tadi tidak dibalas Agya.
Ia menyentuh pilihan panggil dengan napas memburu dan saat panggilannya terjawab, tanpa kendali ia berkata, "Brengs*k! Loe nggak punya tangan buat balas pesan?!"
Hari pertama menyandang status sebagai tunangan General Manager Hotel, nyatanya membuat Agya harus membayarnya dengan tetesan air mata. Bibirnya yang bergetar, ia katup dengan rapat. Tidak boleh ada perlawanan yang keluar sana.
"Papa ... nggak sadarkan diri, Mas."
***
Usai kabar yang diterimanya dari Agya tersebut, Rafka langsung meluncur ke rumah sakit. Orang pertama yang ia temui saat tiba di sana adalah sosok sang tunangan yang sedang duduk termenung di kursi tunggu depan ruang rawat. Sedangkan, di dalam ruangan tampak Gio dan mama yang sedang duduk di samping ranjang papa.
__ADS_1
Hati-hati Rafka duduk di samping Agya, lalu mengusap pelan puncak kepala gadis itu. "Nggak apa-apa. Ada Mas di sini."
Perlahan, Agya mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat sembab dan pucat. Namun, tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
"Maafin Mas ya, sayang. Tadi Mas cuma khawatir karena nggak dapat kabar dari kamu." Tangan Rafka beralih menggenggam tangan Agya yang gemetaran. Ia merasa bersalah karena sempat berbicara kasar pada Agya tadi di telepon. Namun, sekali lagi gadis itu tidak membalas ucapannya.
Mama keluar dan meningalkan papa bersama Gio di dalam ruangan. Wanita itu tampak sama kacaunya, hingga dengan cekatan Rafka berdiri, lantas menghampirinya.
"Gimana keadaan Pak Bas?"
Mama menatap Rafka dengan bibir gemetar. Tidak lama kemudian, tangisnya pecah. "Kita nyaris kehilangan dia, Nak."
"Ibu nggak usah khawatir. Kita usahakan yang terbaik. Masalah biaya biar saya yang urus."
Tangis mama kian pecah. Ia benar-benar merasa beruntung dengan kehadiran Rafka di hidup mereka. Sedangkan, Agya masih saja memilih mematung di tempat yang sama dengan tatapan kosong.
***
__ADS_1
Setelah memastikan administrasi pengobatan papa beres, Rafka memaksa mengantar Agya dan mama pulang untuk beristirahat. Ia meyakinkan mereka, jika nanti akan menemani Gio menjaga papa di rumah sakit.
Seperti sebelumnya, Agya tidak terlalu memberi respons. Hanya mama yang menatap Rafka penuh haru dan terima kasih.
Rafka sengaja hanya menepikan mobilnya saja dan tidak masuk ke car port karena setelah ini ia berencana akan langsung kembali ke rumah sakit menemani Gio. Ia sudah buru-buru ke luar mobil untuk membukakan pintu buat Agya. Namun, rupanya gadis itu sudah membuka pintu sendiri. Sehingga, Rafka beralih membantu mama membukakan pintu mobil untuk calon mertuanya itu.
Agya meninggalkan mereka dan berjalan terlebih dahulu mendekati teras dengan langkah berat dan tatapan tertunduk. Namun, langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap sepasang kaki dengan sepatu sport tengan berdiri di teras rumah.
Perlahan, Agya menangkat wajahnya. Sejenak tatapannya terpaku pada sosok berjaket kulit yang masih menenteng helm di tangannya.
Langkah kaki yang sempat terhenti tadi, kini dengan cepat kembali bergerak. Agya bahkan langsung menubrukkan dirinya dan memeluk erat sosok pemuda bermanik mata hitam kopi di hadapannya tersebut.
"Kamu baik-baik aja?"
Kepala Agya mengeleng berkali-kali.
"Aku takut, Fis."
__ADS_1
***
Waktu baca komentar-komentar kalian, rasanya ada ratusan bunga bermekaran 😆