Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Lampu lalu lintas baru saja beralih menjadi warna hijau. Membuat kendaraan-kendaraan yang tidak sabaran langsung tancap gas menuju arah tujuan masing-masing.


Begitu pula dengan Rafish. Ia melajukan sepeda motornya bersama seorang gadis berkulit eksotis di belakangnya. Tanpa tahu, ada seorang Agya Sofia yang diam-diam memandangnya kecewa.


Tak perlu khawatir, ku hanya terluka


Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa


Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?


Sebelum kembali membohongi diri


Lagu Runtuh milik Feby Putri yang tadi begitu dinikmati Gya, kini terdengar sangat menyebalkan. Ia ingin buru-buru sampai rumah dan tidur.


***


Berbeda dengan Gya yang ingin cepat sampai rumah, Rafish justru menepikan sepeda motornya. Dari tadi wanita berkulit eksotis yang diboncenginya merengek ingin makan es krim goreng.


Rafish langsung menghampiri penjual dan menyebutkan pesanannya. Sedangkan, wanita tadi memilih mengamankan tempat duduk untuk mereka. Jika sore begini, biasanya pengunjung akan ramai.


"Kenapa?" Rafish datang dengan dua mangkuk es krim goreng. Satu rasa strawberry dan satu lagi rasa cokelat. Ia meletakkan es krim goreng rasa strawberry tepat di depan wanita yang sibuk dengan ponselnya itu. Kemudian, menggeser kursi dan duduk di hadapannya.


"Tumben banget Mas Arkan nggak nyariin gue."


Rafish yang baru mencicipi es krim gorengnya, langsung menaikan sebelah alis. "Emang loe bilang kalau udah balik?"


"Biasanya juga nggak bilang, dia pasti tau kalau gue balik."

__ADS_1


"Sibuk sama yang lain, mungkin."


Wanita itu tampak antusias saat mendengar ucapan Rafish. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja, lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Rafish. "Siapa? Siapa?"


"Mana gue tau! Emang kami akrab?"


Wanita itu memajukan bibir bawahnya. "Dulu akrab," ujarnya pelan, lantas ikut menyendokkan es krim ke mulutnya.


"Zan, gue dengar Pak Haris udah nemuin loe?"


Tampak enggan dengan topik pembicaraan kali ini, Rafish hanya berdeham mengiyakan ucapan wanita tersebut. Tangannya juga terlihat mulai malas menyendokkan es krim rasa cokelat ke mulutnya.


"Gue dengar juga, loe nolak."


"Kalau udah dengar semua, ngapain masih nanya, Bee?"


"Kenapa? Itu kan hak loe?"


Kali ini Rafish tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.


"Btw, sejak kapan loe suka rasa cokelat?" Wanita itu menyipitkan kedua matanya. Sedangkan, Rafish terus saja menyendokkan es ke mulutnya, pura-pura tidak dengar.


***


Pikiran Gya masih tertuju pada penampakan yang dilihatnya tadi sore. Jika dilihat-lihat, wanita yang dibonceng Rafish tadi seusia dengan dirinya. Itu berarti, Rafish memang tidak pernah serius. Buktinya, ada banyak stok kakak-kakak di sekelilingnya.


Gya mengembuskan napasnya keras. Menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu terbawa perasaan. Padahal jelas-jelas itu hanya permainan bocah sial*n. Eh?

__ADS_1


Setelah mengembuskan napas keras untuk kesekian kalinya, ia beranjak untuk meraih handuk. Lebih baik ia mandi untuk menyucikan pikiran dari sisa-sisa pesona berondong.


Lagi pula, kini ia sudah punya Rafka. Pemuda tampan, matang, dan bertanggung jawab. Sudah saatnya menghapus Rafish dari ingatan dan rencana jangka panjangnya.


"Kak?" Gio yang kini sudah kembali bertingkah normal, mulai sering menganggunya lagi dengan masuk kamar tiba-tiba.


"Kenapa?" Ia menolehkan kepalanya ke belakang Gio, mana tahu ada papa.


"Pinjam hoodie, dong."


Gya mengerutkan keningnya. "Hoodie yang mana?"


Gio semakin dalam melangkah masuk. Kemudian, menarik pintu lemari. "Hoodie hitam H&M."


"Nggak boleh!" Gya langsung melompat dan menyambar hoodie yang baru saja Gio keluarkan dari dalam lemari. Kemudian, memeluk hoodie tersebut posesif.


"Pelit amat! Emang punya siapa?" sembur Gio setelah bebas dari keterkejutannya.


"Punya aku!"


"Biasanya juga boleh pinjam."


"Semua boleh, asal bukan yang ini." Gya melangkahkan kakinya menjauh, takut Gio melakukan serangan balasan. Ia masih mendekap jaket tudung berbahan fleece itu erat di dadanya.


"Emang dari siapa, sih?" Gio menyipitkan matanya curiga.


"Punya aku!"

__ADS_1


__ADS_2