
Rafis tampak lelah belakangan ini. Ia kerap pulang malam dan langsung tertidur untuk bangun kembali tengah malam. Kemudian, mengurung diri di ruang kerja barunya, hingga pagi.
Ya, studio musik pribadinya kini jarang dikunjungi. Sekarang, Rafis lebih sering berkutat di ruang kerja yang baru-baru ini tercipta di rumah mewah bernuansa klasik tersebut.
Tidak jarang, Agya memergoki suami berondongnya itu tengah malam beringsut turun dari ranjang setelah sebelumnya mengecup pelan dahinya. Kemudian, melangkah menuju ruang kerja.
Ada rasa iba di hati Agya. Ia tahu, tanggung jawab Rafis kini tidak mudah. Ia harus membuktikan eksistensinya kepada para pemilik saham agar usaha mereka tidak goyang. Membangun citra dan relasi sekuat mungkin, agar tidak lagi terdengar nada sumbing yang membanding-bandingkan kinerjanya dengan Rafka.
Agya tidak lagi bisa memejamkan mata. Ia mengibaskan selimutnya, lantas ikut beranjak turun dari ranjang. Kemudian, berjalan menuju dapur untuk membuat cokelat hangat kesukaan Rafis.
Sebenarnya, tubuhnya masih terasa lelah karena ia juga sudah mulai bekerja kembali di kantor papa. Namun, demi suami rasa lelah itu ia singkirnya jauh-jauh.
Uhuk!
Sambil melangkahkan kaki menuju dapur, Agya mengikat cepol rambutnya. Sehingga, memamerkan lehernya yang jenjang. Kemudian, dengan cekatan, ia meraih mug dan mulai sibuk menyeduh cokelat untuk sang suami tercinta. Namun, tubuhnya sedikit berjengit kaget saat sepasang lengan memeluk perutnya dari belakang.
Tidak lama kemudian, sebelah pundak Agya terasa berat karena si tersangka meletakkan dagunya di pundak Agya dengan manja.
"Aku kaget!" protes Agya. Ia tidak berbohong. Ia kira ada hantu yang memeluknya dari belakang.
Rafis hanya nyengir saja. Namun, suaranya terdengar berat saat bertanya, "Kenapa bangun?"
"Bikin cokelat hangat buat suami."
Jawaban Agya tersebut membuat Rafis terkekeh yang terdengar jelas di telinga Agya. Tampaknya pemuda itu masih betah dengan posisinya.
"Aku suka panggilan itu," ujar Rafish pelan sembari mengeratkan pelukannya. Sedangkan, Agya mulai mengaduk cokelat hangat yang baru diseduhnya di dalam mug.
"Aku juga suka leher ini." Rafish menghidu leher Agya yang terekspos, lantas menghirup aroma lembut dari sana. Sehingga, membuat Agya menghindar kegelian dan membuat pelukan Rafis terlepas.
Rafis memajukan bibir bawahnya, menatap Agya kecewa. Imut sekali, hingga membuat Agya terkekeh.
"Suami aku makin hari kok makin ganteng, ya?" Agya melangkah maju, lantas mengusap pipi Rafis lembut. Sedangkan, Rafis langsug mengakupkan tangannya ke atas tangan Agya. Ia benar-benar terlihat lelah.
__ADS_1
"Istirahat kalau capek. Jangan terlalu dipaksa, Sayang," ucap Agya lembut. Namun, bukannya jawaban yang diperoleh Agya, ia justru mendapatkan pelukan dari Rafis.
"Nggak capek kalau bonusnya dipeluk sama kamu."
"Tetep, ya, bucinnya nggak berubah."
Keduanya kembali terkekeh tanpa melepas pelukan. Kemudian, menghabiskan malam dengan berbincang di sofa panjang ruang tengah dengan secangkir besar cokelat hangat di atas meja.
Agya dengan sabar mengusap rambut Rafis yang berbaring di pangkuannya. Ketimbang, kembali ke ruang kerja, Rafis lebih memilih bermanja-manja dengan sang istri. Akibat terlalu sibuk menikmati profesi barunya sebagai pengusaha, membuat Rafish kurang memiliki waktu bercengkrama dengan Agya.
"Suami?"
"Hm?"
"Kenapa kalau kamu lagi di ruang kerja, pintu selalu dikunci?"
Rafis yang awalnya nyaris memejamkan mata akibat terlalu nyaman, kembali menatap Agya dengan hati-hati.
"Kamu nyembunyiin sesuatu?" tebak Agya. "Telponan sama cewek lain? Video call sama mantan? Atau ...."
Agya hanya mencibir. Namun, diam-diam ia bersyukur karena baru dirinya yang mengisi hati Rafis. Hanya dirinya yang baru mengusap rambut Rafis semesra ini.
"Terus kenapa?"
"Janji jangan marah?"
"Marah kenapa?" Agya melotot curiga. "Kamu beneran lagi telponan sama cewek?"
"Astagfirullah, Sayang." Rafis tertawa lagi. "Aku telponan sama Mas Rafka."
"Ha?"
Rafis diam sejenak, sebelum akhirnya bercerita, "Aku butuh belajar banyak tentang dunia bisnis dan Mas Rafka merupakan guru terbaik."
__ADS_1
Usapan tangan Agya di kepala Rafis sempat terhenti. "Kamu ... yakin Mas Rafka nggak sedang bersiasat?"
Rafis menangkupkan tangannya ke atas punggung tangan Agya agar Agya kembali mengusap rambutnya. "Nggak tau, tapi aku percaya semua orang berhak punya kesempatan kedua."
Agya menarik napasnya pelan. Mencoba melapangkan dadanya. Kemudian, bergumam, "Kamu benar."
Keduanya kembali terdiam, hingga akhirnya Rafis benar-benar memejamkan matanya. Menikmati elusan lembut tangan Agya di rambutnya.
"Capek, ya?" tanya Agya setelah lama terdiam. Petanyaan Agya itu hanya dijawab gumaman oleh Rafis dengan mata terpejam.
"Kalau nggak suka, jangan dilakuin. Aku nggak mau sampai kamu kehilangan diri kamu sendiri," ucap Agya lirih.
Agya mengenal Rafis sebagai sosok yang santai dan bebas. Kini, melihatnya harus terikat bekerja di kantor membuatnya jadi merasa bersalah.
Perlahan Rafis membuka matanya. Kemudian, tersenyum tipis. "Dulu belum ada yang aku perjuangkan, sekarang ada kamu yang harus aku bahagiakan."
Rafis bangkit, lantas duduk menghadap Agya dengan hangat. "Nggak semudah itu kehilangan jati diri, Sayang. Aku tetap aku. Bedanya, sekarang ada kamu yang aku prioritaskan."
Perlahan Agya merasa matanya menghangat. Entah kenapa ia merasa hatinya begitu tersentuh, hingga membuat Rafis terkekeh dan menarik Agya ke dalam pelukannya. Kemudian, mengecup sayang dahi wanita di dalam pelukannya tersebut.
"Aku jadi males kerja. Tiba-tiba ingin lembur di kamar aja," bisik Rafis di telinga Agya.
Alamat!
***
Berondong update lagi~
Ada yang ngasih ide aku promo Mas Duda di lapak Berondong, jadi aku update lagi deh, wkwk.
Ini duda bukan sembarang duda. Kalau masih mau baca karya Jika Laudia, yuk baca Pesona Duda Kacamata.
Berasa baca pantun 😌
__ADS_1
Baca dulu baru nolak. Itupun kalau bisa nolak Pesona Mas Duda Kesayangan Jika 😏