Bukan Niatku Merebut Suamimu

Bukan Niatku Merebut Suamimu
Perdebatan di rumah Bunga


__ADS_3

"Ibu kenapa?" tanya Bunga yang merasa terkejut ketika dia melihat kearah ibunya.


Bunga baru saja keluar dari kamar setelah berpakaian rapi, penampilannya saat ini sudah terlihat segar tidak seperti tadi pagi, dan kini Bunga telah menampakkan kakinya di dapur, dan tak lama Bunga dikejutkan oleh suara tangisan ibunya yang terdengar menyayat hati sambil terus memasak menghadap kearah meja dapur.Melihat pandangan itu Bunga pun langsung berlari kearah ibu Laras.


"Ibu…! Ada apa dengan ibu? Kenapa ibu menangis? Apakah ibu ada masalah?" tanya Bunga merasa khawatir, dia menyentuh punggung ibunya dari arah samping.


"Tidak apa-apa, ibu tidak menangis Bunga," jawab ibu Laras tanpa melihat kearah Bunga,


"Tidak..! Ibu berbohong kepadaku, ibi sedang menangis saat ini, sekarang ayo katakan, siapa yang telah membuat Ibu sedih seperti ini? Apakah bapak yang sudah menyakiti ibu?" tanya Bunga kepada ibunya kembali.


Mendengar pertanyaan Bunga, Ibu Laras pun langsung membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah wanita itu, dia berbalik arah sambil melihat Bunga tajam. Sungguh hatinya saat ini benar-benar merasa sakit, tapi apa mau dikata Bunga tetaplah putrinya yang telah dia lahirkan dari rahimnya sendiri.


"Apakah kau mau tahu kenapa ibu bisa menangis seperti ini?" tanya Ibu Laras kembali meneteskan air mata dengan memasang wajah memerah.


Bunga langsung tercetak ketika melihat kemarahan ibunya dan juga air mata yang diteteskan oleh ibunya, dia mundur melangkah kebelakang sambil berpegangan dengan rak piring yang berada di sampingnya.


"Ibu…! Kenapa ibu jadi begini! Apakah Bunga telah melakukan kesalahan?" tanya Bunga merasa bingung.


Dan tentu saja pertanyaan itu membuat Ibu Laras menjadi meradang, emosinya memuncak dan dia tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi.


"Kenapa kau mesti bertanya Bunga! Apakah kau tidak sadar juga kalau kau sudah menaruh kotoran di wajah ibumu ini, aku sungguh sangat malu Bunga, aku bahkan tidak bisa membelamu di depan semua orang yang telah menuduhmu sebagai wanita gampangan, lalu aku harus apa Bunga! Coba katakan kepada ibumu ini!" teriak ibu Laras sambil mencengkram kedua lengan Bunga erat.


Mendengar kemarahan ibunya itu Bunga pun merasa sangat sedih sekaligus takut, dia juga merasa sakit akibat cengkraman ibunya yang terasa kuat di kedua lengan tangannya.

__ADS_1


"Ibu tolong lepaskan aku bu, ini sangat sakit bu,"


"Sakit kau bilang! Lalu bagaimana dengan ibumu ini Bunga, aku bahkan lebih sakit ketika melihat mereka menghinamu mereka mencacimu dan mereka menggosipimu, kau tahu bagaimana hancurnya hatiku ini Bunga! Apakah kau bisa membayangkan betapa hancurnya menjadi aku," ucap ibu Lara yang luruh kedalam pelukan Bunga.


Sungguh melihat hal itu Bunga pun menjadi sangat sedih, dia tidak pernah menyangka kalau dibalik persetujuan ibunya ternyata wanita itu menyimpan rasa sakit tersendiri.


"Maafkan aku ibu,maaf karena aku sudah melakukan sesuatu hal yang sangat bodoh, aku telah menyakitimu Ibu," ucap Bunga merasa sedih.


Hingga tak lama kemudian terdengar suara seorang pria paruhbaya yang tak lain adalah bapaknya Bunga sendiri.


"Kenapa kau harus bersedih begitu Bunga? Menurut bapak kau tidak salah, Jadi kau tidak usah meminta maaf kepada ibumu itu," ucap Bapak Bunga yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.


"Bapak…! Sejak kapan Bapak berada di sini?" tanya Bunga terkejut.


"Tentu saja sejak tadi Bapak sudah berada di sini untuk mendengar pembicaraan kalian berdua, dan Bapak mengetahui apa yang sedang kalian bicarakan, kau tidak usah mendengarkan ucapan Ibumu itu, karena kau tidak bersalah, tetaplah menjalin hubungan dengan pria itu kalau bisa mintalah kepadanya agar kau menjadi istrinya yang kedua," ujar bapak Bunga membuat Bunga merasa terkejut.


"Tentu saja aku tahu, apakah kau kira aku tidak mengetahuinya! Aku adalah bapakmu jadi sudah sepantasnya aku mengetahui apa yang sedang putriku lakukan."


Mendengar jawaban bapaknya Bunga pun menegang, tiba-tiba saja tubuhnya mengeluarkan keringat dingin dan jantungnya berdetak hebat, sekarang kedua orang tuanya telah berbeda jalan dan itu semua akibat karena ulahnya. Bunga sangat tahu kalau bapaknya adalah seorang pria yang matre, jadi tentu saja pria itu akan selalu mendukungnya karena pria itu memikirkan tentang materi.


Sedangkan ibu Laras, wanita itu adalah wanita yang sangat baik, dia juga rapuh dan sangat lemah, Bunga tahu jika saat merestui keinginan Dion, sebenarnya di dalam hatinya dia menyimpan perasaan tidak setuju, namun Ibu Laras tidak berani untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya itu.


"Sekarang cepat ganti bajumu dan ajaklah pria itu untuk menghabiskan waktu bersamamu, ohya apakah kau sudah memiliki banyak uang dari pria itu? Bapak yakin pasti dia sudah memberikanmu sesuatu bukan?" tanya bapak Bunga yang bernama Pak Johan.

__ADS_1


" Pak…! Aku mohon Bapak jangan ikut campur dengan urusanku ini,karena aku tidak ingin dicap matre oleh Mas Dion."


"Hahaha…..! Jangan munafik Bunga, aku adalah Bapakmu jadi aku tahu apa yang ada di pikiranmu itu kau sengaja bukan menerima pria beristri itu karena kau sudah bosan dengan hidupmu yang miskin ini. Bapak pun sama Bunga,bapak ingin sekali mempunyai menantu yang kaya raya, Bapak yakin pasti dia sudah memberikan banyak uang kepadamukan?" tanya bapak Bunga tertawa lucu.


Bunga masih terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa, hingga tak lama kemudian ibu Laras pun menatap Bunga dengan tajam.


"Putuskan hubunganmu dengannya sebelum semuanya terlambat! Bagaimana kalau di daerah ini ternyata ada orang yang mengenali pria itu, Ibu yakin pasti semuanya akan hancur berantakan, kau akan dicap sebagai seorang perebut suami orang Bunga," kata ibu Laras memancarkan wajah sedih, dia bahkan memegang tangan Bunga dan mencoba menjelaskan kepada Bunga dengan cara yang lembut.


"Tapi aku mencintainya Bu, aku juga sudah menyerahkan seluruh hidupku kepadanya, lalu bagaimana mungkin aku melepaskannya begitu saja Bu,"


"Itu bukan cinta Bunga, itu hanyalah sebuah keegoisan, kau tidak berhak mencintai pria itu, karena pria itu adalah pria beristri, Lebih baik kau sudahi saja hubunganmu dengannya dan carilah pria yang masih lajang dan juga mapan. Kalau kau mau lebih baik kau terima saja tawaran perjodohan dengan Putra majikan ibu," ucap Ibu Laras kepada Bunga.


"Tidak ibu, semua tidak sesederhana itu, aku telah jatuh ke dalam pelukannya dengan dalam, jadi berat untukku melepaskan dirinya begitu saja, aku mohon berikan aku waktu Bu! Jangan paksa aku, "


"Berapa lama kau membutuhkan waktu Bunga, apakah kau tidak memikirkan bagaimana nasibmu kedepannya! Apakah kau yakin kalau pria itu akan meninggalkan istrinya dan lebih memilihmu, ingat Bunga istrinya itu lebih dari segalanya daripada kamu, kamu itu hanya seorang anak dari orang miskin sedangkan istrinya dia adalah wanita yang sempurna, bukan hanya cantik tapi materinya juga sangat tercukupi, apakah kau yakin bisa bersaing dengannya?" tanya ibu Laras menatap tajam.


"Aku tidak tahu bu! Tapi aku mohon berikan aku sedikit waktu untuk berpikir," Bunga pun langsung beranjak pergi dari dapur itu, dia kembali masuk kedalam kamarnya dan berencana akan menenangkan dirinya.


"Kenapa tidak ada yang mendukungku! Apakah salah jika aku mencintai seorang pria yang sudah menjadi suami orang! Jujur aku juga tidak mau, tapi cinta ini datang begitu saja dan membuatku merasa terikat dengan semuanya, sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh bingung," ujar Bunga sambil menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.


****


Sedangkan di rumah Dion saat ini Riana sudah menyusun rencana, dia akan bertemu kembali dengan seluruh keluarga dari suaminya untuk mengungkapkan tentang kejahatan Dion.

__ADS_1


"Aku harus memberitahu keluarga Mas Dion agar mereka mau mendukungku, dengan begitu Mas Dion tidak bisa menceraikan aku sesuka hatinya! Apapun yang terjadi kami tidak boleh bercerai," ucap Riana sambil beranjak menuju ke kamar.


Beberapa jam kemudian Riana telah siap dengan penampilannya, hari ini dia mengambil cuti kembali, rasanya dia sudah sangat malas untuk bekerja karena kebetulan klinik yang telah dia buka tanpak ramai oleh pasien yang hendak berobat, setelah itu Riana pun berjalan keluar menuju masuk ke dalam mobilnya, dia menancap gas untuk pergi ke rumah keluarga Dion.


__ADS_2