Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Hai, Agya Sofia ...


Masih ingat pertemuan pertama kita?


Rafish tersenyum. Senyum yang entah kenapa selalu berhasil membuat Gya hanyut di dalamnya.


Malam itu, hari pertama aku mulai bergabung dengan keluarga baru mama. Rasanya berat sekali. Setiap kali melihat mereka berdua, aku merasa seperti sedang mengkhianati papa.


Satu-satunya cara yang bisa kupikirkan untuk mengurangi sesak di dada saat itu hanya melarikan diri ke taman dan berteriak. Tapi, rupanya teriakanku justru membuat tetangga cantik marah-marah.


Lagi-lagi Rafish tersenyum saat mengenang kejadian itu. Senyum yang selalu berhasil menular dan membuat Gya tanpa sadar ikut tersenyum.


"Nggak usah ngerasa hidup sendirian, deh! Kalau ada masalah sini cerita sama gue. Bukan loe yang ditakdirkan sendirian, tapi loe yang nggak ngasih kesempatan orang lain buat masuk ke dalam hidup loe."


Itu kalimat pertama kamu buat aku. Tapi, habis itu malah kamu yang cerita sambil nangis-nangis.


Kali ini Rafish terkekeh, tidak bisa menahan geli di dadanya.


Gya ingat malam itu. Sama seperti Rafish, saat itu yang bisa ia lakukan hanya melarikan diri ke taman. Malam itu, ia merasa begitu iri pada Gio yang selalu bisa hidup semaunya. Kecerobohan Gio jadi tanggung jawab Gya. Kekalahan Gio jadi kesalahan Gya. Semua tentang Gio dan Gya hanya figuran saja.


Mungkin itu sebabnya, selama ini Gya selalu berusaha tampil sempurna. Agar bisa mengimbangi Gio yang diakui tanpa harus repot-repot membuktikan apapun.


Berniat menangis sendiri di gelapnya taman, tapi justru niat Gya itu diganggu oleh Rafish yang berteriak keras sekali. Membuat Gya bangkit dan memarahi bocah yang memakai hoodie hitam tersebut.


"Nggak apa-apa. Aku ada disini." Adalah kalimat pertama yang diberikan Rafish untuknya. Remaja yang bahkan baru ditemuinya sekali itu, bahkan memberikan hoodie hitam tersebut padanya. "Dingin nggak bagus buat hati."

__ADS_1


Ucapan Rafish tersebut membuat Gya melongo, lalu terkekeh. Sejak dulu, Rafish memang selalu ada untuknya.


Agya Sofia ...


Kamu tau apa yang membuatku begitu mudah menyukaimu? Karena kamu membuatku tau cara menerima diriku sendiri.


Ini kado kedua untuk kelulusan Agya Sofia dari Muhammad Rafishqy Arzan.


Video berhenti tepat saat Rafish mengedipkan sebelah matanya. Membuat Gya mau tidak mau memutar malas bola matanya. Tapi lucunya, video tersebut selalu rutin ia putar sebelum tidur. Sama seperti malam ini.


***


"Udah dong, Ma. Jangan nekan Kak Gya terus!" Terdengar suara Gio meninggi saat Gya baru saja melangkahkan kakinya masuk ke rumah.


Ini kali pertama ia pulang sendiri tanpa diantar Rafka. Seperti yang sudah Gya katakan, sekarang ia pulang dan pergi bekerja sendiri dengan mengendarai mobil papa.


"Biarin mereka yang nentuin. Percaya aja sama Kak Gya kenapa, sih?"


Gya menautkan alisnya saat melihat mama dan Gio bersitegang di ruang tengah. Apa lagi saat mendengar namanya disebut-sebut.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Gio menoleh sebentar pada Gya, lalu berjalan menuju kamarnya dengan langkah lebar. Raut wajahnya terlihat kesal sekali.

__ADS_1


"Gio kenapa, Ma?"


Mama berjalan mendekati Gya, lalu mengajaknya duduk di sofa. "Nggak apa-apa. Adek kamu itu emang begitu, kan?"


Kening Gya kembali mengernyit, meski tidak sedalam tadi. "Papa mana?"


Mama tidak langsung menjawab. Ia menarik tangan Gya, lalu menggenggamnya. "Lagi terapi. Diantar Rafka."


Gya mengangguk. Harusnya ia yang mengantar papa terapi, tapi karena kesibukannya ia jadi lupa jadwal terapi papa.


"Gya?"


Gya sudah tahu, pasti ada alasan dari sikap mama yang terlampau hangat ini. Namun, ia memilih untuk tidak menerka-nerka alasannya.


"Ya?"


"Kamu tunangan dulu, ya, sama Rafka. Mama udah sepakat, pertunangannya minggu depan."


Gya tidak lagi terkejut mendengarnya. Ia mengulas senyum hambar, lalu menatap mama dalam.


"Ma?"


"Hm?"


"Menurut Mama, cinta itu penting nggak?"

__ADS_1


***


Btw, Terjerat Cinta Berondong diusahakan terbit setiap hari pukul 23.01 WIB, yaw.


__ADS_2