
Sepasang sepatu pantofel mengkilap keluar dari sebuah mobil sedan berwarna silver dan berjalan mendekati pagar kediaman Agya yang nyaris tertutup.
"Mas Rafka?" Agya terlonjak kaget saat seseorang menahan pergerakan pagar yang hendak ia tutup.
"Kata Bu Yulia kamu udah pulang jam 9 tadi." Rafka melirik jam di pergelangan tangannya, lalu melanjutkan, "Sekarang hampir jam 12 malam," lanjutnya dingin.
Sebenarnya, Rafka melihat semuanya. Ia melihat kedatangan Agya yang diantar Rafis beberapa saat yang lalu. Ia juga melihat senda gurau sang tunangan dengan pemuda itu.
"Ta-tadi mampir makan dulu," jawab Agya tergagap.
"Murahan!" Meski terdengar seperti gumaman, tapi ucapan Rafka tersebut berhasil membuat hati Agya terluka. Ia menatap Rafka tajam.
"Ingat, ya!" Rafka memegang dagu Agya, lalu mengangkatnya agar tatapan mereka bertemu. "Bukan aku sendiri yang menginginkan hubungan ini. Jadi jangan coba-coba bertingkah!"
"Brak!" Sebuah tepisan kasar berhasil membuat tangan Rafka terlepas dari dagu Agya. Gio maju dan hampir saja melayangkan bogem mentah pada Rafka andai Agya tidak menariknya.
"Kurang ajar loe! Berani loe sama kakak gue?!" Gio masih mencoba maju dengan tatapan berkilat marah.
"Gio, udah!" pekik Agya. Ia mulai kewalahan dan terus menoba mencengkram erat lengan Gio agar adiknya itu tidak lepas kendali.
Rupanya keributan mereka mulai menarik perhatian tetangga. Ayah sambung Rafis bahkan keluar dan menegur mereka.
Rafka yang melihat keadaan mulai tidak kondusif, tampak menarik sebelah sudut bibirnya. "Bocah bisa apa, sih?"
Nyaris saja Gio menendang dada Rafka. Namun, General Manager Hotel bintang lima tersebut telah pergi dan memasuki mobil.
__ADS_1
Entah sebanyak apa sumpah serapah yang Gio teriakkan. Ia bahkan tidak peduli saat dirinya menjadi tontonan para tetangga.
"Brak!" Gio membanting kuat pintu rumah, lantas mencecar Agya dengan berbagai pertanyaan.
"Loe kenapa, sih, Kak?!" Gio menatap Agya tidak habis pikir. "Bisa-bisanya loe ngebiarin brengs*k itu ngomong kayak gitu. Loe bener-bener nggak kayak kakak gue!"
Gio benar. Agya memang telah banyak berubah.
"Berapa kali dia ngasarin loe? Sejak kapan dia berani kayak gitu? Mama tau? Mama harus tau, Kak!" Amarah Gio masih berada di ubun-ubun. Sejak awal, dia memang tidak terlalu suka pada Rafka dan sekarang sudah terbukti kebusukannya.
Agya tetap bungkam. Ia justru memilih beranjak ke kamar, meninggalkan Gio.
"Kalau sampai Rafis tau, gue yakin si*lan itu udah babak belur."
***
Sekali lagi, Rafis ingin memperjuangkan Agya. Pagi ini, ia pergi ke kantor Haris untuk menyelesaikan masalah warisannya. Tentu saja keputusan itu disambut baik Haris selaku kuasa hukum mendiang Bayu Nugroho.
"Bagus! Ini yang saya tunggu. Saya merasa masih memiliki hutang pada Pak Bayu kalau masalah ini belum selesai."
Rafis mengulas senyum. Sebenarnya, ia tidak butuh dengan harta peninggalan ayahnya itu, tapi ini satu-satunya cara untuk menghentikan Rafka.
"Beri saya waktu. Saya akan urus semua surat-suratnya."
Rafis mengangguk setuju, lantas pamit dari sana. Kali ini ia membawa mobil dan sebelum memasuki mobilnya, ia tampak menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Loe di mana? Jawab aja nggak usah muter-muter."
Saat ia telah menemukan jawabannya, Rafis langsung meluncur membelah jalanan kota. Semoga keputusannya kali ini sudah tepat.
***
"Sori, Zan. Gue bener-bener malu sama loe."
Rafis tertawa mendengar permintaan maaf Alika, lantas menyentil pelan keningnya. "Dari kecil, gue sering bikin loe nangis dan sekarang udah gede, loe masih nangis gara-gara gue."
Alika tersenyum, lalu mengusap air matanya. "Gue nggak pernah nyangka kalau pada akhirnya kami justru jadi musuh dalam selimut buat loe."
"Cie! Lagi naksir Guru Bahasa Indonesia, Non? Puitis amat kalimatnya."
Alika merengutkan wajahnya. Namun, kemudian akhirnya ia ikut tertawa juga. Meski, dari tatapannya masih tergambar rasa bersalah yang begitu besar. Menyakiti hati orang baik, rasanya sangat mengerikan.
Merasa sudah menyelesaikan masalahnya dengan Alika, Rafis kembali memainkan ponselnya. Ia mencari nama Agya, lalu mengetikkan sebuah pesan untuknya.
Rafishqy Arzan
Mau makan siang bareng?
11.47 WIB
Namun, hingga petang, pesan itu tidak juga kunjung dibalas.
__ADS_1