
Beberapa hari telah berlalu, tapi papa belum menunjukkan tanda-tanda sadar. Agya juga sudah mulai harus membagi waktunya untuk bekerja dan menemani papa di rumah sakit. Ia tidak boleh membuat keadaan perusahaan yang goyang semakin karam.
Semakin melihat kondisi papa, semakin Agya merasa bersalah. Ia teringat malam itu. Tepat di malam usai pertunangannya, ia berteriak dan menyudutkan papa atas kondisi yang menimpanya saat ini. Mengatakan hal-hal yang pasti membuat papa sakit hati dan kecewa.
Tanpa sadar, air mata Agya menetes. Ia mengusapnya cepat, lantas kembali menyeka tangan papa dengan air hangat. Sedangkan, ia sendiri masih memakai seragam kerja dan tampak begitu lelah.
"Gimana sih, Gie?"
Agya menoleh pada mama yang sedang duduk di sofa dengan pandangan terfokus ke layar laptop. Istri Bastian tersebut sedang menganalisis laporan statistik perkembangan perusahan keluarga mereka.
"Udah lebih sebulan, tapi pemasukan makin minim. Nggak ada investor. Nggak ada strategi yang berhasil. Belum lagi bayar gaji karyawan. Lama-lama, bisa minus kalau gini terus." Mama menegakkan tubuhnya, tidak lagi memandang laptop karena semakin ia lihat semakin ia risau.
"Pengobatan papa kamu juga biayanya nggak sedikit. Nggak mungkin kan kita bergantung sama Nak Rafka terus?" lanjut mama gusar. Kemudian, ia meremas tangannya sendiri dengan pandangan lemah. "Mana mungkin perusahaan kita bisa bertahan kalau kayak gini terus."
"Ma?" Agya berjalan mendekat. Ia meninggalkan kursi di samping ranjang papa dan duduk di samping mama. "Gya punya rencana, tapi butuh modal yang cukup besar. Gimana kalau ...." Agya tampak ragu sejenak dan baru melanjutkan saat ia menggenggam tangan mama. "Kita melepas cabang di Semarang."
"Maksud kamu dijual?"
Agya mengangguk dan saat itu juga mama menepis tangan Agya dari tangannya. "Bukannya nambah, kamu malah mau ngurangin aset!"
Mama berdiri, tampak emosi. "Makanya dari awal mama nggak setuju perusahan kamu yang handle. Mama belum percaya sama kamu. Coba aja Nak Rafka yang urus, mungkin kita nggak akan terjebak dikondisi kayak gini."
__ADS_1
Kalau sudah begini, Agya hanya memilih diam. Mungkin benar, memang dia yang tidak becus.
***
"Cewek!" Saat Agya ke luar dari rumah sakit, ia dikejutkan oleh suara seseorang yang sepertinya memang sengaja menunggunya di pintu utama. "Makin malem makin cantik aja."
Agya mendecih, lantas menatap Rafis dengan malas. "Ngapain ke sini?"
"Tiba-tiba aku laper, makanya ingat kamu."
Mata Agya melebar. "Kamu kira aku makanan?"
Sontak saja Agya memukul lengan Rafis. Selain merasa geli, ia juga merasa jantungnya berdebar tidak karuan. Sedangkan, Rafis justru meledakkan tawa.
"Kamu tau dari mana aku pulang sendiri?" selidik Agya. Malam ini ia memang pulang sendiri karena mama memutuskan untuk menginap.
Bukannya menjawab, Rafis justru meraih tangan Agya dan menggenggamnya. Kemudian, menggandeng tangan gadis itu dan berjalan bersama ke luar rumah sakit bersama.
Tau dari mana? Tentu saja dari Gio si Narasumber.
Bukannya makan, Agya dan Rafis justru mengelilingi kota dengan sepeda motor. Mereka ingin menghabiskan waktu begini saja. Keduanya, sama-sama tidak ingin malam ini cepat berlalu.
__ADS_1
Agya menghirup napasnya dalam, lantas melingkarkan tangannya ke pinggang Rafis. Kemudian, menyenderkan dagunya ke atas pundak pemuda itu. Sedangkan, Rafis sontak tersenyum senang dan mengusap lembut punggung tangan Agya.
"Muhammad Rafishqy Arzan?"
"Hm?"
Agya melirik spion sepeda motor, seolah sedang menunggu sesuatu. Baru kemudian berkata, "Aku harap ... terlambat."
Ucapan Agya tidak sepenuhnya di dengar Rafis karena sepeda motor mereka didahului oleh sebuah mobil pengankut sampah dengan suara mesin yang kasar.
"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Rafish saat mobil pengangkut sampah itu berlalu. Ia bahkan memelankan laju sepeda motornya.
Agya menggeleng. "Aku lapar."
***
Nb. Belum dibaca ulang. Monmaap kalau ada typo
Readers: Kenapa nggak dibaca ulang dulu baru dipost, Jika?
Jika: Laper 🙄
__ADS_1