
Kenapa harus Rafka?
Dia putra sahabatku.
Kenapa harus Rafka?
Dia tidak pernah mengecewakanku.
Kenapa harus Rafka?
Aku percaya padanya.
Rafka menyingkap kasar selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Kemudian, bergeser dan duduk bersandar di kepala ranjang dengan raut wajah suram. Ia belum tidur dan percakapan itu tentu saja bukan mimpi, melainkan kenangan masa lalu.
Ia mendengar langsung percakapan antara Bayu Nugroho dan Haris, kuasa hukum mendiang Bayu, di sebuah rumah sakit kala itu. Ia ingat sekali, wajah Bayu sudah terlihat pucat dan tirus.
Hampir setahun mendekam di penjara, membuat kondisi kesehatan Bayu menurun drastis. Laki-laki yang dulunya atletis dan penuh optimisme dalam hidupnya itu berubah menjadi sosok tua renta yang kehilangan semangat hidup. Mulai dari dikhianati rekan bisnis, hingga dikambing hitamkan dan berakhir dengan dijebloskannya ia ke dalam penjara, membuat hidupnya benar-benar terpuruk.
Di saat-saat terburuknya itu, ia bahkan digugat cerai sang istri yang tidak sanggup menanggung malu menyandang status sebagai seorang istri tersangka penggelapan uang. Demo karyawan dan tekanan para insvestor membuat sang istri memilih mundur. Waktu itu, tidak ada yang berpihak pada Bayu Nugroho. Tidak ada satu pun.
Diusia 20 tahun awal, diam-diam Rafka menatap Bayu yang berbicara pada Haris sambil mengusap rambut Rafish yang tertidur di pangkuannya. Meski, berulang kali Haris meragukan keputusan Bayu untuk menjadikan seorang Arkana Rafka sebagai pewaris sementara, sesering itu pula Bayu bersikeras untuk tidak mau mengubah keputusannya.
Aku percaya padanya.
Saat itu, Rafka muda begitu merasa tersanjung. Ia menatap sungguh-sungguh Rafish kecil yang terlelap di pangkuan Bayu dan berjanji akan menjaga anak itu sepenuh hati.
Dan ... dia sudah menepatinya.
__ADS_1
Selama ini, ia sudah mencukupi segala kebutuhan Rafish. Putra semata wayang Bayu Nugroho itu tidak pernah sekali pun hidup dalam kesulitan. Semua sudah ia fasilitasi.
Jadi, saat Haris datang dan mengingatkan janji, ada perasaan tidak rela di hati Rafka. Dulu aset yang ditinggalkan Bayu tidak sebanyak sekarang. Arkana Rafkalah yang membuat aset-aset itu berkembang pesat. Arkana Rafkalah yang membuatnya semakin berjaya hingga sekarang.
"Tentu saja Anda tidak akan kembali dengan tangan kosong. Akan ada kompensasi untuk Anda."
Saat mendengar ucapan Haris tersebut beberapa bulan yang lalu, Rafka hanya diam dengan gigi bergemeretak. Kompensasi? Cih!
Rafka mengusap kasar wajahnya, mencoba menyelesaikan lamunan tentang Bayu Nugroho malam ini. Ia mengambil remot televisi, lantas menekan tombol power. Kemudian, memaksimalkan volume, hingga suaranya memekak ke seluruh penjuru kamar, lalu kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur.
Rupanya usaha Rafka untuk tidur tidak membuahkan hasil. Pagi-pagi, ia keluar kamar dengan wajah kusam dan suasana hati yang buruk. Setelah sebelumnya mengirimkan pesan romantis pada Agya Sofia, tunangannya.
Arkana Rafka
Selamat pagi mentariku. Terlalu bahagia membuatku susah tidur.
Saat menuruni anak tangga menuju ruang makan, ia melihat Alika yang juga baru keluar kamar.
Ingat Om Bayu, Mas! Beliau udah gantiin posisi papa buat kita.
Sekali lagi Rafka merapatkan bibirnya saat mengingat kalimat itu.
"Kamu udah sarapan?" Rafka terbiasa mengalah pada Alika dan kali ini ia akan mengalah lagi. Namun, saat melihat Alika keluar kamar dengan mengendong ransel, kening Rafka berkerut dalam. "Mau kemana?"
Alika menghela napas pelan, lantas mengangkat wajah untuk menatap wajah Rafka. "Mas udah mikirin semuanya?"
Bukannya menjawab, Rafka justru memalingkan wajah dan beranjak ke meja makan.
__ADS_1
"Ini bukan hak kita, Mas!" Alika merapat. Mengejar Rafka, hingga ke meja makan.
"Aku kerja!" Napas Rafka memburu saat melayangkan tatapan tajam pada Alika. "Aku selama ini kerja. Jadi, anggap aja sekarang upahnya."
Mata Alika sudah memerah. Namun, ia memilih diam sejenak untuk mengatur napasnya. "Upah apa, Mas? Hampir sepuluh tahun kita menikmati hasilnya. Menumpang hidup pada warisan Arzan dan sekarang Mas ngomongin upah?"
Tangan Rafka sudah mengepal di bawah meja. Dadanya tampak naik turun, mencoba meredam emosi.
"Aku malu, Mas. Aku malu sama Arzan. Malu sama mendiang Om Bayu. Malu sama mendiang papa."
"Brak!" Rafka bangkit dengan menggebrak meja, hingga membuat Alika menatapnya kaget. Seumur hidup, Alika mengenal Rafka sebagai sosok yang sabar. Bahkan, segala tingkah Alika yang kerap seenaknya selalu dihadapi Rafka dengan tenang.
Air mata Alika kembali menetes. Ia bisa merasakan ada monster di dalam sana dan bisa jadi dia lah penyebabnya.
Alika mau apa? Pasti Mas kabulin.
Alika mau uang yang banyak. Mau keliling dunia dan makan enak kayak waktu masih ada papa.
Alika mengelengkan kepalanya saat mengingat percakapan masa kecilnya itu bersama Rafka. Kemudian, menatap sedih sosok di hadapanya saat ini.
"Mas?" Alika meraih tangan Rafka dan menggenggamnya dengan air mata bercucuran. "Alika nggak mau apa-apa, Mas. Alika cuma mau Mas Rafka yang dulu. Maafin Alika. Maafin Alika."
Tampaknya dinding itu telah terlalu kokoh berdiri karena untuk pertama kalinya, Rafka menepis tangan Alika dan meninggalkan adik satu-satunya itu tanpa sekali pun mau memandangnya.
Semua sudah terlanjur, Alika. Sulit untuk menghentikannya.
***
__ADS_1
Untuk kalian ❤