
Rasanya, hari ini Alika sudah cukup menjadi adik yang berbakti. Susah payah ia menahan diri untuk tidak kabur sebelum acara pertunangan Rafka selesai. Bukan ia tidak senang melihat Rafka bahagia, tapi jelas-jelas di sini ada yang salah.
"Loe dimana? Gue tanya, loe di mana?!" Alika tampak emosional ketika memutuskan sepihak sambungan telepon saat ia telah mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Kebaya anggun yang ia kenakan tadi sudah berganti dengan kaus oblong dan celana jins serta jaket kulit berwarna gelap. Alika memasang helm ke kepalanya, lantas meluncur membelah malam dengan sepeda motor sport biru metalik miliknya.
Tidak butuh waktu lama untuk Alika mencapai sebuah rumah yang sebagian ruangannya telah disulap menjadi studio musik pribadi. Ia memarkirkan sepeda motornya secara asal di halaman rumah bernuansa klasik tersebut. Kemudian, dengan langkah lebar masuk ke dalamnya tanpa salam.
"Jadi itu alasan loe nolak tawaran Pak Haris tempo hari?"
Seorang pemuda yang sedang duduk membelakanginya sambil memeluk gitar hanya menoleh malas.
"Apanya?"
"Agya Sofia. Dia alasan loe nolak warisan Om Bayu, kan?" tukas Alika, lantas melangkah maju dan berdiri di hadapan pemuda itu. "Itu hak loe, Zan. Om Bayu bokap loe!"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Rafish justru memetik senar gitar dengan pandangan menerawang.
"Mas Rafka cuma pewaris sementara sampai loe cukup umur dan ini saatnya."
"Tapi gue nggak mau," jawab Rafish masih dengan pandangan menerwang.
"Gara-gara Agya Sofia?" Alika mendengkus. "Gara-gara cewek tercinta loe itu mau nikah sama Mas Rafka, jadi loe ngerelain itu semua. Buta loe, Zan!"
Kali ini Rafish yang mendengkus, namun pelan.
Tampaknya hari ini Alika sibuk sekali. Sedetik pun ia tidak mau berdiam diri dan membuang waktu. Kepala dan dadanya sudah sesak mau meledak. Kali ini, ia kembali lagi ke kediaman Arkana Rafka, saudara kembarnya.
"Licik kamu, Mas!" Adalah kalimat tudingan yang langsung Alika lontarkan saat mendapati Rafka sengaja menunggunya di teras. Sanak famili tampaknya sudah kembali ke rumahnya masing-masing, hingga rumah berlantai tiga itu kembali sepi.
"Aku nggak ngapa-ngapain," balas Rafka tenang.
__ADS_1
"Tapi kamu tau kelemahan Arzan dan kamu manfaatin itu!" Alika melangkah maju, lantas menujuk dada Rafka dengan emosi.
"Bukan salah aku, kan? Kalau dia mau ngambil, silakan. Aku nggak pernah menolak mengembalikanya." Sebelah alis Rafka terangkat saat ia melanjutkan. " Tapi kayaknya dia nggak tega ngelihat Agya Sofia punya suami yang nggak punya apa-apa."
Alika menatap Rafka tidak habis pikir. Ia tidak menyangka, harta bisa menbutakan kakak satu-satunya itu. Tanpa bisa dikendalikan lagi, air mata gadis berkulit eksotis itu menetes. Sejak tadi dadanya sudah terasa sesak. Sejak tadi ia sudah ingin menangis dan sekarang ia tidak bisa menahannya lagi.
"Ingat Om Bayu, Mas!" Suara Alika mulai bergetar. "Om Bayu udah gantiin posisi papa buat kita."
Alika memegang pundak Rafka untuk menopang tubuhnya yang sudah tidak memiliki cukup tenaga. Lututnya terasa lunglai. "Bahkan, beliau nganggap Mas sebagai anak pertamanya dan sekarang ... Mas justru ngehianati dia."
Tangis Alika akhirnya pecah juga. Sedangkan, Rafka tampak memalingkan wajahnya dengan bibir yang terkatup rapat.
"Aku ... nggak berbuat apa-apa," ucap Rafka dengan suara berat, lantas pergi dari sana. Meninggalkan Alika yang nyaris terjatuh ke lantai.
***
__ADS_1
Wkwkwk.