
Niat hati mencari tahu identitas om-om tempo hari, malah berujung dapat panggilan "Kak" dari Rafish. Setelah mengucapkan kalimat penuh ketegasan itu, Rafish meninggalkan Gya begitu saja tanpa pamitan manis seperti biasa.
Sepele, tapi faktanya Gya merasa hatinya sesak seharian. Bahkan, saat jadwal wisuda akhirnya rilis, ia tetap tidak merasa bahagia.
"Bagus, dong! Dari dulu kan gue emang nyuruh loe manggil kakak." Gya mengetuk kepalanya sendiri. "Harusnya tadi gue ngomong gitu."
Gya masih menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berhasil membela diri dengan sepatah kata pun. "Gue malah melongo aja ngeliat dia pergi. Harusnya gue yang pergi duluan kayak biasa. Kalau perlu harusnya gue tendang ban motornya!"
Percakapan dengan diri sendiri itu entah kapan akan berakhirnya. Sepanjang malam, Gya memilih mondar-mandir ke jendela sambil memaki Rafish dalam penyesalan.
"Loe kira loe sepenting itu, Fish? Enggak!"
Yah, begitulah ... Perempuan emang suka berdebat dengan dirinya sendiri. Ini rahasia.
***
"Kak, Kak, Kak!"
"Apa?!"
__ADS_1
"Ya, Allah. Kurangin napa galaknya!" Gio memegang dadanya sendiri. "Pantes ikan nggak tahan, terus nyari pelet lain."
"Hah?" Gya tidak bercanda. Ia memang tidak paham dengan ucapan adik setengah normalnya tersebut.
"Keluar, deh. Tapi, pastiin stok oksigen di dada kakak banyak. Takut pingsan." Setelah mengucapkan kalimat yang sama-sama anehnya, Gio ngeluyur pergi.
Gya yang berniat memasak nasi goreng jadi tidak tenang. Ia akhirnya memutuskan keluar sesuai saran Gio. Hal yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Ia membenarkan ikat rambutnya sejenak, lalu melangkah keluar rumah. Tentu saja ia tahu, kemana ia harus menoleh, ke rumah Rafish!
"Ada apa, sih?" gumam Gya dengan kepala menyembul di daun pintu. Kondisi aman terkendali. Ia kira akan ada ribut-ribut seperti pagi dulu.
Gya menolehkan kepalanya ke dalam rumah dengan mulut komat-kamit menyumpahi Gio karena lagi-lagi merasa dibodohi. Namun, kepalanya kembali ia tolehkan ke luar pintu saat terdengar suara tawa yang familiar untuknya.
Gya diam-diam mencibir karena semalaman ia susah tidur, eh si berondong justru cekikikan bahagia. Namun, fokus Gya teralihkan pada seorang wanita berhidung mancung, dengan warna kulit sawo matang yang baru keluar dari garasi.
"Yakin loe? Ntar nyesel," ucap wanita itu, lalu duduk di samping Rafish. Tubuhnya terlihat sehat dan berotot. Namun, masih sedap dipandang.
"Nggak! Nggak bakalan nyesel."
__ADS_1
"Tapi kali ini gue mau hadiahnya beda."
"Apa?"
Wanita itu bukannya menjawab pertanyaan Rafish, tapi justru mencondongkan tubuhnya dan berbisik ke telinga pemuda itu. Hingga membuat Gya kesal melihatnya.
Eh? Ngomong-ngomong dia sedang menguping?
Gya melangkah mundur saat menyadari perbuatannya. Ia berjongkok, lalu jalan jongkok menuju pintu rumahnya. Namun, sesaat ia menoleh lagi saat mendengar keduanya kembali tertawa.
Siapa perempuan itu? Misteri om-om kemarin saja belum selesai, sekarang sudah ada wanita sexy.
"Nyari apa, Kak?"
Gya melompat kaget. Ia berdiri dengan kikuk menatap Rafish yang rupanya sedang memandangnya dari balik pagar. Di sampingnya, berdiri pula wanita berkulit eksotis tadi sedang melakukan hal yang sama. Membuat Gya seolah merasa tertangkap basah dan dihakimi.
"Sejak kapan gue nikah sama Abang loe?" sembur Gya, mencoba menenangkan situasi.
Rafish diam saja. Pemuda berwajah rupawan itu hanya diam dan terus menatap Gya. Sedangkan, wanita di sampingnya sudah terkikik geli.
__ADS_1
"Udah, Zan. Ayo pulang."
HAH? PULANG?