
"Menurut Mama, cinta itu penting nggak?"
Mama tampak terkejut dengan pertanyaan Gya, hingga membuatnya tidak bisa langsung menjawab. Namun kemudian, ia jawab juga pertanyaan Sang Putri.
"Enggak."
Gya tidak menanyakan alasannya. Jawaban singkat dari mama itu sudah cukup untuknya. Ia hanya kembali mengulas senyum hambar, lalu pamit menuju kamar.
Di ujung tangga lantai dua, ada Gio yang rupanya sudah menunggunya. Remaja jangkung itu langsung melangkahkan kakinya lebar, lalu memeluk Gya dengan erat.
"Maafin Gio, Kak."
Satu kalimat yang berhasil membuat Gya kaget. Tidak sampai di situ, Gio bahkan terdengar menangis. Namun, pemuda itu enggan menunjukkannya pada Gya dan memilih kembali ke kamar tanpa menoleh.
Gya menatap punggung Gio, hingga hilang di balik pintu. Kemudian, senyum lega terulas di bibirnya.
***
"Hai, Bee!"
Fergie yang baru tiba, langsung menyapa wanita berkulit eksotis yang duduk di samping Rafish. Wanita yang dipanggil Bee itu tersenyum manis, lalu membalas sapaan ramah Fergie pagi ini.
"Nggak usah ganjen!" ancam Rafish saat Fergie hendak bersalaman dengan Bee.
"Salaman doang, Zan. Di luar negeri malah peluk cium kalau ketemu."
Rafish langsung melayangkan tatapan datar pada Fergie. Kemudian, berkata dengan nada sarat ancaman, "Kecuali dengan Bee, gue!"
"Iya, iya, posesif!"
Pertikaian kedua pemuda itu membuat Bee tertawa geli. Ia mencubit pipi Rafish, lalu menatap Fergie lagi.
"Mau minum apa, Fer? Biar gue bikinin."
__ADS_1
"Uwu, calon istri idaman."
Selesai mengucapkan kalimat itu, Fergie harus rela wajahnya dilempar dengan bantal sofa oleh Rafish.
Bee tertawa lagi. Ia bangkit, ingin membuatkan minuman untuk teman Rafish tersebut. "Gue bikinin kopi aja, ya. Biar waras."
Gantian Rafish yang tertawa. Ia bahkan melakukan high five dengan Bee, hingga membuat Fergie menekuk wajahnya.
"Ngomong-ngomong, Zan ...." Fergie memulai saat Bee sudah beranjak ke pantry. Kali ini wajahnya tampak serius.
"Apa?"
"Loe udah dengar kabar Gya?" lanjut Fergie hati-hati.
"Apa?"
Fergie memasang tampang kesal karena dari tadi respons Rafish hanya apa, apa, saja. Pemuda itu bahkan tidak melepaskan pandangannya dari layar laptop, membuat Fergie semakin ragu untuk menjelaskan.
"Gue denger dari Citra, katanya minggu depan Gya tunangan."
***
Gya masih disibukkan dengan misinya untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari para investor. Tetapi, rupanya semua berjalan tidak semudah yang ia rencanakan.
Ia masih pendatang baru di dunia bisnis. Masih diragukan segala ide dan pemikirannya. Dampak pandemi berimbas luar biasa pada perusahaan jasa transportasi milik sang ayah. Ditambah kondisi papa yang tidak menguntungkan, membuat Gya harus ekstra memutar otak.
"Transportasi online? Memang menjanjikan, tapi sudah ada berapa transportasi online di Indonesia? Banyak!"
"Tapi, kita tidak akan tau hasilnya kalau tidak mencoba, Pak."
Wajah investor di hadapan Gya langsung berubah datar. "Sudahlah! Saya tidak mau membuang-buang uang saya untuk sesuatu yang sifatnya coba-coba."
Skak mat! Gya salah strategi. Memang benar, bisnis tidak bisa berdasarkan coba-coba. Karena kecerobohannya, ia harus kehilangan salah satu investor terbesar mereka selama ini.
__ADS_1
Gya melangkahkan kakinya menuju parkiran dengan langkah gontai. Pikirannya sudah seperti benang kusut. Ia tidak lagi bisa memikirkan apapun saat ini.
"Apa bedanya transportasi online milik kita dengan transportasi online lainnya?"
Gya menoleh, menatap Niken yang dari tadi menemaninya. Sekertarisnya itu kembali melanjutkan saat menyadari Gya menatapnya bingung. "Istimewa transportasi kita apa? Itu yang harus kita cari, Bu."
Gya masih bergeming, menatap Niken lama. Satu hal yang baru ia sadari, jika ia belum punya pengalaman, berarti ia harus belajar dari pengalaman orang lain.
***
Kesibukan Gya, membuatnya tidak sadar jika akhir pekan telah tiba. Kalau bukan Rafka yang mengingatkannya, ia tidak akan ingat pada janji yang sudah ia buat.
Mereka memilih berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Sebuah tempat yang memungkinkan untuk mereka jangkau saat ini.
"Maunya ke pantai," gumam Rafka sembari menggenggam tangan Gya. Kemudian, melangkahkan kakinya bersama menaiki tangga berjalan.
"Mas kan baru pulang dari luar kota. Di sini aja, nggak apa-apa," balas Gya.
Rafka menoleh pada Gya, lalu tersenyum. "Maaf, ya, Dek. Belakangan Mas sibuk sekali."
Sejujurnya, Gya tidak menyadari kesibukan Rafka karena ia juga sama sibuknya. Namun, ia memilih pura-pura maklum. "Nggak apa-apa, Mas."
"Maaf juga karena Mas jadi nggak bisa nemenin kamu buat persiapan pertunangan kita."
Gya ingin tertawa miris karena bukan Rafka saja yang tidak punya waktu untuk mempersiapkan pertunangan mereka. Dia sendiri juga tidak punya waktu untuk itu. Ia bahkan tidak tahu sudah sampai mana persiapannya. Padahal waktu pertunangan dua hari lagi.
"Mas Arkan!"
Seorang wanita tampak sedikit berlari menghampiri Rafka saat mereka baru saja menapaki lantai dua. Wanita dengan topi baseball berwana putih itu mengembangkan senyum, lantas menarik tangan Rafka dan menggenggamnya.
"Kejutan!" katanya sembringah sembari melepas topi. Hingga, memperlihatkan wajah manis dengan hidung mancung dan kulit eksotis.
Hah?
__ADS_1
***
Ikan, ikan apa yang ngangenin?