
Dion berjalan keluar dari ruangan gudang itu, dan setibanya di depan pintu dia hampir saja menabrak tubuh seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Mengetahui hal itu, Dion pun langsung mengangkat wajahnya guna menatap tajam kearah Riana. Kedua mata Dion menyilaukan kemarahan yang tampak berkobar. Dia sungguh membenci wanita yang ada di depannya saat ini, karena wanita itu sudah berani mengganggu Bunga tanpa sepengetahuan dirinya.
Melihat tatapan Dion yang tampak mengerikan, Riana mencoba tersenyum. Dia berpura-pura tidak takut dan bersikap pura pura bodoh.
"Kau ngapain berada di ruangan ini Mas? Apakah kau kesasar?" tanya Riana.
"Jangan berpura pura wanita ular. Aku sudah tahu apa yang kau lakukan kepada Bunga tepatnya sembilan bulan yang lalu. Sungguh kau adalah manusia paling rendah Riana!" maki Dion membuat Riana merasa terkejut.
"Kenapa kau berkata seperti itu kepadaku? Memangnya apa yang aku lakukan?"
Mendengar pertanyaan Riana, Dion kembali meradang, dia pun langsung mencengkram lengan tangan Riana menggunakan tangan kirinya. Riana tampak meringis kesakitan, bisa bisanya Dion bersikap kasar kepada dia yang sedang mengandung putri dari pria itu.
"Lepaskan Dion! Kau sudah menyakitiku!" rintih Riana merasa kesakitan.
"Ini balasan untuk wanita licik sepertimu. Sekarang juga aku akan menceraikanmu Riana! Aku tidak perduli kau masih hamil atau tidak, tapi yang terpenting kau sudah bukan istriku lagi."
__ADS_1
Jeduaarr....
Jantung Riana seakan mau copot dari tempatnya, apakah dia bermimpi? Bagaimana mungkin suaminya menceraikan dirinya setelah dia bersusah payah mencari cara agar rumah tangganya bersama Dion dapat bertahan selamanya.
Bahkan dia telah menyingkirkan Bunga dan seluruh keluarganya dari kampung yang menjadi tempat tinggal mereka, Riana sudah mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk menghasut para penduduk kampung agar mau berpihak kepadanya dan mengolok ngolok serta mencaci maki wanita pelakor itu.
Lalu bagaimana mungkin sekarang setelah wanita itu pergi dari kehidupan suaminya, tapi tetap saja Dion menceraikan dirinya. Sungguh hati Riana merasa sakit, dia tidak bisa menerima keputusan yang sudah dibuat oleh Dion.
"Tidak! Aku tidak mau bercerai! Kau tidak bisa melakukan hal itu Mas Dion!" teriak Riana histeris.
"Keputusanku sudah bulat Riana. Jangan kau pikir tanpa Bunga di sisisku aku akan tetap mempertahankanmu? Apakah kau lupa satu hal, kalau sebelum Bunga masuk kedalam kehidupan rumah tangga kita, Semuanya memang sudah berbeda, aku memang tidak pernah mencintaimu dan aku sangat muak kepadamu. Jadi sekarang Terima kenyataan ini, Aku bisa mengurus kedua buah hatiku sendiri." jelas Dion langsung melepaskan Cengkraman tangannya di lengan Riana.
"Akhhhgggrr...... Mas Dion. Sepertinya aku akan melahirkan!" teriak Riana histeris.
Dion yang awalnya hendak pergi meninggalkan Riana langsung berbalik dan menyentuh tubuh Riana., wanita itu sepertinya akan segera melahirkan. Dengan cepat Dion menggendong tubuh Riana dan membawanya kerumah sakit.
"Tahan Riana! Aku akan membawamu." ucap Dion tak kalah panik.
__ADS_1
Sedangkan di sebuah mobil, saat ini Bunga sudah merasa lebih tenang, di dalam hatinya dia bersyukur karena Tuhan masih mengizinkan dia untuk keluar dari perbuatan dosa yang pernah dia perbuat.
Sungguh Bunga merasa sangat menyesal, tidak ada kebaikan yang dia dapatkan dari apa yang dia rampas dari pria yang bukan menjadi haknya. hanya ada ketidak tenangan dan juga rasa bersalah yang selalu menghantui dirinya.
Bunga sungguh sudah bertobat, dan dia merasa bersyukur karena ada seorang pria yang masih mau menerima masa lalu kelamnya. Begitu juga dengan keluarga dari suaminya yang mau menyanbut kedatangan Bunga agar bersedia menjadi istri dari putra mereka.
Erwin yang melihat senyuman tipis dari bibir Bunga pun ikut merasa senang. Dan dia langsung mengecup tangan Bunga yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Lupakan masa lalu, dan ambil hikmahnya, sekarang kita akan memulai kehidupan yang lebih baik lagi, Kita sama sama makhluk pendosa, jadi sudah tiba untuk kita agar memperbaiki diri menjadi yang lebih baik lagi." ucap Erwin menatap wajah Bunga.
"Terimakasih Mas! Kau adalah pangeran yang diberikan Tuhan untukku, aku sungguh sangat mencintaimu,"
"Aku juga Sayang, aku sangat mencintaimu istriku."
Bunga tersenyum sambil menyenderkan kepalanya di bahu milik suaminya, rasanya sangat nyaman dan memenangkan, sungguh tidak ada tempat ternyaman selain di bahu pria halal yang kita miliki.
"Satu hal yang aku tahu, Bahwa menjadi seorang pelakor bukanlah suatu perbuatan yang baik, selain di benci Tuhan kita juga tidak akan pernah bisa mendapatkan ketenangan di dalam hubungan tersebut,"
__ADS_1
Hallo kak, mampir ke novel aku lagi yuk kak, bantu dukungannya ya kak, di jamin seru banget ceritanya, makasih kak🙏