
Kini bu Laras sudah berjalan menuju pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih bercampur kesal karena putrinya telah dihina habis habisan oleh ibu-ibu yang ada di dalam warung, dan perasaan kesal ibu Laras semakin menjadiketika dirinya tidak bisa membela putrinya sendiri, karena apa yang dikatakan oleh para ibu ibu itu memang benar adanya. Jujur saja sebenarnya ibu Laras merasa berat hati memberikan restu kepada Dion, dia menyadari jika apa yang dilakukan oleh putrinya adalah perbuatan yang sahabat besar.
Tapi ketika ibu Laras melihat ketulusan yang tampak di kedua mata pria itu, entah mengapa Ibu Laras menjadi tersentuh, di dalam hatinya dia mengakui akan ketulusan serta cinta yang diberikan pria itu terhadap putrinya.
"Aku harus kuat, karena aku juga sudah mendukung putriku! Jadi apapun yang mereka katakan aku harus bisa terima," gumam ibu Laras di dalam hati, hingga kini dirinya sudah tiba di depan teras rumah.
Dan ketika ibu Laras akan segera membuka pintu rumah, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kehadiran suaminya yang menatap dirinya dengan tajam.
"Apa yang sebenarnya yang telah putrimu lakukan! Ayo jawab pertanyaanku?" tanya ayahnya Bunga.
"Apa maksudmu pertanyaanmu ini Pak?" tanya ibu Laras kembali.
"Jangan berpura-pura bodoh, karena aku sudah mendengar semuanya, ketika aku duduk di warung kopi depan katanya Putri kita diantar pulang oleh seorang pria yang menggunakan mobil sangat mahal, apakah itu benar?" tanya Bapak Bunga mencoba memastikan.
Melihat ibu Laras yang hanya diam Bapak Bunga menjadi tertawa.
"Hahaha…..! Kenapa kau diam saja, aku rasa itu adalah sebuah jawaban kalau gosip itu benar adanya, bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku Laras kalau Putri kita telah memiliki seorang kekasih dari kalangan orang kaya. Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku Laras! Agar aku dapat berkenalan dengan pria kaya itu," kata bapak Bunga tersenyum penuh arti.
"Oh ya! Apakah kue mahal dan enak yang ada di dalam pendingin itu adalah kekasih Bunga juga yang membelikannya? Lihatlah Laras, tingkat kue saja dia memberikan kita harga yang terbaik, aa lagi untuk yang lainnya, aku sangat setuju kalau Bunga segera menikah dengan pria kaya itu," bapak Bunga tampak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Mengetahui niat pembicaraan dari suaminya, Ibu Laras pun menjadi geram. Bisa-bisanya suaminya itu memikirkan tentang hal kemewahan, dia memang matre, jadi walaupun suatu saat dia mengetahui kalau kekasih Bunga adalah seorang pria beristri, maka hal itu tidak akan menjadi masalah untuknya, karena yang hanya dia pedulikan adalah uang dan juga kemewahan.
"Cukup Pak….! Kita jangan ikut campur urusan anak kita, biarkan dia menjalani hubungannya sendiri dan bapak tidak boleh memanfatkan kebaikan Dion,"
"Kenapa tidak boleh ikut campur! Kita adalah orang tuanya jadi kita berhak ikut campur untuk pendamping yang akan mendampinginya kelak, karena aku yang akan menikahkan dia, lagian tidak ada salahnya kalau kita meminta sesuatu kepadanya,lagian dia itu orang kaya, tentu tak akan sulit untuk memberikan apa yang aku minta kepadanya,"
"Apa maksudmu Pak! Jangan membuat malu Bunga, kasihan dia, apakah kau tidak memikirkan perasaan putrimu itu?" tanya ibu Laras merasa sedih.
"Kenapa harus malu, toh aku kan tidak membuat kejahatan ,lagian aku meminta kepada Kekasih putriku sendiri, jadi kau tidak perlu malu buk, lagian tanpa restu dariku mereka tidak akan bisa menikah, jadi sudah sepantasnya jika pria kaya itu lebih berusaha untuk mengistimewakanku," ucap Bapak Bunga penuh percaya diri.
Ibu Laras menjadi meradang mendengar perkataan suaminya, bagaimana mungkin ada seorang bapak yang mempunyai pikiran seperti itu terhadap putrinya, setelah itu dia pun masuk ke dalam rumah. Bu Laras akan segera memasak dan setelah itu dia akan pergi bekerja.
__ADS_1
****
Sedangkan di rumah mewah milik Dion pria itu baru saja membuka kedua matanya dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat penampilan tubuhnya yang tidak memakai sehelai benangpun, hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya agar tidak kedinginan, Dion langsung duduk di atas kursi sambil memasang wajah panik dan juga kesal.
"Sial…..! Apa yang aku lakukan, bagaimana bisa aku kecolongan hingga aku tidur dengan Riana. Bagaimana kalau dia hamil, itu artinya aku tidak akan bisa menceraikan dirinya," ucap Dion merasa frustasi.
Masih ingat jelas di benaknya tentang kejadian panas tadi malam, dia merasakan tubuhnya seperti sudah meminum sebuah minuman obat perangsang dan tentu saja dia mengetahui siapa pelaku dari kejadian itu, dan ternyata istrinya Riana lah yang telah melakukan hal itu kepadanya.
"Riana kau benar-benar sudah gila! Bagaimana mungkin kau menjebakku agar aku bisa memberikan anak untukmu, walaupun suatu saat kamu hamil kembali, aku tetap tidak akan merubah keputusanku untuk bercerai denganmu, kita lihat saja apa yang akan aku lakukan," kemudian Dion beranjak sambil memakai kembali pakaian miliknya yang sudah berserak di atas lantai.
Riana tersenyum mendengar perkataan Dion, sedari tadi dia sudah berdiri di depan pintu ruangan kerja, terserah Dion mau mengatakan apa. Karena dia sudah menyusun rencana dengan sangat matang. Setelah itu Riana melihat Dion yang bangkit dari tidurnya, pria tampan itu berjalan melewati Riana yang berdiri sambil membawa nampan di tangannya.
Di setibanya di dalam kamar Dion merasa sangat marah kepada dirinya sendiri,karena dia tidak bisa mengendalikan gairah yang memang di pancing oleh Riana.
"Sekarang bagaimana kalau sampai Riana hamil, itu artinya rencanaku untuk menceraikannya akan gagal dan Bunga pasti merasa marah kepadaku," ucap Dion merasa frustasi.
Hingga tak lama kemudian terdengar suara handphone Dion yang berdiring keras,dengan cepat Dion pun langsung melihat panggilan siapa yang telah memanggilnya.
Setelah itu Dion pun mengangkat telepon dari papanya Itu.
"Halo Pa! Ada apa papa menelfon?" tanya Dion.
"Dion, papa ingin malam ini kau datang kerumah dengan membawa seluruh keluargamu untuk makan malam di rumah Papa, malam ini ingat jangan telat karena Papa sudah sangat rindu dengan cucu papa."
"Baik pa! Kebetulan ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada papa, jadi aku akan pergi ke sana nanti malam,"
"Memangnya yang penting apa yang ingin kau katakan kepada kami Dion?" tanya papa Dion merasa penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya saat ini, nanti saja setelah aku tiba di sana karena sekarang aku akan pergi bekerja terlebih dahulu."
"Baiklah, ohya bagaimana dengan klinik istrimu? Apakah dia sudah mulai membukanya?"
__ADS_1
"Soal itu nanti saja papa tanya langsung oleh Riana, aku juga tidak tahu soal klini itu," Kata Dion menjawab malas.
Hingga tak lama kemudian Dion telah mengakhiri telepon tersebut, dan dia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, beberapa menit kemudian Dion keluar dan segera berkemas memakai pakaiannya.
Kini Dion sudah selesai, dia beranjak keluar dari kamar untuk segera bertemu dengan Raka, Dion berjalan menuju ke meja makan,
Dan setibanya di meja makan, samarinda samar Dion mendengar perbincangan Raka bersama mamanya, anak itu tampak tertawa dengan bahagia sambil menyebutkan bahwa dia merasa senang karena akan segera mempunyai seorang adik.
"Yea…..! Terima kasih Mama karena mama akan memberikan aku seorang adik, aku sungguh bahagia karena mama memberikan aku adik yang cantik,"ucap Raka tertawa bahagia.
Mendengar perkataan Raka Dion pun merasa kesal dan dia langsung berjalan cepat sambil menarik tangan Riana.
"Ada apa mas! Kenapa kamu menarik tanganku seperti ini?"
Sambil berbisik Dion pun berkata kepada Riana.
"Apa yang kau ucapkan kepada Putraku! Kenapa kau mengatakan bahwa kau akan memberikannya seorang adik, Apakah kau lupa kalau aku telah mengajakmu untuk segera berpisah?" tanya Dion menatap wajah Riana tajam.
"Memangnya siapa yang ingin berpisah aku tidak pernah menyetujuinya dan aku tidak akan membiarkan kau menceraikanku Mas," jawab Riana tak kalah menatap tajam.
"Cukup Riana! Aku sudah bosan berdebat tentang hal ini kepadamu, keputusanku sudah bulat kalau kita akan segera berpisah."
"Bagaimana kalau aku hami! l Tadi malam kau telah melakukannya dengan sangat ganas aku yakin dua minggu lagi aku pasti akan dinyatakan hamil."
"Apa maksudmu Riana?" tanya Dion mencengkeram lengannya bertambah kuat dan dia mendekatkan wajahnya sambil menatap mata Riana tajam.
"Kita lihat satu bulan ke depan, kalau aku hamil maka kau tidak boleh menceraikanku," jawab Riana menantang Dion.
Setelah itu dengan terpaksa Dion pun melepaskan cengkraman tangannya dan dia langsung mengajak Raka untuk segera pergi ke sekolah.
Entahlah apa yang harus dia lakukan saat ini, hanya satu keinginan Dion agar dirinya bisa berjodoh dengan wanita yang dicintai, jujur dia juga tidak tega memberikan posisi hina kepada Bunga dan dia ingin mengangkat derajat Bunga menjadi istrinya satu-satunya.
__ADS_1