
Ada kejutan di hari pertama Rafis dan Agya pindah ke rumah mereka. Rafis sengaja mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang keluarga inti saja. Makan, bercengrama dan saling mendoakan. Itu saja.
Saat-saat bersenda gurau itulah sebuah mobil sedan masuk ke perkarangan dan terparkir di sana. Semua yang hadir tentu saja hafal dengan kendaraan mewah tersebut, terlebih Agya yang langsung merapat ke arah Rafis dan mengamit lengannya khawatir.
Rafis mengusap punggung tangan Agya, lalu tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa. Aku yang undang."
Reaksi Agya tampak tidak terima, terlebih Gio yang sudah melangkah maju menuju pintu. Dari mobil sedan silver itu keluar Rafka, Alika, seorang wanita yang sedang hamil besar dan dua anak kecil. Satu digendong Rafka dan satu lagi yang lebih besar di gandeng Alika.
"Assalamualaikum."
Suasana sempat terasa canggung. Namun, Rafis beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan keluarga kecil itu. "Waalaikumsalam."
Rafis berdiri di dekat pintu, lalu menepuk pundak Gio yang berdiri di dekatnya. Kemudian, dengan sopan mempersilakan Rafka sekeluarga masuk.
"Masuk, Mas."
Rafka tampak lebih sering menundukkan kepala, begitu juga dengan yang lainnya. Kemudian, dia duduk di sofa, tanpa bicara.
Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan hari ini dan semuanya butuh mental. Pertama, Rafka bersimpuh di depan Pak Bastian dan memohon maaf pada Ayah Agya tersebut. Ia menyesal karena telah memanfaatkan keadaan Bastian demi ambisinya.
Bastian dengan welas asih memaafkan. Pria berwibawa itu dengan bijaksana mengambil hikmah dari semuanya. Ia bahkan menarik tubuh Rafka agar berdiri dan duduk kembali ke sofa.
Selain dengan Bastian, tentu saja Rafka juga meminta maaf pada Yulia dan Diana, ibu dari Agya dan Rafis. Terlalu banyak orang yang ia perdaya.
"Maaf tentu kami berikan. Kalau melupakan, semoga bisa pelan-pelan."
Rafka mengangguk paham mendengar ucapan Bastian tersebut. Kepalanya masih tertunduk. Di sampingnya ada sang istri yang menggenggam tangannya, mencoba menguatkan.
"Maaf kan, saya Agya. Walau saya tidak pantas mendapat maaf darimu, tapi izinkan saya mengucapkan maaf."
Agya kembali mencengkram lengan Rafis yang duduk di sampingnya. Kemudian, menatap wajah Rafis saat sang suami mengusap punggung tangannya. Harusnya, bukan hanya dia saja yang terluka, tetapi Rafis juga. Namun, laki-laki itu tampak dewasa sekali.
Suasana terasa hening karena tidak satu pun yang bicara, termasuk Gio. Meski pemuda itu masih sangat marah, tetapi ia juga tidak punya hak menghalangi niat baik orang untuk meminta maaf.
Memaafkan bukan perkara mudah. Ada unsur ikhlas, ilmu tertinggi, di dalamnya. Namun, keberanian untuk meminta maaf juga bukan perkara yang bisa diremehkan.
"Saya ... maafkan," ucap Agya akhirnya, tertahan.
Semuanya tersenyum lega, sekaligus bangga. Sebenarnya, ini bukan demi si peminta maaf, tapi demi hati Agya yang pernah tersakiti. Setidaknya, kini hati itu tidak lagi disisipin marah dan dendam.
"Alhamdulillah." Alika mengusap wajahnya bahagia. Ia tahu keadaan tidak akan kembali seperti semua, tetapi setidaknya, mereka tidak lagi selalu dihantui rasa tidak tahu diri. "Terima kasih, Agya."
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Rafka dengan kepala tertunduk. "Setelah ini, kami akan pergi ke luar negeri. Semoga kalian selalu bahagia."
"Mas?"
Rafka mengangkat wajahnya, saat mendengar memanggilnya seperti dulu. Kemudian, menatap putra ayah angkatnya itu. "Sudah menemui Om Haris? Temui dia dulu."
Entah apa yang direncanakan Rafis, yang jelas Rafka bisa menemukan ketulusan di sana. Ia berdiri dan memeluk pemuda itu seperti dulu. "Maaf, Zan. Maafin saya."
Rafis tersenyum seprti biasa. Pemuda murah senyum itu hanya menepuk pundak Rafka beberapa kali. Kemudian, melepaskan pelukannya. "Maaf juga karena sudah menantangmu, Mas."
Untuk pertama kalinya Rafka akhirnya tersenyum. Ia langsung berniat pamit dan menolak ajakan makan siang bersama. Ia cukup tahu diri.
Alika ikut berdiri dan langsung memeluk Rafis. Tangis wanita eksotis itu sudah pecah dan Rafis justru menggodanya agar jangan cengeng lagi.
"Malu sama style tomboy."
Alika memukul lengan Rafis saat mendengar olok-olok itu. Kemudian, dengan santainya, Rafis memeluk wanita itu lagi sambil tergelak.
Mereka tidak tahu saja, ada mata yang sudah membulat kaget dengan darah yang mendidih sedang menatap mereka.
***
Dua orang asisten rumah tangga Rafis sedang membereskan dapur saat Agya datang membantu. "Nggak usah, Mbak. Biar kami aja."
"Nggak apa-apa, Bi. Lagian aku belum ngantuk."
Rafis yang mendengar dialog itu menatap istrinya penuh syukur. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika kemarin ia benar-benar kehilangan Agya.
Melihat Agya mulai terlibat obrolan asik bersama asisten rumah tangganya, Rafis memutuskan menuju ruang kerja. Ada beberpa proyek yang tertunda akibat kegalauan hatinya kemarin dan sekarang ia akan curi-curi waktu untuk menyelesaikannya.
Ya, curi-curi waktu. Namun, nyatanya ia di sana sampai tengah malam. Ia tidak tahu sang istri yang menunggu di kamar sudah mengerucutkan bibirnya, siap merajuk.
Agya menarik bantal di bawah kepalanya, lalu membantingnya ke atas ranjang. Baru beberapa hari menikah sudah ditinggalkan tidur sendirian begini.
Agya bangkit, lalu menuju lemari. Sebagai korban perfilman dunia, Agya menarik kemeja putih milik Rafis dan memakainya. Kemudian, melepaskan ikat rambutnya, lantas menyeringai.
Ia berjalan keluar kamar. Beruntung rumah telah sepi, jadi ia bisa leluasa menghampiri Rafis ke ruang kerjanya dengan pakaian ... hm.
Krek!
Pintu ruang kerja terbuka. Rafis yang memakai kaca mata baca dengan duduk di sofa tunggal dengan berselonjor kaki, tampak menoleh dan terkejut saat melihat Agya menyembulkan kepala di daun pintu. Ia benar-benar lupa, jika punya istri.
__ADS_1
"Eh? Agya. Belum tidur?" Rafis memindahkan laptop yang ada dipangkuannya ke atas meja, lalu menurunkan kakinya. Ada kertas-kertas berserakan juga di meja tersebut.
Agya melangkah masuk dan menutup pintu itu kembali tanpa suara. Sedangkan, Rafis tampak tertegun melihat penampilan istrinya itu.
Hanya dengan mengenakan kemeja putih dan hot pant berwarna hitam saja mampu membuat Rafis tidak berkedip. Apa lagi dengan rambut tergerai seperti itu sukses membuat Rafis mengikuti setiap pergerakkan Agya dengan meneguk ludah.
Saat Rafis hendak berdiri, Agya justru menahan dadanya, lantas memilih duduk di atas pangkuan Rafis dan saling bertatapan. Arg!
Tentu saja Rafis tersenyum manis. Dadanya sudah berdebar tidak karuan. Terlebih saat Agya dengan gerakan lambat membuka kaca mata bacanya, lalu meletakkannya ke atas laptop. Kemudian, melepas satu demi satu kancing kemeja Rafis, lalu menelusuri dada pemuda itu dengan jemarinya, hingga naik ke wajah dan berhenti di bibirnya.
Perlahan Agya mendekatkan wajah mereka, lalu tanpa aba-aba mengecup pelan bibir Rafis. Hanya sebentar saja, tetapi mampu membuat napas Rafis tersengal. Tatapannya sudah mulai tidak fokus. Matanya hanya terus tertuju pada bibir Agya yang basah.
Agya tersenyum miring, lalu sekali lagi melu**t bibir Rafis. Kali ini lebih lama dan menuntut. Tentu saja Rafis dengan senang hati mengimbanginya. Ia memeluk pinggang Agya, hingga sebuah gesekan di bawah sana, membuatnya semakin terbakar.
Agya melepaskan ciumannya lagi saat Rafis belum merasa puas, hingga membuat pemuda itu menatapnya kecewa. Kemudian, dengan gerakan lembut mengusap bibir Rafis yang basah oleh ulahnya.
"Sayang ...." Suara Rafis terdengar serak. Ia mencoba melanjutkan keni*matan tadi, tetapi Agya tidak mengizinkan. Wanita yang sedang tidak banyak bicara itu, malam ini ingin mendominasi.
Rafis meneguk ludahnya lagi. Kali ini ia bahkan memejamkan matanya, saat merasakan pinggul Agya bergoyang. Semakin lama, semakin dalam.
"Gya ... aku ...." ucapan Rafis tidak selesai. Ia kembali membuka matanya dan menatap Agya penuh permohonan. Teman kecilnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
Agya tersenyum, lalu menurunkan tangannya ke bawah dan sekali lagi Rafis mengerang saat tangan jemari lentik istrinya itu bermain di sana. Kali ini ia bahkan menggigit bibir bawahnya.
Rafis yang tidak tahan lagi, langsung menekan tengkuk Agya dan kembali menyesap sensasi manis tadi. Tangannya kini bergerilya menyusup ke dalam kemeja Agya. Melakukan apapun yang ia mau. Menikmati sensasi akibat ulahnya sendiri. Namun, pergerakan tangannya terhenti saat Agya mendorong dadanya pelan. Kemudian, mengusap peluh di pelipis Rafis dan berkata dengan mesra.
"Mandi sana! Tubuh kamu bekas pelukan cewek lain."
Setelah mengucapkan kalimat sadis tersebut, Agya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rafis yang hampir menangis.
***
Jangan dicontoh! Dosa, ini dosa!
Tantangan selesai.
***
Yuk! Move on dari Berondong. Dari pada keliling tak tentu arah nyari novel lain, aku punya rekomendasi novel yang bagus banget nih buat kamu. Jangan lupa tinggalkan jejak di sana, ya ....
__ADS_1