
Sampai sekarang Gya masih menjadi salah satu orang yang percaya dengan pengaruh ucapan seseorang. Meski masalahnya tidak selesai, tapi ucapan Rafish tadi sedikit mampu membuat ruang di dadanya sedikit lapang.
"Kenapa Kakak nggak tidur di rumah aja?" Gio langsung menghampiri Gya yang baru saja tiba.
Gadis itu meletakkan tas travelnya ke dalam lemari, lalu mengusap puncak kepala Gio dengan lemah. Tanpa menjawab, ia beranjak dan berdiri di dekat ranjang papa yang masih menatapnya dengan bibir miring.
"Duduk, Gie," pinta mama. Keadaan mama tidak kalah memprihatinkan. Wanita yang selalu diperlakukan manja oleh papa itu tampak lemah dan pucat.
Gya menurut. Ia menarik kursi dan duduk di seberang mama. Kemudian, menggenggam tangan kiri papa. Sedangkan, Gio memilih duduk di sofa yang terpisah dari mereka.
"Mama menyesal karena di hari istimewa kamu, kejadian buruk ini justru terjadi." Mama menundukkan kepalanya, lalu cairan bening meluncur begitu saja dari sana. Membuat Gya bingung harus berbuat apa.
"Selamat, ya, Sayang. Maaf untuk kali ini Papa dan Mama nggak bisa mendampingi kamu."
Gya masih menunduk. Ia kembali terjebak dalam tangis. Namun, ia mencoba menyelesaikan tangisnya dengan cepat, lantas mengangguk saat berhasil menatap mama lagi.
"Gya bisa, Ma. Nggak apa-apa."
Kali ini mama yang mengangguk. Anggukan kepalanya tampak pelan sekali. "Soal ...."
Ucapan mama belum selesai, tapi Gya sudah dapat menebak maksudnya. Sehingga, ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan papa, lalu membawanya ke atas pangkuan.
__ADS_1
"Lamaran Rafka gimana?"
Tebakan Gya tidak meleset. Ia tahu hal ini sudah ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya.
"Kamu liat sendiri kondisi papa sekarang begini, Gie." Mama mengalihkan pandangannya pada papa yang terbaring, lalu menatap Gya lagi. "Butuh waktu lama untuk memulihkannya. Bahkan, nggak ada jaminan kondisi papa akan kembali kayak dulu lagi."
Jeda sejenak, lalu seolah telah membulatkan tekad, mama berkata, "Kita butuh Rafka."
"Masih ada Gya, Ma."
"Kamu perempuan! Emang bisa apa?" Nada suara mama meninggi, membuat Gya tersentak kaget. Sedangkan, Gio yang duduk di sofa hanya terus menundukkan kepala.
Usia Gio dan Gya terpaut cukup jauh. Adiknya itu baru saja menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas. Jadi, mau tidak mau Gya menjadi satu-satunya harapan.
Jika sudah begini, Gya tidak akan lagi banyak bicara. Mama memang memiliki watak yang keras. Beliau berasal dari keluarga kalangan atas yang rela melepaskan semuanya demi bisa menikah dengan papa.
"Cuma Rafka satu-satunya jalan yang kita punya saat ini. Cuma dukungan dari dia, kita bisa melanjutkan hidup. Kamu ngerti, dong!"
"Ma!" Gya tidak habis pikir dengan ucapan mama. "Mama manfatiin Mas Rafka?"
Wajah mama tampak mengeras. Matanya yang sembab tidak bisa menutupi ambisinya.
__ADS_1
"Ini bukti kalau kamu emang nggak tau apa-apa tentang dunia bisnis. Papa kamu terlambat ngajarin kamu."
"Ma ...." Papa ikut mencoba berbicara, membuat Gya menatapnya khawatir.
"Perusahaan papa kamu nggak ada apa-apanya di banding usaha Rafka. Papa cuma pengusaha kecil dan membantu pengusaha kecil nggak akan merepotkan untuk orang seperti Rafka."
Gya sudah tidak tahan lagi. Ia menguatkan genggaman dikedua tangannya, hingga tangannya tampak gemegar. "Tapi bukan gini caranya, Ma."
"Emang kamu ngerasa dirugiin? Apa kurangnya Rafka, sih? Kamu liat sendiri, kan, udah berapa banyak yang dia lakuin untuk keluarga kita selama ini?"
Sebuah cercaan pertanyaan dari mama yang tidak perlu Gya jawab. Pernyataan yang sama sekali tidak butuh jawaban, tapi mampu membuatnya kembali sesak setengah mati.
"Kapan lagi kamu bisa bantu kami, sih, Gie? Gio masih kecil, belum bisa diharapkan. Sedangkan, papa kamu entah kapan sembuhnya." Tangis mama kembali pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, membuat ruang rawat terasa mencekam.
Gya masih terpaku di tempatnya. Tubuhnya terlalu lelah untuk beranjak dan pergi dari sana. Hatinya terlalu hancur untuk bisa berpura semua baik-baik saja. Sedangkan, Gio lagi-lagi masih menundukkan kepala. Kemana Gio yang dulu? Gio yang selalu datang memeluknya dan berkata dengan lantang, "Ini hidup Kakak! Kakak yang punya hak untuk menentukan mau hidup kayak gimana."
Kemana semua orang? Kenapa sekarang Gya benar-benar merasa sendirian?
***
Mending kalian ....
__ADS_1
Nggak jadi, deh. Ancaman kalian lebih serem 🤧