
Hujan selalu berhasil membuat seseorang terjebak dengan rasa rindu. Seperti Agya, yang sedang duduk di tepi jendela yang terbuka. Ia tengah memperhatikan rinai hujan yang terjun bebas ke tanah.
Sudah beberapa hari ini ia tidak membalas pesan dari Rafis dan sudah berkali-kali pula ia menghindari pemuda itu, jika bertandang ke rumah. Lagi pula mama akan dengan galak mengusirnya, sedangkan Gio kali ini memilih bungkam.
Baru saja Agya memikirkannya, pemuda itu langsung muncul dengan melompati pagar pembatas rumah mereka, hingga membuat Agya melebarkan matanya, kaget. Namun, pemuda itu justru melambaikan tangannya dengan sumringah.
"Aku manjat, ya." Sepertinya itulah arti gerak bibir tanpa suara Rafis di bawah sana karena setelahnya pemuda itu memang benar-benar mencoba memanjat. Gila!
"Tunggu di bawah!" perintah Agya, tegas. Kemudian, gadis itu berlari keluar kamar dan menuruni tangga. Beruntung mama sedang di rumah sakit. Sedangkan, Rafis menunggu dengan manis di bawah sambil nyengir.
"Gila kamu, Fis!"
Agya menarik tangan Rafis agar naik ke teras rumah karena pemuda itu justru berdiam diri di bawah rintik hujan. Kemudian, menyingkirkan butiran air di wajah dan pundak Rafis dengan tangannya. Namun, Agya segera berhenti saat menyadari Rafis menatapnya terlalu hangat.
"Aku bisa lebih gila lagi kalau kamu nyuekin aku kayak gini," ucap Rafis pelan.
Agya tidak bereaksi. Ia hanya menatap Rafis, dalam. "Rafis?"
"Hm?"
Ada begitu banyak hal berbeda yang dirasakan Rafis saat memandang Agya. Tatapan, nada suara, bahkan perasaan gadis itu. Agya terlihat begitu putus asa.
"Kamu percaya sama aku?" tanya Agya, akhirnya.
Rafis mengangguk.
"Kalau begitu, jangan berbuat apapun."
Rafis bergeming. Ia hanya menatap Agya dalam. "Kamu punya rencana apa?"
__ADS_1
Agya hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat kedua bahunya. "Aku nggak tau."
Melihat respons Agya tersebut, Rafis mengangkat sebelah tangannya, lalu mengusap puncak kepala gadis itu. "Apa yang kamu khawatirin Gya? Aku jamin bisa menopang kehidupan kita dan keluarga kamu."
Agya menepis pelan tangan Rafis dari kepalanya. Kemudian, menatap Rafis dalam. "Aku mau mengembalikan harga diriku."
Sebelah alis Rafis terangkat, hingga Agya kembali melanjutkan. "Aku nggak mau dicap murahan karena kabur dengan laki-lain dan meninggalkan tunanganku. Aku nggak mau dicap matre lagi karena memulai hubungan dengan kamu setelah tau kamu juga punya uang."
Rafis tersenyum tipis. "Aku nggak peduli. Kamu tau, kan?"
Kali ini Agya meraih tangan Rafis, lalu menggenggamnya. "Bantu aku kembali jadi Agya Sofia. Bantu aku untuk bisa mencintai diriku lagi."
"Kalau pernikahan itu tetap terjadi?"
Agya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas senyum getir. "Lepaskan aku."
"Nggak akan!" Rafis menepis genggaman Agya, lalu pergi meninggalkan Agya dengan dada bergemuruh.
***
Meski, keyakinan itu hanya 50% saja. Namun, ia akan mempertaruhkan segalanya karena hidup ini baginya memang sebuah pertaruhan.
Kening Rafka berkerut saat mendapati nama Yulia terpampang di layar ponselnya. Tumben sekali calon mertuanya itu menghubunginya.
"Bisa temui saya sekarang?"
"Baik, saya akan ke rumah sakit sekarang."
"Tidak. Temui saya di cafe dekat rumah sakit."
__ADS_1
Lagi-lagi kening Rafka berkerut. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan pikiran menerka-nerka.
***
Saat melihat mama dari jauh, Rafka bisa merasakan tatapan Ibu Agya itu berbeda dari biasanya. Ia menyapanya ramah, lalu duduk di seberang mama dengan mengulas senyum sopan.
"Apa maksud Anda?"
Sebuah pertanyaan yang sontak membuat Rafka siaga. Namun, sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.
"Maksud Bu Yulia?"
"Bukannya membantu, Anda justru membuat kondisi perusahaan kami semakin kacau!" Mama membanting sebuah map di atas meja, tapat di hadapan Rafka.
"Memberikan penawaran lebih, bahkan ancaman pemutusan hubungan kerja pada perusahaan yang berniat menjalin relasi dengan kami." Mama mendengkus. "Anda ini sebenarnya rekan atau musuh?!"
Rafka meneguk ludahnya. Menatap sekilas map yang tadi dilempar mama, lantas menatap mama kembali. "Tolong dengarkan alasan saya dulu Bu Yulia."
Mama membuang pandangnya ke arah lain. Napasnya tampak naik turun. Ia tidak menyangka dengan fakta yang baru didapatnya hari ini.
"Tidak mungkin saya berniat buruk pada keluarga Pak Bas. Saya ... melakukan ini untuk mendapatkan Agya."
Mama kembali menatap Rafka. Ia butuh tahu alasan calon menantunya itu.
"Saya begitu mencintai Agya dan takut kehilangn dia. Makanya, saya berbuat sejauh ini." Rafka mendekatkan posisi duduknya ke arah mama, mencoba meyakinkan. "Percaya pada saya, Bu. Setelah kami menikah, saya berjanji akan membuat kondisi perusahaan stabil lagi. Bahkan, berkembang pesat."
Inilah yang dimaksud Pak Handoyo ... bisnis juga butuh kecerdikan.
***
__ADS_1
Nb. Kelicikan diganti kecerdikan gara-gara ada yang protes 😂