Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Dua


__ADS_3

Agya artinya cepat dan Gya kecewa karena pada akhirnya ia justru tidak bisa mempertahankan arti namanya tersebut. Targetnya menyelesaikan kuliah dalam kurun waktu 3.5 tahun, tapi ini sampai molor hingga empat tahun. Betapa memalukan.


"Loe udah liat-liat Maba belum, Gi? Gila, ya, anak sekarang bening-bening." Citra yang duduk di sebelah Gya berceloteh sembari menunggu pesanan mereka di antar.


Dia tidak tahu kalau temannya sedang tidak dalam suasana hati cuci mata.


"Bu Erni itu ada masalah sama suaminya, ya? Atau sama anaknya? Atau sama cem-cemannya? Salah mulu gue dari kemarin." Gya tidak tahan lagi. Ia menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Rasanya mau menagis saja.


Citra yang melihat duka temannya itu hanya bisa mengusap bahunya. Beruntung karena dosen pembimbingnya tidak seangker dosen pembimbing Gya. Hari ini skripsinya bahkan sudah ACC dan tinggal mendaftar sidang saja.


"ACC dari Bu Diah udah di tangan. Tinggal dari Bu Erni lagi. Susah amat, ya Allah." Gya membentur-benturkan pelan kepalanya ke meja. Namun, seseorang merebahkan telapak tangannya, hingga kepala Gya tidak lagi langsung membentur meja.


"Gue benci hidup gue."


Gya merasakan usapan di pundaknya berubah menjadi guncangan, namun Gya tidak peduli.


"Tapi, aku suka kamu."


Hah?


Gya menegakkan tubuhnya cepat dan menoleh ke arah sumber suara. Bukan, itu bukan suara Citra.


"Rafish?" Mata Gya terbelalak. Kenapa tetangganya itu ada di sini? Di kampusnya.


Rafish cuma nyengir lebar, lantas merapikan rambut yang menjulur di kening Gya dengan santai.


"Kuliah. Ngapain lagi emang?" jawab Rafish kalem.


Gya masih belum berhasil memulihkan keterkejutannya. Universitas di Jakarta banyak, kenapa dia masuk di Gunadarma? Jurusan di Gunadarma banyak kenapa dia memilih manajemen keuangan?


Eh! Belum tentu. Bukan berarti Rafish nyasar di kantin manajemen, terus dia otomatis anak manajemen juga, kan?

__ADS_1


"Ngambil jurusan apa?"


"Manajemen Keuangan." Rafish nyengir lagi.


Ya, Tuhan! Tiba-tiba Gya merasa penderitaannya makin sempurna.


Gya memutuskan pulang setelah mendapat penolakan oleh Bu Erni. Untung saja Maba masih dibebankan kegiatan, kalau tidak Rafish pasti sudah menempelinya terus.


Sebuah mobil sedan silver asing terparkir di depan rumahnya, hingga membuat Gya mengangkat sebelah alis.


"Assalamualaikum." Gya melangkah masuk dan rupanya di dalam sedang ada tamu.


"Wa'alaikumsalam. Nah, ini anaknya udah pulang." Bastian menyambut kedatangan sang putri dan seseorang yang duduk di hadapannya sontak menoleh.


Seorang laki-laki dewasa dengan setelan rapi dan jambang tipis sanggup membuat kadar mood Gya yang anjlok merayap naik, hingga ke level sumringah.


"Sini duduk, Gya," ajak Bastian. Layaknya anak penurut, Gya menghampiri sang ayah dan mencium tangannya terlebih dahulu, baru kemudian duduk di sampingnya.


"Kenalin. Ini Nak Rafka. General Manager di Aston Kartika Hotel."


Gya membekap mulutnya sendiri. Apa ini tanda-tanda rencana masa depannya sudah direstui Tuhan? Meski bukan CEO, tapi GM juga bukanlah jabatan yang buruk.


Rafka yang menangkap ekspresi Gya tersebut langsung terkekeh geli. "Hai, Gya. Senang bertemu dengan kamu."


Astaga! Kamu, katanya?


Gya segera menyadarkan dirinya, lantas balas menyapa. "Ah! Iya, salam kenal, Pak."


Bastian menyenggol lengan Gya, hingga sang putri menoleh. "Ganteng gitu kok dipanggil Pak, sih?"


"Terus apa?"

__ADS_1


"Mas aja. Mas Rafka."


Uwu. Lampu hijau.


***


Obrolan basa-basi, hingga ke taraf serius antara Bastian dan Rafka akhirnya berakhir juga ketika senja hampir menyapa. Rafka pamit dan Gya diminta Bastian untuk mengantarnya hingga ke depan. Sedangkan, sang papa hilang entah kemana.


"Duh, Mas jadi ganggu istirahat kamu, ya. Pasti capek pulang kuliah."


"Ah, enggak, kok, Mas," balas Gya malu-malu.


Rafka tersenyum manis, lantas lanjut pamit. Ia melambaikan tangannya dan meluncur meninggalkan kediaman Gya.


Gya masih memandang kepergian General Manager hotel bintang 4 di Jakarta itu dengan tatapan penuh damba. Tidak masalah jika tahap rencana masa depannya tidak berurutan. Menikah dulu baru wisuda rasanya tidak buruk juga.


"Uhuk!"


"Minum obat nyamuk biar nggak batuk," cetus Gya sebal ketika melihat Rafish lagi-lagi muncul di rumahnya.


"Siapa?" Rafish mengedikkan dagunya ke arah mobil Rafka yang kini telah menghilang.


"Kurangin-kurangin kepo, biar nggak jomblo." Gya sudah membalikkan badannya hendak kembali masuk rumah, namun sebuah lengan melingkar sok akrab di pundaknya.


"Ini kan lagi berjuang biar nggak jomblo."


Gya mendelik.


"Berjuang dapetin kamu," lanjut Rafish sembari mengedipkan sebelah matanya.


Ouch! Dasar berondong.

__ADS_1


__ADS_2