
"Aku menerimamu ... Mas Rafka."
Sesaat setelah mengucapkan jawaban itu, Gya sempat melihat Rafish tersenyum padanya. Namun, tidak lama karena Rafka langsung menariknya dalam pelukan untuk berbagi kebahagiaan.
Suara sorakan kembali diteriakan teman-teman di sekitarnya, hingga membuat kepala Gya semakin pening. Ia mencoba mengedarkan pandangannya lagi dan kali ini Rafish sudah tidak ada di sana.
***
"Siapa sih yang nggak mau punya suami GM? Apa lagi Vie dengar, Pak Rafka satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Auto jadi pewaris tunggal, dong. Wah! Mimpi apa, ya, Gya?" Silvia terus saja berceloteh sembari mengiringi langkah Rafish, menuju parkiran.
"Udah Vie duga, sih, kalau Gya nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan ini. Lagian kelihatan, kok watak tuh cewek mat ...."
Ucapan Silvia sontak terhenti saat Rafish menghentikan langkah kakinya. Kemudian, berbalik dan mencengkram lengan gadis berambut dora itu dengan tatapan dingin.
"Sekali lagi gue denger loe ngomong jelek tentang Gya, gue nggak janji bisa ingat kalau loe cewek!" ucap Rafish tajam, lantas melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hingga membuat Silvia ketakutan.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rafish melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Silvia yang masih memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
***
Setibanya di rumah sakit, mama langsung memeluk Gya. Bukan untuk mengucapkan selamat atas kelulusannya, melainkan mengucapkan terima kasih karena telah menerima lamaran Rafka.
Sebenarnya ini urusan perasaan atau kesepakatan? Gya mendengkus pelan, lantas melepas pelukan mama. Ia beranjak, mendekati ranjang papa yang masih saja terbaring menatapnya tanpa bicara.
Di samping ranjang ada Gio yang masih belum mengucapkan sepatah kata pun sejak semalam. Remaja itu jadi tampak pendiam dan lebih sering menundukkan kepala.
"Jadi, kapan pernikahannya?" Mama kembali memulai setelah mempersilakan Rafka duduk di sofa. Wanita paruh baya itu tampak begitu bersemangat. Berbeda dengan sosok yang Gya lihat beberapa hari ini.
"Kalau saya ingin secepatnya, Bu," jawab Rafka sungkan. "Tapi, tergantung Gya saja."
Mama masih mengembangkan senyum saat menoleh dan menatap Gya dengan pandangan penuh harap. "Lebih cepat, lebih baik, Gie," ucapnya tanpa beban.
Gya membalas tatapan mama. Menatap wanita yang telah melahirkannya itu cukup lama.
__ADS_1
"Enam bulan lagi," jawabnya datar.
Mama tampak terkejut, begitu pula dengan Rafka. Mereka tampak saling berpandangan sejenak, lalu menatap Gya lagi.
"Enam bulan kelamaan, Gie. Nak Rafka ingin cepat-cepat."
Kali ini Gya mengalihkan pandangannya pada Rafka yang tampak canggung. Sorot mata gadis itu sulit sekali ditebak. "Nggak masalah, kan, Mas?"
Rafka yang ditanya demikian semakin terlihat canggung. Ia sempat terlihat berpikir karena dari awal ia memang ingin segera mempersunting Gya.
"Niat baik harus disegerakan, Dek."
"Niat baik juga harus dilakukan dengan cara yang baik, Mas."
Ucapan Gya berhasil membuat Rafka mati kutu. Ia memang terbiasa bernegosiasi, tapi tentang bisnis bukan tentang pernikahan.
"Ini tentang komitmen, kan? Kecuali kalau Mas berpikir ini tentang kesepakatan untung dan rugi."
***
Sore ini papa sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja dengan diantarkan oleh Rafka, mereka akhirnya tiba di rumah yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.
Sedan silver kali ini langsung masuk ke perkarangan rumah dan Rafka dengan cekatan membantu papa berpindah ke kursi roda. Saat melihat hal itu, mama langsung menyenggol lengan Gya. "Nyari suami sebaik Rafka susah, Gie."
Gya bergeming. Ia terlalu lelah untuk membalas ucapan mama dan memilih untuk mengeluarkan tas travel dari dalam bagasi mobil saja.
Ada Gio yang ternyata sudah lebih dulu mengeluarkan tas travel dari bagasi mobil. Remaja itu tampak buru-buru membawa tas ke dalam rumah dan meninggalkan Gya yang menatapnya heran.
Gya menghela napasnya pelan. Sepertinya tubuh dan otaknya butuh istirahat. Beban beberapa hari ini benar-benar membuatnya lelah.
Saat ingin menutup kembali bagasi mobil, pandangannya lagi-lagi beradu dengan sosok pemuda beralis tebal. Pemuda yang masih saja menatapnya tanpa bicara.
Pandangan Gya tampak terusik pada ransel yang digendong Rafish. Ransel yang sepertinya bukan berisi keperluan kuliah karena ukurannya yang terlalu besar dan isinya yang terlihat sesak.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanpa sengaja Gya bertanya. Namun, nampaknya Rafish tidak berniat menjawab.
Gya menundukkan pandangannya. Ia akhirnya memutuskan melangkahkan kaki, berniat meninggalkan Rafish. Namun, panggilan pemuda itu berhasil membuatnya mengurungkan niat.
"Gya?"
Meski tidak menoleh, tapi Gya menghentikan langkah kakinya. Membiarkan Rafish mengatakan apa yang ingin ia sampaikan tanpa saling memandang.
"Aku yakin keputusanmu sudah benar."
Gya masih memunggungi Rafish, meski telinganya dengan setia mendengarkan.
"Dia berasal dari keluarga baik-baik. Keluarganya utuh. Pasti nggak akan sulit untuk kalian membina keluarga bahagia."
Gya mengerutkan keningnya, tidak nyaman. Ia sudah hampir membalikkan tubuhnya, tapi Rafish dengan cepat melarangnya.
"Begini saja. Lebih baik begini, Gie."
Terdengar Rafish menghela napasnya dalam saat Gya menuruti keinginannya. Ia tidak yakin akan sanggup bicara, jika Gya menatapnya.
"Nggak apa-apa, kan, kalau kali ini aku nggak mendoakanmu?"
Gya merapatkan bibirnya, mencoba menahan perih akibat tangisnya yang siap pecah.
"Untuk sekarang, aku belum bisa berpura-pura bersikap baik-baik saja. Aku emang nggak sedewasa itu, kan?" Terdengar Rafish tertawa. Namun, tawanya terdengar pahit, hingga membuat Gya tidak tahan untuk tidak membalikkan tubuh dan menatapnya.
Tatapan Rafish masih begitu hangat. Tatapan yang entah sejak kapan mulai Gya rindukan.
Ada perasaan nyaman tidak biasa yang berhasil menyentuh hatinya. Terlebih, saat dengan suara tenang, Rafish berkata, "Gya ... sekarang aku nggak punya doa untukmu, tapi aku harap kamu bahagia."
***
Up-nya dua aja. Takut dibilang ada apa-apa.
__ADS_1