
"Selamat datang Riana, akhirnya kamu singgah juga ke salon aku," ucap mbak Sofi bercepika cepiki kepada wanita bersama Riana itu.
Bunga hanya diam membeku ketika mendengar nama dari wanita tersebut, mungkinkah kalau wanita cantik berprofesi seorang dokter itu adalah istri dari kekasihnya Dion, sungguh hati Bunga terasa sesak, tapi dia mencoba untuk menyangkal fikirannya, karena nama Riana bukan hanya satu orang saja di kota ini, masih banyak nama wanita yang sama seperti nama Riana.
"Enggak , aku gak boleh mikir macam macam, mungkin aja yang berdiri di depanku saat ini bukan Riana istrinya mas Dion, lagian Riana itukan banyak, jadi sangat mustahil kalau mbak cantik ini adalah mbak Riana, " gumam Bunga di dalam hatinya sambil tersenyum ramah kearah para pelanggan yang baru saja tiba.
"Sofi, salon kamu sudah besar ya sekarang, aku sudah lama pengen mampir tapi belum punya waktu, maklumlah ya namanya juga aku orang sibuk, jadi ya seperti itu, " ucap Riana mulai menyombongkan dirinya.
"Iya aku ngerti kok, kamu kan sekarang udah jadi seorang dokter gigi yang terkenal, oya dengar dengar katanya kamu akan buka klinik sendiri ya? kapan? kok aku gak di undang sih acara peresmiannya? " tanya mbak Sofi dengan sangat ramah
Lalu mereka pun tampak duduk di sofa tunggu yang tersedia di dalam ruangan salon tersebut.
Para karyawati langsung mengambilkan beberapa cemilan dan minuman yang sudah disediakan oleh mbak Sofi di dapur salon, mereka menyuguhkan makanan itu di atas meja yang ada di depan mereka.
"Ayo semuanya,kita santai dulu ya, abis itu baru lanjut mempercantik diri, " ajak Mbak Sofi kepada para teman temannya.
Riana yang mendapatkan ajakan itupun menerima dengan senang hati, begitu juga yang lainnya, mereka para dokter dari rumah sakit ternama saling bercerita banyak tentang pengalaman mereka bersama mbak Sofi.
Bunga langsung mendekati Sindy, rasanya sungguh berbeda kasta ketika melihat penampilan dan cara bergaul mereka.
"Kau kenapa? kok kayak minder gitu? " tanya Sindy penasaran.
"Iya, aku emang minder, beda banget ya Sind, kasat kita sama mereka semua, kita hanya para karyawan bawahan sedangkan mereka adalah kalangan elit yang berprofesi sebagai dokter, dari kulit aja udah beda banget putih mulusnya, " ucap Bunga tersenyum kecut.
__ADS_1
"Iya kamu emang bener Bunga, tapi kita gak boleh minder seperti itu, karena mungkin aja kehidupan kita lebih bahagia dari pada kehidupan mereka, semua itu gak bisa di nilai hanya dengan penglihatan, tapi aku rasa kamu itu gak kalah cantik lo sama mereka semua, bahkan kalau kamu gabung sama mereka, aku yakin kamu sama levelnya dengan mereka. "Sindy berkata dengan jujur, ya karena memang Bunga terlihat sangat berkelas walaupun tanpa menggunakan barang baranded sekalipun.
" Yea, kamu gak usah sok menghibur aku dong Sin, aku juga gak perlu kamu puji seperti itu, "ujar Bunga tersenyum malu.
" Hei siapa juga yang menghibur, orang memang kenyataannya begitu kok, makanya kamu tuh harus cari jodoh yang kaya, agar kehidupan kamu bisa sama seperti mereka semua, manfaatkan kecantikan kamu itu Bunga, aku yakin banyak cowok tajir melintir yang mau sama kamu. "
"Masak sih....? " tanya Bunga menatap tidak yakin.
"Ih, aku serius lo, pokoknya ikutin omongan aku, kalau kamu mau merubah nasib Bunga, nanti aku juga bakal sama kok kayak kamu, kita berdua akan menjadi istri dari orang kaya,"ucap Sindy merangkul bahu Bunga.
Setelah itu mereka berdua tertawa bersama, hingga tak lama kemudian, Bunga samar samar mendengar pembicaraan mbak Sofi bersama para teman temannya, terutama kepada wanita yang bernama Riana.
"Riana, kamu itu beruntung banget lo bisa mendapatkan pria sebaik mas Dion, udah tampan, mapan , kaya punya titel dan karir yang bagus lagi, aku rasa hidup kamu itu sudah sangat sempurna lo Riana." puji mbak Sofi tersenyum kepada Riana.
"Oh, ya jelas dong, lagian mas Dion itu cinta mati sama aku, jadi dia itu akan selalu nurut dengan apa yang aku katakan, aku juga bangga punya suami seperti dia, benar benar sempurna, " jawab Riana membanggakan dirinya, membuat seorang wanita yang berada tak jauh dari mereka merasa sangat terkejut.
Otak Bunga langsung ngebleng dan tak bisa berpikir dengan jernih, apakah benar kalau mereka adalah orang yang sama, tapi bagaimana mungkin bisa.
Tak lama kemudian Bunga di kejutkan oleh sentuhan yang dilakukan Sindy kepada dirinya.
"Bunga, ayo semangat, waktunya kita untuk bekerja, kita harus menberikan kenyamanan dan kepuasan kepada para pelanggan mbak Sofi, ayo, " ajak Sindy menarik tangan Bunga.
Bunga mengikuti langkah kaki Sindy yang berjalan mendekati wanita bernama Riana, sungguh hati Bunga serasa sesak sekaligus takut, jangan sampai apa yang dia tebak benar adanya.
__ADS_1
"Bunga, tolong kamu berikan pelayanan kepada teman mbak ini ya, oya kenalkan dulu, wanita cantik ini namanya Riana, dia adalah teman kus sekaligus pelanggan setiaku. "
Mbak Sofi memperkenalkan Riana kepada Bunga, dengan perlahan Bunga pun mengulurkan sebelah tangannya ke depan tatapan Riana.
Riana yang melihat uluran tangan Bunga pun langsung membuang wajahnya dan berlalu pergi menuju ke kursi tempatnya duduk.
"Tidak perlu berkenalan, karena itu tidaklah penting, sekarang ayo cepat lakukan tugas mu, aku rasanya sudah sangat lelah, " ucap Riana cuek sambil duduk ke kursi yang sudah disediakan.
Dengan tersenyum kecut Bunga menarik kembali uluran tangannya yang di abaikan begitu saja dengan Riana.
Mbak Sofi yang melihat kejadian tersebut pun merasa iba dengan Bunga, tapi lagi lagi dia tidak berani membela karyawannya sendiri.
"Bunga maaf ya,Riana memang orangnya seperti itu, tapi sebenarnya dia baik kok, sekarang kamu kerja dengan baik ya, jangan sampai mengecewakan Riana," ucap mbak Sofi memberikan peringatan.
"Baik mbak, " jawab Bunga tersenyum masam.
Setelah itu dia pun mulai memegang kepala Riana sambil berdoa di dalam hatinya.
"Semoga semuanya akan baik baik saja, aku sangat takut jika bom waktu ini akan segera meledak, " gumam Bunga di dalam hatinya.
Setelah itu dia pun mulai memberikan pelayanan kepada Riana, dengan mulut Riana yang tak berhenti untuk mengatur dirinya melakukan ini dan juga itu.
Bunga benar-benar harus bersikap ekstra sabar, karena Riana terlalu berlebihan dalam menilai pekerjaan yang dia lakukan saat ini.
__ADS_1
"Yang bener ya, aku capek banget soalnya, tenang saja nanti aku akan memberikan mu tips yang banyak. " ujar Riana bersikap sombong kepada Bunga....
"