Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Lima Puluh


__ADS_3

Degup jantung Agya kali ini berbeda dari biasanya. Ritmenya begitu pelan dan tenang. Namun, mampu membuatnya lupa cara bernapas. Sehingga, sesekali Agya terpaksa mengembuskan napasnya lewat mulut agar ia tidak jatuh pingsan akibat kehabisan oksigen.


Lantunan surat Ar-Rahman yang tiba-tiba Rafis bacakan sebelum akad dimulai, begitu membuat hadirin tersentuh. Agya sempat melirik Rafis diam-diam, sebelum akhirnya menundukkan kepalanya lagi. Desir tidak biasa kembali mengalir di dadanya.


Puncaknya adalah saat ijab dan kabul diikrarkan. Jangan tanya pada Agya bagaimana rasanya. Karena saat kalimat yang konon berhasil menggetarkan langit itu diucapkan, Agya bahkan tidak berani bergerak sedikit pun.


Air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata akhirnya menetes juga saat saat kata "sah" ditimpali para saksi. Agya tidak bisa menahan tangisnya, hingga sebuah tangan yang hangat dan lembut, mengusap pelan air mata di pipinya.


Tangan itu ... tangan milik suaminya, Muhammad Rafisqy Arzan.


***


Orang pertama yang Agya hampiri usai sah menjadi seorang istri adalah papa. Ia bersimpuh di depan papa, lalu mendekap erat cinta pertamanya itu dengan isak tangis.


Niat hati menenangkan Agya, tapi papa justru ikut terjebak dalam tangis yang sama. Ia mengusap punggung Agya dengan air mata bercucuran dan memberikan begitu banyak doa tulus. Sedangkan, Gio yang berdiri di dekat Rafis sedang tersenyum bangga karena berhasil menjadi wali nikah di usia semuda ini.


"Terima kasih, Rafis." Papa mengangkat wajahnya, menatap Rafis, yang dengan cekatan langsung Rafis dekati. Kemudian, ikut duduk bersimpuh dan mencium punggung tangan papa dengan khidmat.


Usai dengan haru birunya, Agya segera mencari mama yang duduk menepi. Namun, mama seolah dengan sengaja menyembunyikan dirinya dan terus menundukkan kepala.


Agya berjalan mendekati mama. Kemudian, tanpa sepatah kata pun, ia memeluk erat ibu kandungnya itu.


"Maafin mama, Gie. Maaf." Tangis mama terdengar begitu pedih. Jelas sekali mama merasa menyesal.


Agya melonggarkan pelukannya, lalu menggeleng. Ia menghapus sejak air mata di pipi mama, lalu tersenyum. "Gya paham niat baik Mama. Nggak ada seorang ibu pun yang mau mencelakai anaknya."


Tangis mama kembali pecah. Ia menarik Rafis, lalu memeluk Agya dan Rafis bersamaan. "Maafin mama juga, ya, Fis. Mama banyak salah sama kamu."


Sedangkan, Diana yang duduk di dekat mereka tersenyum lega. Selama ini tidak ada yang bisa ia berikan pada Rafis. Namun, malam ini setidaknya ia bisa melihat Rafis begitu bahagia.


Tangan Rafis terulur, lalu diam-diam menggenggam tangan Diana. Ibu kandung yang sempat ia benci.


Agya menoleh, lantas beringsut mendekati Diana. Kemudian, mencium khidmat punggung tangan mertuanya itu. Memohon restu dengan amat sangat tulus.


Begitu pula dengan Rafis. Ia bergabung dan memeluk kedua wanita yang paling berharga baginya di dunia ini.


"Semoga kalian bahagia selalu," ucap Diana sembari menciumi pipi Agya dan Rafis.

__ADS_1


Para tamu juga mulai bergantian menyalami sang pengantin baru. Memberikan doa dan sedikit candaan. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Diam-diam Rafis melirik Agya. Bukannya ia tidak suka dengan seremoni ini, tapi ia ingin cepat-cepat berdua dengan Agya.


HEH!


***


"Gimana rasanya?" Akhirnya Agya dan Rafis berdua saja di kamar. Para tamu sudah pulang karena malam telah larut. Begitu pula dengan keluarga mereka yang memilih beristirahat setelah melewati kejadian menegangkan.


"Apanya?" Agya menoleh. Ia tampak sibuk membersihkan riasan di wajahnya.


Rafis mendekat, lantas memeluk Agya dari belakang. "Gimana rasanya jadi Nyonya Muhammad Rafisqy Arzan?"


Bisikan Rafis tersebut membuat Agya merasa geli. Ia bangkit, lantas menjaga jarak dari Rafis.


"Aku mau ganti baju dulu!" ucap Agya, sembari mencari baju ganti di lemari. Kemudian, beranjak menuju kamar mandi. Namun, ia segera mendengkus kesal saat mendengar Rafis tertawa keras. "Dasar ikan!"


Cukup lama Agya berada di dalam kamar mandi. Sebenarnya, dari tadi ia sudah selesai berganti pakaian, tapi entah kenapa ia merasa malu untuk keluar.


Tok, tok, tok!


Agya memejaman matanya kuat saat terdengar suara pintu diketuk. Kemudian, mengembuskan napasnya pelan.


Heh?! Apa itu sayang-sayangan?


Akhirnya Agya memberanikan diri membuka pintu, lantas keluar dari sana. Namun, keningnya dibuat berkerut saat ia tidak menemukan Rafis.


"Nyariin siapa?"


Tubuh Agya langsung menegang saat sebuah pelukan dari belakang tiba-tiba menyergap tubuhnya. Terlebih saat Rafis lagi-lagi bicara di dekat telinganya.


Agya bergerak gelisah, lantas mencoba melepas pelukan. Tetapi, kali ini Rafis tidak mengizinkannya. Ia bahkan mengunci tubuh sang istri dalam dekapannya.


"Dengarkan dulu."


"Apa?" Agya mulai tenang, meski tetap saja jantungnya tidak karuan.


"Agya Sofia." Rafis meletakkan dagunya di pundak Agya, lalu melanjutkan, "Mungkin setelah ini kita akan mulai menemukan banyak kekurangan masing-masing. Mungkin, setelah ini kita harus banyak bersabar menghadapi tingkah masing-masing, tapi ...."

__ADS_1


Rafis memutar pelan tubuh Agya agar menghadap padanya. Kemudian, melanjutkan saat mata mereka saling bertemu, "Kita akan pelan-pelan bejalar."


Perlahan, Rafis menautkan jemari mereka. "Seperti aku yang pelan-pelan belajar tentang kamu."


Rafis semakin mendekatkan wajahnya, lantas sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Agya. Harusnya Agya tidak kaget karena ini bukan kali pertama untuk mereka, tapi entah kenapa ia tetap melebarkan matanya, terkejut.


"Seperti aku yang pelan-pelan membiasakan diri, bahwa tidak ada lagi aku atau kamu, yang ada hanya kita."


Agya kembali melebarkan matanya karena ciuman kedua kembali ia dapatkan. Sedangkan, Rafis masih tampak tenang. Ia bahkan mengusap puncak kepala Agya, memjamkan mata, lalu tersenyum.


"Ngapain kamu?" tanya Agya, memberanikan diri.


Rafis kembali membuka matanya. "Berdoa."


"Do-doa apa?"


Lagi-lagi Rafis mendekatkan wajah mereka. Dekat sekali, hingga hangatnya napas masing-masing begitu terasa menerpa kulit wajah mereka.


Kali ini Agya berinisiatif memejamkan mata, menunggu kecupan ketiga dari sang suami. Namun, lama menunggu kecupan itu tidak juga kunjung terasa. Ia justru mendengar Rafis membisikkan sesuatu di telinganya. "Berdoa ... supaya aku sabar membiarkanmu tidur nyenyak malam ini."


Mata Agya kembali terbuka cepat saat Rafis menyelesaikan kalimatnya. Sialnya, pemuda itu justru tersenyum.


"Malam ini terlalu banyak kejutan untukmu. Sekarang kamu tidur. Aku nggak mau bikin kamu kaget lagi," ucap Rafis, tersenyum jahil.


Neriakin suami dosa nggak kira-kira, permisa?


***


Hai, hai bagi kamu pecinta Bang Ikan alias Berondong kesayangan Gya, masuk Grup Chat Jika Laudia, yuk!


Ada syukuran sedikit. Syaratnya, cuma harus rajin komen aja. Ditunggu, ya.


Satu lagi ... cepat aktif kembali Ny. Min.


***


Siap baca Berondong, cus baca ini yaa. Jangan lupa tinggalkan jejak.

__ADS_1



__ADS_2