
Sebenarnya pengantin baru ini ingin menghabiskan berdua saja keliling Indonesia. Namun, undangan makan bersama masih mengantri minta ditepati.
Lagi pula, Rafish juga tampak mulai serius menjalankan bisnisnya. Mengurus perpindahan kekuasan dan pengenalan Rafish sebagai pemimpin baru di Kartika Hotel di berbagai kalangan.
Proses akuisisi bisnis keluarga Bastian di Malang sempat membuat Agya dan keluarganya terkejut. Mereka tidak menyangka Rafish cekatan juga.
"Kamu beneran mau akuisisi cabang Malang?" tanya Agya, masih tidak percaya.
"On process." Rafish menolehkan kepalanya dari layar laptop, menatap Agya yang duduk di sampingnya. Hari ini untuk pertama kalinya Agya menemani Rafish ke hotel.
"Kamu yakin?"
"Kenapa?"
Agya tampak terdiam sejenak. "Jangan gegabah, Fis. Sekarang kamu masih diragukan bawahan. Jangan karena aku ...."
"Ge-er." Rafish mengecup cepat pipi Agya yang duduk di sampingnya, lalu melanjutkan, "Business is business, Honey."
Agya yang terkejut mendapat kecupan dadakan tersebut sontak memegang pipinya malu-malu. Kemudian, menatap Rafish dengan bibir berkerucut.
"Aku udah lama mempertimbangkan ini. Cabang malang cukup potensial, lagi pula perusahan kita masih ada di ranah yang sama, ranah pariwisata. Jadi, bisa aku pastikan ini aman."
Agya manatap Rafis bangga. Ia tidak menyangka berondong bucin itu bisa bijaksana juga.
"Kenapa? Makin cinta, kan?"
"Dih!" Agya ingin beranjak dari sana, tetapi Rafish menarik tangannya, hingga wanita itu kembali duduk di kursi. Kemudian, mengurung Agya dengan kedua lengannya.
"Rafish?" Agya menjauhkan tubuhnya waspada. Tanda-tanda bahaya mulai terdeteksi.
"Apa, Sayang?" Wajah Rafish sangat dekat dengan wajah Agya saat bersuara, hingga membuat bulu kuduk Agya meremang.
__ADS_1
Agya menundukkan kepalanya, sembari terus mencoba mendorong dada Rafish. Ia khawatir dengan akhir adegan ini.
"Fish ...."
"Aku bukan ikan!" sungut Rafish, lalu mengecup cepat bibir Agya. Kemudian, perlahan kecupan itu beralih ke dagu, dan leher. "Aku nggak mau dipanggil begitu."
"Kemarin-kemarin nggak masalah."
"Tapi sekarang aku nggak mau." Rafish mulai menyederkan wajahnya di leher Agya, membuat Agya semakin merasakan sensasi geli.
"Jadi mau dipanggil apa?" tanya Agya semakin waspada.
"Cinta."
"Yang bener aja!" Agya tertawa geli. Namun, wajahnya berubah serius saat merasakan tangan Rafisj bermain semakin liar. "Oke-oke, Cinta."
"Kok kalah?" Rafish mendongakkan wajahnya, menatap wajah Agya yang begitu dekat dengannya.
"Pada hal aku suka kalau kamu macam-macam." Tatapan Rafish semakin nakal. Tanpa Agya sadari, Rafish sudah berhasil m***mat bibirnya lagi. Kali ini lebih lama dan menuntut.
"Jangan di kantor," larang Agya saat pagutan mereka terlepas. Ia masih waras.
Rafish terkikik geli, lalu mengusap bibir Agya yang basah karena ulahnya. "Ya udah, ayo kita pulang!"
"Bukannya Mama nyuruh kita mampir?"
"Ah, iya!" Rafish menepuk keningnya, lalu menatap Agya dengan tatapan memelas.
"Nggak ada! Aku cuma mau di tempat yang sopan," sungut Agya sembari kabur dari sekapan Rafish. Kemudian, merapikan bajunya yang berantakan sebelum keluar dari ruangan General Manager Hotel tersebut. Punya pasangan berondong ternyata repot, guys.
***
__ADS_1
Menjelang sore, Rafish dan Agya telah sampai di kediaman Bastian. Menjadi sebuah keharusan bagi Rafish, jika bertandang ke rumah mertua harus membawa buah tangan.
"Ya ampun! Mama udah masak banyak. Kenapa bawa makanan lagi?" sambut mama dengan senyuman ramah. Kemudian, mengambil alih beberapa tentengan yang dibawa Sang Menantu.
"Harusnya bawa kulkas, teve, sama mesin cuci, ya, Ma?" goda Gio yang baru muncul dari belakang. Kemudian, menyerobot tempat untuk memeluk Agya. "Kangen kakak aku yang galak."
"Keberuntungan loe udah loe habisin demi punya kakak sesempurna gue," seloroh Agya, sembari membalas pelukan Gio. Sedangkan, Rafish yang melihat adegan itu tampak meliriknya tajam. Kemudian, menarik kerah baju Gio agar menjauh dari istrinya tercinta.
"Jangan kuat-kuat, Yo! Kasihan anak ikan," cetus Rafish sembari mengusap perut rata Agya.
"Hah?" Baik Mama, Gio, bahkan Agya dibuat terkejut dengan ucapan Rafish tersebut. Namun, berondong bucin itu justru memasang ekspresi tanpa dosa.
"Papa mana?" tanya Rafish santai. Kemudian, beranjak pergi dari sana, meninggalkan Mama dan Gio yang menatap Agya, meminta penjelasan.
"Beneran, Kak? Wah! Topcer banget berondong loe."
"Berisik!"
***
Spesial buat kamu yang masih kangen sama bucinnya si berondong.
Jangan lagi ada yang bilang ....
- Tambah lagi dong, Jika
- Next, Jika
- Kurang, Jika
Kalian nggak tau gimana perjuangan aku nulis lanjutan nopel ini tanpa pikirannya nggak traveling ðŸ˜
__ADS_1
**Btw, aku nulisnya malem, ya**!