Bukan Berondong Biasa

Bukan Berondong Biasa
Empat Puluh Empat


__ADS_3

Handoyo, calon relasi bisnis yang gagal Agya gaet, siang ini singgah untuk menjenguk Bastian. Sebenarnya, ia cukup sering berinteraksi dengan Bastian, meski tidak terlalu dekat.


"Putri saya melahirkan di rumah sakit ini dan saya dengar Pak Bas juga sedang dirawat di sini. Jadi, sekalian saja menjenguk."


Mama yang menemani papa siang ini, tersenyum ramah. "Selamat atas kelahiran cucu Pak Handoyo. Kalau boleh tau cucu keberapa?"


"Cucu pertama," jawab Handoyo sumringah.


"Wah! Pasti senang sekali. Semoga ibu dan anaknya di beri kesehatan."


"Terima kasih, Bu Yulia. Oh! Saya dengar Agya juga akan segera menikah?"


Kali ini mama mengulum senyum. "Iya, Pak. Lusa pernikahannya, tapi belum resepsi, baru akad saja. Mudah-mudahan setelah Agya menikah kesehatan suami saya membaik, baru setelah itu resepsi."


Handoyo mengangguk paham. "Pak Bas pasti sangat bahagia."


Mama ikut mengangguk. "Calon menantu saya, Arkana Rafka. Pak Handoyo pasti kenal."


Handoyo tampak terkejut. "Iya, beliau salah satu relasi bisnis saya," jawabnya canggung.


"Pemilik Aston Kartika Hotel," lanjut mama dengan raut bangga.


Lagi-lagi Handoyo tersenyum canggung. Ia menatap mama, seperti ingin mengatakan sesuatu. "Maaf Bu Yulia."


"Iya?"


Handoyo kembali terdiam sejenak. Namun, dengan hati-hati ia akhirnya melanjutkan, "Saya sudah dengar rumor penjualan aset di Semarang, tapi rupanya tidak jadi, ya?"


"Oh!" Mama tertawa. "Menurut pendapat Nak Rafka, cabang di Semarang dipertahankan saja. Rugi kalau dijual. Potensial katanya."

__ADS_1


Kening Handoyo tampak berkerut. "Meski keadaan induk nyaris bangkut?"


Sadar dirinya telah terlalu bersikap lancang, Handoyo kembali melanjutkan, "Maksud saya, kalau tidak mau menjual, kenapa tidak akuisisi saja?"


Kali ini mama tampak berpikir. "Agya juga bilang begitu, tapi Nak Rafka bilang tidak usah."


Handoyo mengangguk paham. Ia sudah bisa membaca triknya. "Dunia bisnis memang tidak pandang bulu," gumamnya, lalu melanjutkan. "Kalau begitu saya pamit dulu Bu Yulia."


"Terima kasih atas kunjungannya Pak Handoyo." Mama mengantar Handoyo sampai ke depan pintu. Saat mama akan menutup pintunya kembali, Handoyo kembali berbicara, "Boleh saya beri saran?"


Kening mama berkerut. Tanpa menunggu jawaban mama, Pak Handoyo melanjutkan, "Agya itu anak yang cerdas. Mirip sekali dengan Pak Bas. Dia hanya kurang berpengalam saja,tapi Bu Yulia tentu berpengalaman."


Mama masih diam menatap Handoyo, tidak mengerti.


"Tawaran kerja sama yang ditawarkan cukup meyakinkan, tapi ..." Handoyo tampak ragu-ragu saat melanjutkan, "Dia lupa, dalam bisnis juga butuh kecerdikan dan itu yang sudah dimanfaatkan orang lain."


Handoyo kembali tersenyum. "Selamat siang Bu Yulia."


***


Akhirnya, guncangan dalam kariernya datang juga. Rumor kepimilikan RFS Group telah tersebar.


"Harga saham diprediksi akan anjlok."


"Apa lagi jejak rekam Rafisqy Arzan di dunia bisnis nyaris nol, tentu saja banyak investor akan ragu dan memilih menarik investasi."


"Kepimpimpinannya lemah dan pasti bisa memperlemah usaha kita juga."


Rafka mendengarkan semua laporan dan pendapat para menager dengan serius. Kelemahan Rafis di mata orang lain, menjadi kekuatan Rafis untuk menghancurkannya.

__ADS_1


"Pak?"


Rafka menoleh saat sekretaris pribadinya datang dengan panik.


"Tolong baca email," ucapnya pelan, membuat firasat Rafka semakin tidak baik.


Saat Rafka membuka kotak masuk di emailnya, matanya langsung dibuat terbelalak. Ada sebuah pesan dari pengirim tidak dikenal dengan melampirkan beberapa file berisi bukti penyuapan.


Rafka menutup kasar laptopnya, lantas beranjak pergi dari ruang rapat. Ia berjalan menuju ruang kerja. Kemudian, mengunci pintu dan tampak menghubungi seseorang.


Seseorang yang ia yakini sebagai pelaku pengiriman email misterius tersebut.


"Halo?"


"Apa maumu?" geram Rafka. Tangannya menggenggam kuat ponsel di tangannya.


"Terkejut saja, ternyata begitu cara seorang Arkana Rafka bisa bertahan. Menyuap untuk mendapatkan tender?"


"Memang apa lagi yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan perusahan ini dari kehancuran waktu itu, Arzan?!" desis Rafka, tertahan.


Rafis tertawa. "Aku penasaran, efek mana yang lebih cepat bisa membuat semuanya hancur. Imej bocah nakalku atau bukti penyuapan ini?"


"Jangan main-main lagi! Bukan hanya aku saja yang akan hancur, tapi perusahaan ini juga!"


"Kau kira, aku peduli?"


Tut! Sambungan terputus dan Rafka langsung membanting ponselnya ke lantai dengan mata memerah.


***

__ADS_1


Vote masih utuh, kan? Jangan lupa vote Berondong, ya.


__ADS_2