
"Aku salah satu orang yang nggak membutuhkan penjelasan tentang siapa dirimu."
Sejenak Rafish tertegun. Ia membiarkan Gya memeluknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Namun, anehnya Rafish merasakan hatinya tersentuh, hingga air mata yang tadi mati-matian ia sembunyikan akhirnya lolos juga.
Sebenarnya Rafish paling tidak suka ketika orang lain membahas tentang sang ayah, tapi Gya berbeda. Tanpa Gya minta, Rafish rela menceritakan semuanya. Sebenarnya, apa yang membuat Gya begitu mudah masuk di sudut tersempit hati Rafish?
Bibir Rafish perlahan bergetar, diikuti oleh air matanya yang kian deras mengalir. Rafish malu. Ia malu pada dirinya yang selalu lemah jika sudah membicarakan sang ayah, tapi kali ini ia tidak peduli.
Perlahan Rafish menenggelamkan wajahnya di pundak Gya. Tangis itu akhirnya kian pecah. Gya benar-benar berhasil membuatnya hilang kendali.
"Papa pergi sendirian. Nggak ada yang percaya sama papa, termasuk ... mama."
Gya merasakan hatinya ikut pedih. Ia bisa merasakan Rafish begitu hancur ketika menyusun kata demi kata yang keluar dari bibirnya.
"Tapi ada kamu. Kamu percaya."
Rafish menggeleng. "Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Nama papa tetap kotor walau sekarang dia udah nggak ada di dunia ini. Aku nggak beguna, Gi."
Gya tidak menjawab lagi. Ia memilih mengeratkan pelukannya pada Rafish. Ia juga tidak membiarkan Rafish bicara lagi karena setiap Rafish bicara seolah ia sedang membuka luka lamanya sendiri.
Terkadang jarak bisa terkikis oleh senyuman, namun sering kali jarak menghilang karena sebuah tangisan dan ... Gya merasakan itu.
***
Setelah kejadian semalam Rafish belum juga kelihatan. Padahal Gya belum sempat mengabarkan tentang sidang skripsinya hari ini.
"Ayo! Gi."
Gya yang sedang celingak-celinguk ke rumah Rafish langsung tersentak. Ia menoleh dan mendapati Bastian sudah rapi berdiri di dekat mobil. Hari ini ia memang di antar ke kampus oleh sang ayah karena bawaan bukunya cukup banyak juga.
"Sukses, ya, Sayang. Kamu itu anak Mama yang cerdas. Jangan gugup." Yulia datang menghampiri dan langsung memeluk putri sulungnya. Tidak lupa ia mendaratkan kecupan singkat di dahi Gya.
__ADS_1
Sebenarnya, Yulia juga berniat ikut mengantar Gya, tapi Gya menolak. Ia takut akan semakin gugup kalau melihat ke dua orang tuanya nanti.
"Doain, ya, Ma."
"Pasti." Yulia mengelus sayang puncak kepala Gya. Meski mereka sering terlibat adu mulut, tapi sebenarnya sangat saling menyayangi.
"Sukses, ya, kakak aku. Jangan malu-maluin adikmu ini." Gio yang sudah mengenakan seragam putih abu-abunya langsung berlari dan menabrak Gya dengan pelukan. Adik kecilnya ini memang kadang-kadang manis juga, mirip ....
"Ayo, Gi! Nanti terlambat." Bastian kembali bersuara yang disambut anggukan oleh Gya.
Gya langsung mencium tangan Yulia dan mencubit pipi Gio sekilas. Kemudian, berlari mendekati Bastian, lantas ikut masuk ke dalam mobil.
Pandangan Gya sesekali masih tertuju ke arah rumah si berondong. Rafish mana, sih?
***
Gya menjawab pertanyaan tentang alasan memilih judul, rumusan masalah, hingga proses pengumpulan dan analisis data dengan begitu lancar, hingga membuat Bu Erni tersenyum bangga. Namun, di sesi terakhir ada sebuah pernyataan yang membuat Gya sempat terdiam.
Gya mengerutkan dahinya. Pertanyaan dosennya ini lucu sekali.
"Tentu saja benar, Pak."
Prof. Dr. Jailani, MM tersenyum miring. Dosen berkepala plontos itu benar-benar selalu terlihat menyeramkan di mata Gya.
"Bukan rahasia umum lagi kalau jasa pembuatan skripsi menjamur."
"Tapi skripsi ini jerih payah saya sendiri. Meski mungkin hasilnya tidak maksimal di mata Bapak, namun itu cukup membuat saya bangga. Biarlah jasa pembuat skripsi menjamur dan hasilnya luar biasa sekali pun. Namun, kalau nyatanya itu bukan hasil kerja keras saya sendiri, kebanggaan itu tidak akan pernah saya dapatkan."
Dosen berusia hampir 60 tahunan itu menatap Gya tajam, namun Gya tidak gentar karena nyatanya semua yang ia ucapkan adalah benar.
"Anda merasa saya tuduh?"
__ADS_1
"Tidak. Saya merasa sedang Anda uji."
Ekspresi dingin itu perlahan berubah menjadi ekspresi geli. Jai terkikik, lalu bertepuk tangan yang disusul oleh tiga orang dosen lainnya.
"Selamat Agya Sofia, SE."
Gya mengembuskan napasnya lega. Ia berdiri, lantas tersenyum sumringah. Kemudian, berjalan mendekati para dosen dan menyalami mereka satu persatu.
Gya keluar ruangan dengan ucapan syukur yang tidak ada putusnya. Ia tertawa lega ketika Citra langsung menghambur dan memeluknya erat. Disusul oleh ucapan selamat teman lainnya.
Beberapa buket bunga bahkan Gya dapatkan. Termasuk dari Adanam yang gosipnya menaruh hati pada Gya sejak semester satu. Tidak lengkap rasanya melakukan perayaan tanpa foto-foto dan itu yang mereka lakukan sekarang. Gya begitu bahagia. Namun, masih ada yang mengganjal di hatinya. Kemana Rafish?
"Gya!"
Deg!
Gya menoleh dengan senyum mengembang, namun senyumnya sedikit memudar ketika yang memanggilnya ternyata adalah Rafka bukan Rafish. Rafish lagi?
"Hai! Mas. Kok bisa nyampe sini?" sapa Gya ramah. Ia berjalan mendekati Rafka setelah pamit pada teman-teman seperjuangannya.
"Nyari kamu. Selamat, ya, Agya Sofia, SE." Rafkan menyodorkan sebuket besar bunga mawar merah muda pada Gya, hingga membuat Adanam meliriknya dengan minder.
Gya tersenyum malu-malu, lalu meraih buket bunga tersebut. "Makasih, Mas."
Rafka ikut tersenyum, lalu mengangguk. Ia menolehkan kepalanya pada rombongan teman Gya, lantas berujar, "Ayo makan! Saya teraktir."
Mendengar ajakan Rafka tersebut, semua jadi bersorak bahagia. Rafka benar-benar bisa dengan mudah membaur bersama teman-temannya.
Gya tersenyum lagi, lantas ikut beranjak pergi keluar gedung fakultas menuju parkiran bersama Rafka dan empat orang temannya. Sesekali Rafka tampak berbisik di telinga Gya, hingga membuat Gya tersenyum geli.
Seseorang baru saja tiba di depan ruang sidang dengan napas tersengal. Tampaknya ia baru saja berlari. Di tangannya ada sebuah cokelat dengan pita berwana merah yang terikat rapi. Laki-laki itu menatap kepergian Gya yang sedang tersenyum bahagia dengan pandangan tidak terbaca.
__ADS_1
Laki-laki itu ... Muhammad Rafish.