
"Kapan kamu balik?"
Wanita itu tampak mengerucutkan bibirnya saat mendengar pertanyaan Rafka. Kemudian, menggoyang-goyangkan tangan pemuda itu, terlihat akrab dan manja sekali. "Udah dua minggu. Biasanya Mas tau tanpa aku kasih tau."
"Mas sibuk."
Wajahnya makin terlihat kesal. Kemudian, ia melepaskan genggaman tangannya dengan kasar, hingga membuat Rafka terkekeh. Sedangkan, Gya hanya menjadi penonton yang kebingungan dengan adegan di depannya.
"Oh, iya, Dek." Rafka menolehkan kepalanya menghadap Gya, lalu melanjutkan, "Kenalin, ini Alika Rasya, adikku."
Alika mengulurkan tangannya ramah pada Gya, sembari kembali mempertegas ucapan Rafka. "Hai! Aku Alika Rasya, adik kembar Arkana Rafka."
"Hah?" Bola mata Gya nyaris melompat. Wanita berkulit eksotis di hadapannya ini adalah adik kandung Rafka. Itu berarti, Rafish akan jadi adik iparnya? Gila!
Tampaknya Alika salah paham dengan respons yang diberikan Gya. Sehingga, ia kembali menjelaskan dengan antusias, "Emang nggak mirip, ya? Kami cuma selisih 15 menit, loh."
Gya tidak lagi mendengar penjelasan Alika. Tiba-tiba pikirannya jadi linglung. Namun, reaksi Alika selanjutnya membuat Gya terpaksa siaga.
"Kita pernah ketemu, kan? Kayaknya nggak asing." Alika menatap Gya penuh selidik, membuat Gya makin gelagapan.
"Sok tau!" Rafka menoyor pelan kepala Alika, hingga membuat Sang Adik kembali menatap Rafka sambil cemberut.
"Dia siapanya, Mas?" selidikan kedua kembali Alika lontarkan. Sepertinya wanita ini cocok jadi advokat.
"Agya Sofia, calon istri Mas."
"Hah?" Kali ini Alika yang melebarkan matanya. Ia bahkan melupakan kecurigaannya pada Gya tadi. Kini fokusnya teralihkan untuk mengintrogasi Rafka. "Kok nggak cerita-cerita? Bisa-bisanya Mas nggak ngasih tau aku hal sepenting ini!"
"Siapa suruh kelayapan mulu. Jadi adik nggak ada perhatiannya."
Gya tidak tahu lagi kakak-adik itu membicarakan apa. Ia masih terlalu terkejut dengan fakta yang didapatnya siang ini. Kenapa saat ia berniat menghapus Rafish, pemuda itu justru seolah menempel terus padanya?
__ADS_1
Lagi pula, fakta jadi kakak ipar si ikan benar-benar bukan kabar baik untuk Gya. Pokoknya, nggak mau!
***
Sejak diantar Rafka pulang, Gya mondar-mandir saja di kamar dengan sebuah telepon genggam di tangannya. Ia sedang menimbang-nimbang untuk mengabarkan informasi mengejutkan yang baru saja didapatnya siang tadi pada Rafish atau tidak.
Atau jangan-jangan, sebenarnya Rafish sudah tau?
Gya melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dengan asal. Sepertinya dugaan yang satu ini benar. Rafish sudah tahu dan sengaja mendekati saudara kembar Rafka. Pasti!
Ia melangkahkan kakinya lebar ke arah tempat tidur untuk mengambil ponselnya lagi. Kemudian, dengan emosi mencari nomor Rafish di daftar kontaknya.
Panggilan terhubung.
"Halo?"
Deg! Gya jadi bungkam lantaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak tahu aturan.
"Halo?"
"Hm, kenapa?"
Gya mendecih mendengar nada suara Rafish yang sok sibuk. Ia mengatur napasnya diam-diam untuk berkata, "Kamu dimana? Aku mau ketemu."
***
Benar kata orang, jangan membuat keputusan dalam keadaan emosi. Inilah yang sedang Gya sesali. Akibat keputusan terburu-burunya, mereka harus duduk dengan canggung di sebuah cafe. Sepertinya bukan mereka, tapi hanya Gya saja yang canggung karena si berondong tampaknya santai-santai saja.
"Ada apa?"
Tuh, kan! Kambuh songongnya.
__ADS_1
"Kamu sibuk?"
"Lumayan."
Oh, Tuhan. Gya tahu dari dulu kalau Rafish punya bakat membuatnya darah tinggi. Tetapi, sikapnya kali ini benar-benar menyebalkan bin mengesalkan.
"Langsung aja, ya ...."
"Hm."
Gya mendelik tajam. Amarahnya sudah sampai ubun-ubun. Dia bahkan segera mengusir kekagumannya sesaat tadi pada Rafish yang terlihat cukup dewasa dengan memakai kemeja lengan panjang berwarna gelap. Apalagi lengan kemejanya yang digulung sampai siku, membuat Gya sempat salah fokus.
"Kenapa?"
Ngomong-ngomong, Rafish sepertinya juga ganti model rambut.
"Kenapa, Agya Sofia?" ulang Rafish dengan sebelah alis terangkat, hingga membuat Gya merasa tertangkap basah.
Gya buru-buru berdeham. Kemudian, menggelengkan kepalanya agar kembali waras. "Niat banget, ya, kamu jadi adek ipar aku?!"
"Hah?"
Gya menarik napasnya dalam. Nyalinya sudah kembali normal. "Alika Rasya, pacar kamu itu adik kembar Mas Rafka. Kamu tau?"
"Tau."
"Hah?" Gya melebarkan matanya, tidak percaya. "Terus, kamu beneran mau jadi adik ipar aku?"
Rafish membalas tatapan Gya dengan tenang. Kemudian, dengan gerakan santai melipat kedua tangannya di atas meja, hingga tatapan mereka terkunci.
Sebuah tindakan yang berhasil membuat Gya tanpa sadar menahan napas. Namun, sebuah seringai menyebalkan perlahan terukir di bibir pemuda itu saat berkata, "Kenapa? Kamu takut tergoda pesona adik ipar?"
__ADS_1
***
Ikan, ikan apa yang nggak sabaran?